Bareskrim Akui Banyak Laporan Soal Pinjol Ilegal Belum Terungkap

  • Bagikan
Bareskrim Akui Banyak Laporan Soal Pinjol Ilegal Belum Terungkap
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri mengungkapkan bahwa mayoritas laporan terkait pinjaman online (pinjol) ilegal ke kepolisian belum dapat terungkap sepanjang 2020 hingga 2021 saat ini.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Helmy Santika menjelaskan bahwa hal tersebut lantaran penanganan kasus pinjol ilegal harus dilakukan secara hati-hati.

Menurut dia, sistem kerja perusahaan secara digital dan fleksibel membuat penelusuran kepolisian menjadi terkendala. Belum lagi, kata dia, seringkali pinjol-pinjol yang sudah teridentifikasi dan didata oleh penyidik untuk diselidiki telah ditutup oleh Satgas Waspada Investasi (SWI).

“Sifatnya ini adalah IT, sifatnya adalah teknologi. Di mana akun-akun tadi sudah ditutup, maka ini perlu waktu untuk bisa kami coba explore satu per satu. Sehingga ini berpengaruh pada lambatnya pengungkapan. Tapi ini menjadi challenge tersendiri bagi kami untuk tetap bekerja,” kata Helmy kepada wartawan, Sabtu (16/10).

Helmy memaparkan, ada lebih dari 3 ribu akun pinjol ilegal yang telah ditutup oleh SWI. Selain itu, Ia menyebutkan bahwa kendali operasi Pinjol ilegal terkadang dapat dilakukan dari jauh. Sehingga, terkadang memerlukan waktu untuk dapat dijangkau oleh penyidik.

Menurut dia, selama proses penyelidikan seringkali menemukan para pelaku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bisa menghilangkan jejak.

“Sangat mudah bagi para pelaku untuk berpindah-pindah. Bahkan bisa di-remote dari tempat lain,” jelas dia.

Jenderal polisi berbintang satu ini mengungkapkan bahwa penyidik juga memandang kasus pinjaman online sebagai suatu perkara utuh yang tak hanya berperkara dalam proses pinjam-meminjam antar individu dengan kelompok.

Dia menjelaskan, dalam proses tersebut ada sejumlah pelanggaran-pelanggaran pidana lain yang dapat muncul sehingga memerlukan proses pendalaman yang rumit.

“Kami mem-framing pinjol secara utuh, mulai dari SMS blasting sampai dengan collection. Tidak parsial melihat pinjam meminjamnya saja,” ucapnya.

Merujuk data Bareskrim, sepanjang 2020-2021 ada 371 laporan yang diterima dari masyarakat terkait pinjol ilegal. Helmy memaparkan, baru 91 kasus yang berhasil diungkap oleh penyidik.

Dari keseluruhan itu, sudah ada 8 kasus yang dibawa ke persidangan. Sementara, sisanya masih dalam pengembangan penyidikan.

Namun demikian, Helmy tetap meminta kepada masyarakat agar aktif dalam membuat laporan kepada polisi apabila dihadapkan dengan pinjol ilegal yang melakukan teror hingga penistaan dalam penagihan utang.

“Ada yang tidak mau melapor karena dia takut karena sudah dicemari nama baiknya. Tapi kembali lagi, kalau tidak melapor kami tidak tahu bagaimana hubungan-hubungannya,” tandas dia.

Bareskrim saat ini telah membentuk tim khusus untuk dapat menangani kejahatan pinjol yang merebak di Indonesia saat ini. Timsus itu dibagi menjadi dua tim. Mereka nantinya bakal melakukan pencarian dan pendalaman informasi terkait dengan kasus tindak kejahatan pinjol tersebut.

Sebagai informasi, polisi gencar melakukan upaya penindakan hukum terhadap perusahaan pinjaman online (Pinjol) ilegal yang kerap meneror korban yang tak mampu membayar utang karena terlilit utang yang terlampau tinggi.

Sejumlah lokasi yang ada di sekitar kawasan DKI Jakarta hingga Yogyakarta digrebek polisi karena terindikasi merupakan tempat beroperasinya perusahaan pinjol ilegal dalam sepekan terakhir.[prs]

  • Bagikan