Harga Pupuk Melonjak Edan Edanan, Anggota Dewan Panggil OPD

  • Bagikan
Harga Pupuk Melonjak Edan Edanan, Anggota Dewan Panggil OPD
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Para petani di Kendal mengeluhkan tingginya harga pupuk bersubsidi. Bahkan untuk pupuk jenis urea, harga di pengecer melonjak dua kali lipat dari Harga Eceran Tertinggi (HET).

Situasi ini, mengundang keprihatinan wakil rakyat yang duduk di DPRD Kendal. Ketua Komisi B, Dian Alfat, mengaku akan segera melakukan kroscek ke mitranya di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan para pihak terkait. Dalam hal ini Dinas Perdagangan, Pertanian, dan distributor pupuk.

“Kami akan segera memanggil OPD terkait untuk meminta penjelasan terkait kenaikan harga pupuk subsidi yang dikeluhkan petani. Bagaimana itu bisa terjadi dan titik permasalahannya di mana,” ungkap politis muda PKB, Minggu (21/11).

Terkait kuota pupuk, pihaknya menghimbau kepada petani untuk berkordinasi dengan gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan penyuluh pertanian yang ada di wilayahnya.

“Saat ini sedang proses pendataan usulan kuota pupuk untuk dimasukkan dalam E-RDKK kebutuhan pupuk subsidi tahun 2022. Kami minta petani bisa proaktif dengan berkordinasi dengan Gapoktan dan PPL,” ujarnya.

Sementara itu, KH Muhammad Idris Nor, petani di Desa Sukolilan, Kecamatan Patebon, mengatakan tingginya harga pupuk bersubsidi tingkat pengecer sudah di luar kewajaran.

Disebutkan, untuk pupuk jenis urea harganya melonjak mencapai Rp 190 ribu. Kenaikannya lebih dari 100 persen dari HET Rp 80 ribu. Kenaikan juga terjadi pada jenis Tsp 36, ZA dan Ponska.

“Bagaimana petani mau untung kalau harga pupuk dan obat-obatan melonjak gila-gilaan. Biaya tanam semakin tinggi, tapi saat panen harga gabah anjlog,” ungkap pengasuh pesantren Nurul Qur’an, yang juga bertani.

Pihaknya berharap pemerintah turun tangan untuk memecahkan kesulitan yang sedang dialami oleh para petani. Menurut tokoh kharismatik yang dikenal akrab dengan kelompok muda ini, petani tetap bertahan meski dalam kondisi terjepit karena memang tidak ada pilihan.

“Petani itu memang unik, biar hitung-hitungan tidak masuk, tetap saja masih menanam. Dengan harga pupuk yang sudah di luar nalar, petani terancam gagal panen,” katanya.(Din)

  • Bagikan