Eks Pegawai Pentagon Sebut AS Tak Bisa Tandingi Teknologi AI China

  • Bagikan
Eks Pegawai Pentagon Sebut AS Tak Bisa Tandingi Teknologi AI China
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Mantan staf Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mengatakan negaranya tak akan bisa menandingi teknologi China dalam bidang kecerdasan buatan (AI).

Menurut penilaian intelijen Barat, China kemungkinan akan mendominasi banyak teknologi utama, seperti kecerdasan buatan, biologi sintetik, dan genetika dalam satu dekade atau lebih.

Mantan Kepala Perangkat Lunak Pentagon, Nicolas Chaillan, mengatakan kegagalan untuk merespons hal tersebut memposisikan AS dalam risiko yang berbahaya.

Chaillan sendiri memilih mundur dari jabatannya itu sebagai protes atas perubahan teknologi di AS yang berjalan lambat karena keengganan pemangku kepentingan di negaranya.

“Kita tidak punya peluang bersaing melawan China dalam waktu 15 hingga 20 tahun. Sekarang, sudah menjadi kesepakatan; menurut saya itu sudah berakhir,” kata Chaillan kepada Financial Times yang dikutip Reuters, Rabu (13/10).

“Apakah diperlukan perang atau tidak, itu menjadi semacam anekdot,” ujarnya lagi.

Chaillan melanjutkan, China disebut akan mendominasi masa depan dunia dan mengendalikan narasi seluruh media untuk urusan geopolitik.

Ia juga mengatakan teknologi yang muncul saat ini jauh lebih penting untuk masa depan Amerika, daripada perangkat keras seperti jet tempur generasi kelima seperti F-35 dengan pengeluaran anggaran yang besar.

Chaillan menyalahkan lambannya inovasi dan keengganan perusahaan-perusahaan seperti Google untuk bekerja sama dengan pemerintah di bidang kecerdasan buatan dan perdebatan etis atas teknologi.

Google sendiri tak segera menanggapi komentar mengenai hal tersebut.

Sementara sejumlah perusahaan di China, kata Chaillan, diwajibkan untuk bekerja sama dengan pemerintahannya dan menciptakan investasi besar-besaran dalam hal AI tanpa memerhatikan etika.

Dia menuturkan, pertahanan siber China dalam beberapa kementerian ada di tingkat rendah.

Chaillan mengumumkan pengunduran dirinya di awal September, sebagai protes atas lambatnya transformasi teknologi di militer AS. Ia juga mengatakan pasukan militer berulang kali ditugaskan untuk mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan siber, sementara mereka kurang berpengalaman.

Juru Bicara Departemen Angkatan Udara, mengatakan bahwa sekretaris Angkatan Udara AS, Frank Kendall, telah berdiskusi dengan Chaillan terkait rekomendasinya untuk pengembangan perangkat lunak departemen di masa depan. Kendall juga berterima kasih atas kontribusi Chaillan selama ini.[prs]

  • Bagikan
Loading...