Connect with us

Kesehatan

Begini Cara Penanganan Cedera Kepala di Pertandingan Sepak Bola

Diterbitkan

Pada

ilustrasi (ist/net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Cedera kepala merupakan salah satu risiko yang harus seorang atlet hadapi saat melakukan olahraga kontak, seperti sepak bola.

Jenis cedera ini bisa berkisar antara cedera ringan, seperti memar atau lecet pada kepala, hingga cedera yang berat, seperti gegar otak dan keretakan pada tengkorak, leher, dan tulang belakang yang dapat berakibat fatal.

Kenapa pemain sepak bola rentan akan cedera kepala?
Salah satu kasus cedera paling terkenal dalam kancah persepakbolaan dunia adalah cedera kepala yang dialami oleh Petr Cech, penjaga gawang Chelsea saat bertanding melawan Reading pada Oktober 2006. Kepala Cech mengalami tabrakan dengan kaki pemain gelandang Reading, Stephen Hunt yang saat itu sedang melakukan serangan.

Kejadian ini mengakibatkan keretakan pada tengkorak (fractured skull) yang hampir merenggut nyawanya. Beruntunglah, Cech mendapatkan penanganan yang cepat dan dapat kembali bermain pada Januari 2007. Sesuai saran dokter, Cech selalu mengenakan helm (headgear) saat bertanding yang menjadi ciri khasnya hingga saat ini.

Sepak bola adalah salah satu olahraga dengan kontak fisik yang tinggi. Beberapa kejadian yang rentan mengakibatkan cedera kepala dan butuh penanganan segera, antara lain:

– Mengalami benturan langsung pada kepala, baik oleh siku, tendangan kaki yang terlalu tinggi, beradu kepala di udara, atau pukulan dari penjaga gawang,
– Benturan pada dagu dan rahang,
– Benturan bahu yang keras,
– Jatuh dari ketinggian, misalnya ketika berebut bola dengan penjaga gawang yang melompat lalu terjatuh dengan posisi yang salah.

Bagaimana langkah penanganan cedera kepala?
Muhammad Ikhwan Zein, Sp.KO, anggota Komite Medis PSSI dalam Prosedur Penanganan Cedera Kepala-Leher di Sepak Bola mengungkapkan cedera pada bagian kepala dan leher merupakan kondisi yang serius dan sering berakibat fatal dalam pertandingan sepak bola.

Biarpun jarang terjadi, namun penanganan cedera kepala dan leher memerlukan kehati-hatian dari petugas medis. Penanganan yang salah bisa meningkatkan risiko kelumpuhan permanen, bahkan hingga kematian.

Selain cedera kepala, gegar otak (concussion) umumnya juga perlu diwaspadai apabila pemain mengalami benturan kepala saat bertanding.

1. Cedera kepala dan leher
Cedera kepala dan leher umumnya terjadi bersamaan, sehingga sejak pertolongan pertama harus diketahui dengan benar ada tidaknya potensi cedera lain, seperti retak, dislokasi, hingga patah tulang leher.

Setelah mengalami benturan dan mengalami cedera kepala dan leher, pemain biasanya akan mengeluhkan beberapa gejala, seperti:

– Timbul rasa baal, kesemutan, atau panas,
– Nyeri seperti ditusuk jarum, dan
– Tanda-tanda kelemahan atau kelumpuhan otot, misal tidak kuat menggenggam.

Jika pemain masih dalam kondisi sadar, jangan memindahkannya hingga tim medis atau ambulans datang. Lakukan imobilisasi untuk mencegah perburukan akibat gerakan pada leher hingga pemain mendapatkan penyangga leher dan tandu spinal (spinal board).

Namun jika pemain tidak sadar, selalu perhatikan A-B-C, yakni airway (jalan napas), breathing (pernapasan), dan circulation (denyut nadi). Pastikan pemain bisa bernapas normal dengan membuka mulut untuk memastikan jalan napas tidak ada hambatan. Apabila tertutup lidah, lakukan teknik jaw thrust untuk mengangkat lidah dan membuka jalan napas.

