Peringkat Indonesia Turun dalam GMTI, Legislator PKS Dorong Kemenparekraf Lakukan Peningkatan Wisata Halal

  • Bagikan
Peringkat Indonesia Turun dalam GMTI, Legislator PKS Dorong Kemenparekraf Lakukan Peningkatan Wisata Halal
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Global Muslim Travel Indeks (GMTI) yang sejak 2015 secara rutin mengeluarkan peringkat negara-negara tujuan wisata yang “ramah muslim” telah mengeluarkan rating untuk tahun 2021. Sayang sekali Indonesia sebagai jawara dua tahun berturut-turut harus turun peringkat.

Menanggapi hal tersebut anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah mendorong Kemenparekraf melakukan strategi pembenahan dan peningkatan wisata halal agar bisa kembali menjadi destinasi pilihan muslim friendly nomor satu di tahun depan.

“Situasi pandemi memang telah memukul dunia pariwisata secara global. Namun, pariwisata dunia tidak mati, hanya berjalan lebih lambat. Dari sini kita perlu memikirkan strategi agar dalam perlambatan situasi ini kita tetap bisa mengkreasikan berbagai program wisata yang aman dan tetap muslim friendly, dan memberi kenyamanan kepada traveler muslim,” kata Ledia dalam keterangannya, Kamis (29/7/2021).

Beberapa indikator yang digunakan GMTI dalam membuat peringkatan diantaranya: akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan. Diantara turunan dari indikator ini terdapat ketersediaan sarana ibadah juga akses pada penyediaan makanan halal, di samping seluruh indikator lain yang secara umum menjadi nilai plus dalam penyediaan dan pengelolaan wisata.

Selain itu rating yang dikeluarkan pada 2021 ini GMTI juga mengukur kesiapan satu negara dalam membuat rencana pengelolaan wisata di tengah situasi pandemi yang melanda dunia.

“Karena ini adalah ukuran bagaimana satu negara siap mengkreasikan dan menyiapkan program dan destinasi wisata yang ramah muslim, termasuk bagaimana di masa pandemi ini suatu negara punya rencana pengelolaan wisata yang aman secara protokol kesehatan, maka kita perlu introspeksi diri mengapa kita turun peringkat sementara beberapa negara tetap bertahan bahkan ada yang naik peringkat sebagai tujuan wisata para traveler,” ungkap politikus PKS ini.

Karenanya Sekretaris Fraksi PKS ini mengingatkan agar meski sedang dalam masa pandemi Kemenparekraf tetap harus secara serius dan sungguh-sungguh menyiapkan destinasi wisata halal agar bisa menarik kembali kedatangan para pelancong muslim dari berbagai negara dan menempatkan kembali Indonesia para peringkat teratas negara tujuan wisata yang ramah muslim.

“Dampak pandemi kan berbeda situasinya pada setiap wilayah sehingga perlu dikreasikan berbagai program wisata yang sesuai dengan status pandemi di wilayah tersebut. Juga untuk persiapan pembukaan destinasi wisata halal pascapandemi karena kan tidak bisa ujug-ujug dibuat setelah pandemi usai tetapi harus disiapkan sejak sekarang.”

Saat menyebut perlunya Kemenparekraf menyiapkan program “wisata halal” pada berbagai destinasi dan program wisata Ledia sekaligus mengingatkan agar jangan ada lagi salah persepsi yang bisa memunculkan salah pengertian. Sebab seringkali ketika bicara wisata halal yang muncul adalah salah pengertian seolah wisata halal itu berarti membuka, mengkreasikan sesuatu yang baru, lalu ada perintah dan larangan khusus terkait nilai-nilai agama.

“Padahal bukan demikian. Wisata halal sesungguhnya merujuk pada pengembangan layanan dari yang sudah ada agar memiliki nilai tambah yaitu muslim friendly. Jadi satu destinasi atau program wisata tetap harus memenuhi syarat umum CHSE; Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) dan ketika akan dikondisikan menjadi destinasi atau program wisata halal hanya perlu pengembangan layanan. Artinya program atau destinasi wisata tersebut disiapkan agar pelancong muslim dapat terpenuhi haknya seperti hak untuk mendapat akses makanan halal dan sarana beribadah,” kata Ledia.

Lebih lanjut Ledia menyebutkan konsep pengembangan wisata agar menjadi muslim friendly ini bahkan sudah menjadi rencana terstruktur dari berbagai negara di dunia termasuk negara yang penduduknya minoritas muslim.

“Contoh saja Singapura, Taiwan, Jepang dan Thailand yang menyadari betul besarnya potensi pemasukan devisa dari para traveler muslim dunia sehingga mereka sangat serius menggarap program dan destinasi wisata yang muslim friendly. Karena itu sebagai negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia dan memiliki ribuan program serta destinasi wisata menakjubkan kita jangan sampai tertinggal untuk menjadi negara tujuan wisata yang muslim friendly juga,” pungkasnya.[prs]

  • Bagikan