Microsoft Bakal Tutup LinkedIn di China

  • Bagikan
Microsoft Bakal Tutup LinkedIn di China
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Raksasa teknologi Microsoft mengatakan bakal tutup jejaring sosial profesional, LinkedIn di China imbas pengetatan kontrol bagi perusahaan teknologi di negeri tirai bambu itu.

Wakil Presiden Senior Teknik Microsoft, Mohak Shroff mengatakan sebagai gantinya perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu akan mengganti LinkedIn dengan aplikasi yang dibuat khusus untuk melamar pekerjaan.

“Kami menghadapi ekosistem operasi yang jauh lebih menantang, dan persyaratan kepatuhan yang lebih banyak di China,” kata Shroff dalam sebuah postingan blog, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/10).

Microsoft diketahui bakal “menenggelamkan” LinkedIn versi China dan meluncurkan aplikasi InJobs yang didedikasikan untuk para profesional agar dengan perusahaan yang mencari karyawan.

Menurut The Wall Street Journal, LinkedIn diberi tenggat waktu oleh regulator internet China untuk mengawasi konten di situs dengan lebih ketat.

Microsoft sebelumnya meluncurkan LinkedIn di China pada 2014. Lewat platform itu memungkinkan pengguna terhubung dengan ranah profesional, untuk menemukan peluang kerja. Selain sebagai tempat mencari pekerjaan, LinkedIn juga tempat untuk bertukar informasi perkembangan bisnis atau berita.

“Anda harus membayangkan bahwa di jejaring sosial bisnis, Anda akan melakukan percakapan tentang menyiasati peraturan atau mengeluh tentang peraturan,” kata analis teknologi independen Rob Enderle dari Engerle Group.

Perusahaan-perusahaan asing di China kerap berada di ujung garis aman isu-isu ketegangan politik, agar tidak menggangu pihak berwenang di negara asal dengan negara ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Analis mengatakan saat ini sulit untuk mengirimkan produk teknologi komunikasi di China, mengingat tingkat pengawasan yang diamanatkan oleh pemerintah di sana. China dikenal dengan “Tembok Api Besar” menakutkan yang menyensor konten dan aktivitas online.

“Saya tidak yakin itu akan berhasil. Semakin Anda membatasi informasi di era informasi, semakin banyak orang kreatif yang mencoba menemukannya,” ujar Enderle.

Enderle mengatakan adanya ketegangan politik yang sedang berlangsung antara AS dan China kemungkinan memperburuk situasi keberadaan LinkedIn di sana.

Eksekutif Huawei Meng Wanzhou dilaporkan kembali ke China bulan lalu, tak lama setelah dua warga Kanada yang dibebaskan dari penjara di China tiba di Calgary. Hal itu mengakhiri pertikaian diplomatik yang telah meracuni hubungan kedua negara selama tiga tahun.

Wanzhou dituding telah melanggar sanksi di AS, dan Huawei disebut sebagai ancaman keamanan dan berpotensi membangun jalur khusus ke peralatan telekomunikasi, untuk memata-matai AS. Namun demikian Huawei berulang kali membantah tuduhan tersebut.

“Dengan perlakuan AS terhadap Huawei dan China yang mencari cara untuk membalas, kejengkelan itu tidak membawa manfaat bagi kedua negara,” kata Enderle.

Sederet perusahaan teknologi sebelumnya juga hengkang dari China lantaran pelarangan operasi oleh pemerintah setempat. Di antaranya Facebook dan Twitter yang dilarang di China lebih dari satu dekade silam. Disusul Google yang hengkang pada 2010 sebagai tanggapan atas serangan peretasan dan sensor.

Namun situs jualan online raksasa Amazon dapat diakses di China, meski pasar di sana masih didominasi pemain lokal seperti Alibaba dan JD.com, seperti dikutip AFP.[prs]

  • Bagikan