Petugas medis selanjutnya akan melakukan evakuasi pemain untuk melakukan penanganan cedera kepala dan leher lanjutan. Pemeriksaan lanjutan, seperti rontgen kepala dan leher diperlukan untuk mendeteksi ada tidaknya cedera.

2. Gegar otak
Gegar otak atau concussion merupakan kasus yang paling umum terjadi saat pemain mengalami benturan kepala dalam pertandingan. Kondisi ini umumnya tidak sampai menyebabkan pemain kehilangan kesadaran.

Tim medis akan mencurigai adanya kondisi gegar otak apabila timbul beberapa gejala dan tanda, seperti:

– Kehilangan kesadaran,
– Memegang kepala dan terbaring lama setelah benturan,
– Kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh,
– Pandangan kosong dan merasa kebingungan,
– Kesulitan konsentrasi,
– Sensitif terhadap cahaya dan suara,
– Amnesia dan mengalami gangguan memori, dan
– Nyeri leher.

Pemain yang mengalami gejala tersebut harus ditarik keluar lapangan dan tidak diizinkan bermain hingga ada pemeriksaan medis lanjutan. Jika tidak ada tim medis yang berkompeten menilai kondisi ini, segera rujuk ke rumah sakit untuk memeriksa ada tidaknya kondisi yang lebih serius, misalnya cedera otak.

Bagaimana cara menghindari cedera kepala saat main sepak bola?
Menurut Scott Delaney dalam Clinical Journal of Sport Medicine, penjaga gawang adalah pemain sepak bola dengan risiko cedera kepala paling tinggi. Tetapi, bukan berarti pemain dengan posisi lain tidak memiliki risiko cedera ini.

Melihat tingginya risiko mengalami cedera kepala, berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menghindari cedera ini saat bermain sepak bola.

– Pertimbangkan untuk menggunakan alat pelindung berupa helm (headgear) untuk mengurangi efek benturan pada kepala dan pelindung mulut (mouthguard) untuk mencegah cedera pada wajah dan rahang.
– Hindari melakukan teknik bermain yang berbahaya, hal ini juga perlu pelatih tekankan pada anak-anak dan remaja yang baru mulai berlatih sepak bola.
– Jangan terlalu sering menyundul bola, serta terus melatih teknik dan timing yang tepat agar tidak membahayakan diri dan pemain lain.
– Bermain dengan sportif dan jauhi tindakan kekerasan dalam lapangan, hal ini bisa meningkatkan risiko cedera kepala dan cedera lainnya.
– Sesuaikan ukuran bola berdasarkan usia untuk memudahkan pemain mengontrolnya. Sebagai contoh, gunakan bola nomor 4 untuk anak-anak usia 8-11 tahun serta bola nomor 5 untuk remaja 12 tahun ke atas dan profesional seperti dikutip dari Soccer Coaching Pro.
– Perhatikan keamanan tiang gawang dengan melapisi tiang dengan bantalan empuk untuk mencegah risiko benturan saat pertandingan.
– Apabila menggunakan tiang gawang portabel, sebaiknya tambatkan tiang ke tanah untuk menghindari kemungkinan tiang gawang roboh dan menimpa pemain.

Selain tips penanganan dan pencegahan cedera kepala tersebut, FIFA Medical Assessment and Research Centre (F-MARC) sendiri menyarankan untuk memperketat peraturan permainan sebagai upaya membatasi kontak antara anggota gerak bagian atas dan kepala.

Hal yang terpenting adalah selalu perhatikan keselamatan Anda saat berolahraga demi aktivitas fisik yang menyenangkan dan prestasi yang maksimal. (*)

 

 

sumber: hellosehat

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesehatan

Dubes AS Kunjungi Lokasi Vaksinasi Suntikan Pfizer di Jakarta

Diterbitkan

Pada

Penulis

ilustrasi (ist/net)
Baca Berita

Kesehatan

Cegah Gelombang Ketiga COVID-19, Ahli Epidemiologi Apresiasi Langkah Responsif Pemerintah

Diterbitkan

Pada

Penulis

Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan (ist/net)
Baca Berita

Daerah

Di Kota Kupang, Pasien COVID-19 Tersisa 174 Orang

Diterbitkan

Pada

Penulis

ilustrasi (ist/net)
Baca Berita
Loading...