1

Pengamat : Jika Tuduhan soal Komunisme Menyusup di Tubuh TNI Tidak Terbukti, Maka Aparat Hukum Harus Menangkap Gatot Nurmantyo

Realitarakyat.com – Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menyatakan bukti komunis masih ada di Indonesia terkhusus di institusi TNI, dilihat dari hilangnya sejumlah barang di Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat (Jakpus). Pengamat militer dan intelejen Nuning Kertopati menilai harus ada pembuktian atas tuduhan itu.

“Menurut saya harus ada pembuktian atas tuduhan tersebut agar tak jadi fitnah bagi TNI. Adapun ada benda yang hilang tentu hal tersebut tak bisa begitu saja sebagai bukti adanya komunis di tubuh TNI,” kata Nuning, kepada wartawan, Sesala (28/9/2021).

Nuning menyarankan Gatot untuk melaporkan ke pihak yang berwajib jika menemukan adanya indikasi tersebut. Jangan sampai menurutnya info yang belum terbukti itu terus berkembang hingga menjadi sebuah kebenaran.

“Jadi apabila memang ada indikasi penyusupan atau bahkan penyebaran paham komunis di tubuh TNI silakan dilaporkan agar dapat diproses hukum, Begitu juga sebaliknya jika tidak benar alias fitnah maka Gatot harus siap – siap menghadapi proses hukum. Sebagai Mantan Panglima TNI tentu pihak berwajib yaitu Polri akan cepat menanggapi laporannya, tapi seharusnya pak Gatot bukan menyampaikannya ke media. Karena saat ini kan jaman peperangan asimetris dan juga berkembangnya post truth, jangan sampai info yang berpotensi timbulkan kegaduhan ini merupakan post truth,” ujarnya.

Diketahui, post-truth adalah sebuah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Nuning lantas menjelaskan ada tiga strategi yang digunakan dalam perang asimetris.

“Perang asimetris secara umum memiliki strategi menggunakan non state aktor (perusahaan, organisasi media, bisnis, gerakan pembebasan rakyat, kelompok lobi, kelompok agama, badan-badan bantuan, dan aktor kekerasan non-negara seperti pasukan paramiliter), strategi pendadakan (strategic surprise), tidak terorganisir, serta mencari kemenangan dengan merontokkan atau menyusutkan kekuatan musuh, bukan dengan menghadapinya,” ujarnya.

Nuning juga mengatakan seiring perkembangan zaman perang itu juga merambah ke infrastruktur internet. Hal ini bisa dibilang ancaman siber yang sudah terjadi di berbagai belahan dunia.

“Selain itu, seiring dengan perkembangan Internet of Things (IoT), maka peretasan ke infrastruktur kritis, pencurian data strategis, spionase dan propaganda di media sosial, radikalisasi di dunia maya, terorisme dan berbagai ancaman siber lainnya tengah berlangsung di berbagai belahan dunia,” tutur Nuning.

Gatot Ungkap Paham Komunis Menyusup ke TNI

Gatot Nurmantyo sempat mengklaim komunisme telah menyusup ke tubuh TNI. Dia menyampaikan hal tersebut lewat acara webinar yang berjudul ‘TNI Vs PKI’ pada Minggu (26/9) kemarin. Awalnya Gatot menceritakan terkait sejarah pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia.

Dia menyebut pemberontakan PKI sebetulnya sudah dimulai pada 1948 atau tiga tahun setelah Indonesia merdeka. Dia menyebut, di usia Indonesia yang semuda itu, PKI di Madiun sudah berupaya mengambil alih Indonesia.

“Bayangkan bagaimana suasana kebangsaan kita tahun 1948, negara masih dalam usia sangat belia, terjadi mega politik sangat tinggi, dan hadapi agresi militer Belanda, peluang ini dimanfaatkan (PKI) untuk kudeta pada tahun 1948. Disertai tiga ciri khas, menculik, menganiaya terhadap warga sipil, polisi dan ulama. Tapi melalui suatu operasi militer terutama pasukan Siliwangi, pada akhir November 1948, pemberontakan PKI Madiun berhasil ditumpas,” kata Gatot.

Kemudian Gatot Nurmantyo menyebut, setelah ditumpas, PKI ternyata muncul kembali pada Pemilu 1955. Dia menyebut kala itu PKI menjadi partai terbesar kedua setelah PNI.

Upaya pemberontakan PKI, kata dia, menjadi yang terbesar pada peristiwa G30S/PKI. Dia menyebut saat itu ada 7 pahlawan revolusi yang gugur akibat peristiwa tersebut.

Atas beberapa sejarah itu, Gatot lantas menyinggung terkait masih ada-tidaknya PKI saat ini. Dia menegaskan komunisme saat ini di Indonesia masih ada meski selalu dibantah berbagai pihak.

Gatot lantas memberikan bukti-bukti masih adanya PKI di Indonesia lewat insiden perusakan museum Kostrad. Dia menyebut dalam museum tersebut terdapat sejumlah bukti peristiwa penumpasan komunisme, seperti patung yang dihilangkan.

“Saya mendapat informasi walau bagaimanapun saya mantan Pangkostrad baru akhir akhir ini disampaikan bahwa diorama bukan hanya patung Pak Harto, patung Pak Sarwo Edhie, sama Pak Nasution tapi juga 7 pahlawan revolusi sudah tidak ada di sana, dan khusus id ruangan Pak Harto mencerminkan penumpasan pemberontakan G30SPKI dikendalikan oleh Pak Harto di markasnya. Saya tadinya tidak percaya tapi saya utus seseorang yang tidak bisa saya sebutkan di sana dan memfoto ruangan itu dan dapatkan foto dari video itu yang terakhir sudah kosong,” katanya.

Dia menyebut insiden ini lantas membuktikan adanya kemungkinan sudah berkembangnya paham komunis di tubuh TNI.

“Maka saya katakan ini kemungkinan sudah ada penyusupan paham-paham kiri, paham-paham komunis di tubuh TNI,” tuturnya.

Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) buka suara soal tudingan Gatot Nurmantyo itu. Kostrad mengatakan inisiatif pembongkaran patung-patung tersebut bukan berasal dari pihaknya.

“Bahwa tidak benar Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang ada dalam ruang kerja Pak Harto di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad,” ujar Kepala Penerangan Kostrad Kolonel Inf Haryantana dalam keterangan tertulis, Senin (27/9/2021).

Haryanta menerangkan pada Senin (30/8), mantan Panglima Kostrad (Pangkostrad), Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution menemui Pangkostrad, Letjen Dudung Abdurachman. Pertemuan kala itu juga dihadiri Kaskostrad dan Irkostrad.

“Yang bertujuan meminta untuk pembongkaran patung-patung tersebut,” ucap Haryanta.(Din)