Wapres Ungkap Masyarakat Salah Artikan Wisata Halal

  • Bagikan
wapres
Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin (ist/net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin merasa jika sebagian masyarakat salah persepsi mengartikan wisata halal. Hal ini membuat industri pariwisata halal masih sulit berkembang di Indonesia.

“Jadi masih ada persepsi keliru, ada paham bahwa tempat wisata itu harus di-syariah-kan,” kata Ma’ruf dalam Diskusi Transmedia Institute, Kamis (2/12).

Ma’ruf mengatakan sebagian masyarakat menganggap wisata halal artinya semua yang masuk harus menggunakan kerudung atau berbusana muslim. Padahal, itu semua salah.

“Yang perlu diluruskan, bukan wisata syariah itu harus kerudung, bukan. Lalu pakai tutup muka, bukan,” terang Ma’ruf.

Wisata halal, kata Ma’ruf, artinya pengelola harus menyediakan pelayanan sesuai dengan kebiasaan umat muslim. Sebagai contoh, menyediakan makanan halal di restoran dan hotel.

“Lalu tempat ibadah, spa halal. Jadi sebenarnya pelayanan halal, bukan ubah ke tempat wisata menjadi syariah semua gitu,” jelas Ma’ruf.

Untuk itu, ia meminta kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno untuk memberikan sosialisasi kepada pemerintah daerah (pemda) mengenai pengertian wisata hal yang sesungguhnya. Dengan demikian, perkembangan wisata halal bisa semakin pesat di dalam negeri.

Lebih lanjut, ia mengatakan pemerintah juga sedang mengembangkan kawasan industri halal (KIH). Sejauh ini, sudah ada 3 KIH di Indonesia.

Tiga KIH yang dimaksud adalah Halal Modern Valley di Serang, Halal Industrial Park di Sidoarjo, dan Bintan Inti Halal Hub.

“11 KIH lain sedang disiapkan,” imbuh Ma’ruf.

Ia menambahkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan skema insentif untuk perusahaan yang berada di kawasan industri halal. Namun, Ma’ruf tak menyebut rinci opsi-opsi insentif yang akan diberikan kepada dunia usaha.

“Pemerintah kembangkan skema insentif untuk pengembangan kawasan industri halal,” pungkas Ma’ruf.[prs]

  • Bagikan