NasDem Ajak Petani Indonesia Galakkan Budidaya Kedelai

  • Bagikan
bulog
Kedelai/Net
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Kabupaten Sukabumi, Ayep Zaki, mengajak petani Indonesia menggalakkan budidaya kedelai menyusul harga tahu dan tempe diprediksi akan naik karena melonjaknya harga kedelai internasional.

“Ini harus menjadi momentum bagi petani Indonesia untuk menggalakkan budidaya kedelai. Resiko sebagai negara pengimpor kedelai, Indonesia akan terus bergantung dengan negara pengekspor kedelai. Apabila terjadi perlambatan ekonomi di negara tersebut yang disebabkan berbagai hal, secara otomatis akan berdampak pula pada negara pengimpor,” kata Ayep Zaki dalam keterangannya, Sabtu (12/2).

Pernyataan Ayep Zaki tersebut menanggapi pernyataan Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jendral Perdagangan Dalam Negeri dalam konferensi pers virtual, Jumat (11/2) yang menyatakan, dalam beberapa bulan ke depan, harga tahu dan tempe diprediksi akan melambung tinggi. Kenaikan harga ini dipicu naiknya harga kedelai di Amerika.

Sebagai pelaku pertanian yang secara terus menerus menggeluti dunia pertanian sejak tahun 2005 sampai sekarang, Ayep Zaki menyatakan, urusan pangan sebaiknya semaksimal mungkin Indonesia harus mampu memproduksinya sendiri.

Ayep Zaki menegaskan, dengan impor kedelai yang mencapai 80 persen lebih, untuk kebutuhan nasional setiap tahunnya, Indonesia menjadi sangat tergantung dengan negara pengekspor.

“Kebutuhan akan kedelai dari impor seharusnya bisa ditekan, bila budidaya kedelai mendapat dukungan dari semua pihak. Mulai dari off tacker (penjamin), pemerintah, dunia perbankan hingga petani,” kata Ayep Zaki.

Berdasarkan data dan pengalaman yang sudah dilakukannya, Ayep Zaki memaparkan, uji coba langsung di lahan setelah panen padi, baik di musim tanam ke dua atau ke tiga, sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) budidaya kedelai bisa menghasilkan 1,7-1,8 ton per hektar. Dengan asumsi biaya per hektarnya berkisar delapan juta rupiah.

“Ini sudah saya lakukan di beberapa tempat. Jika rata-rata per hektar mencapai hasil 1,8 ton dan apabila harga per kilo 10 ribu rupiah maka hasilnya bisa mencapai 18 juta per hektar,” katanya.

Hasil produksi petani tersebut masih akan dipilah untuk memisahkan kedelai berukuran besar, sedang dan kecil. Pemilahan tersebut bisa memakan hingga 15 persen hasil produksi. Tujuan pemilahan tersebut karena hanya kedelai berukuran besar saja yang bisa diterima pasar.

Pemilik Rumah Tempe Azaki yang belum lama lalu melakukan ekspor ke Jepang ini juga menuturkan, tahun 2022 ini dirinya tengah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian, Direktorat Akabi (Aneka Kacang dan Umbi) untuk program budidaya kedelai mandiri dengan sistem TOT seluas 25 ribu hektar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Insya Allah bulan April nanti kami akan melakukan penanaman perdana. Di bawah pengawasan saya dan tim, budidaya kedelai mandiri ini ditargetkan mencapai 1,8 ton per hektarnya,” terang Ayep Zaki.

Untuk keberhasilan budidaya kedelai, tambah Ayep Zaki, instrumen pemerintah sebagai pemegang regulasi sesungguhnya sudah mendukung. Hanya saja di instrumen perbankan yang kadang kala masih banyak pertimbangan.

“Jika perbankan diminta untuk memilih pembiayaan budidaya kedelai mandiri dengan membiayai Usaha Kecil Menengan (UKM) di bidang lainnya, perbankan tentu akan lebih memilih UKM tersebut. Nah, ini memang perlu sinergi antara bank selaku regulator pembiayaan. Karena mau tidak mau bank memang harus terlibat dalam hal ini,” paparnya.

Ia juga menegaskan, budidaya kedelai mandiri ini harus direspon positif. Karena menurutnya, budidaya kedelai mandiri adalah jalan keluar urusan kedelai nasional.

“Indonesia melalui Balai Benih Kementerian Pertanian, sudah bisa membuat varietas unggul baru (vub) bibit kedelai sampai 3,5 ton per hektar, berupa biosoy 2 dengan teknologi pupuk batubara. Tapi kita harus memulai dengan sistem TOT karena sistem TOT adalah cara yang paling efektif dalam budidaya kedelai,” kata Ayep Zaki.[prs]

  • Bagikan