Kejagung Periksa Alex Noerdin dan Jimly Asshiddiqie Dalam Kasus Pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang

  • Bagikan
Kejagung Periksa Alex Noerdin dan Jimly Asshiddiqie Dalam Kasus Pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa mantan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie. Keduanya diperiksa sebagai saksi terkait kasus dana hibah pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang.

“Saksi itu terkait pemberian dana hibah wakaf untuk Masjid Sriwijaya di Palembang 2015 dan 2017,” kata Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan (Sumsel) Victor Antonius Saragih Sidabutar saat dihubungi, Kamis (29/7/2021).

Victor menerangkan Alex diperiksa sebagai Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) periode 2008-2018. Saat menjabat gubernur, kata Victor, Alex memproses bahkan menyetujui dana hibah kepada yayasan wakaf Masjid Sriwijaya.

“Ya tentunya dia sebagai gubernur pada masa itu yang memproses dan menyetujui pemberian hibah untuk yayasan wakaf Masjid Sriwijaya,” ungkapnya.

Sementara itu, Jimly Asshidiqie diperiksa sebagai pembina yayasan wakaf Sriwijaya. Diketahui, yayasan wakaf Masjid Sriwijaya adalah penerima dana hibah itu.

“Dia kedudukannya sebagai pembina yayasan yang dimaksud, yayasan wakaf Sriwijaya yang menerima bantuan hibah itu,” ucapnya.

Diketahui dalam kasus ini, Alex Noerdin, disebut menerima aliran dana Rp 2,4 miliar terkait proyek pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang. Hal itu disampaikan oleh jaksa penuntut umum (JPU) saat sidang di Pengadilan Negeri Palembang.

Hal ini terungkap saat jaksa penuntut umum (JPU) M Naimullah membacakan dakwaan terhadap empat terdakwa korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya, yakni Eddy Hermanto, Syarifuddin, Yudi Arminto, dan Dwi Kridayani.

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Sahlan Effendy, Naimullah, yang juga Kepala Seksi Penuntutan Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, menyatakan Alex Noerdin terindikasi menerima aliran dana tersebut berdasarkan temuan tim penyidik dalam kasus dugaan korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya.

“Ditemukan bukti di mana ada pengaturan proses lelang agar dimenangkan oleh salah satu pihak swasta dan pemerintah. Juga ada indikasi menerima dan memberi sejumlah dana pada termin pertama dalam pembangunan Masjid Raya Sriwijaya tahun 2015,” katanya.

Meski demikian, keterlibatan Alex Noerdin nanti akan dibuktikan dalam persidangan dengan menghadirkan sejumlah saksi.

“Dalam sidang nanti kami akan menghadirkan saksi atas dugaan ini,” ujarnya.

Sementara itu, staf ahli Alex Noerdin, Kemas Khoirul Mukhlis, mengatakan pernyataan jaksa tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu sebelum disebut dalam surat dakwaan di persidangan.

“Nanti dalam persidangan akan dibuktikan apakah benar Alex melakukan hal seperti bunyi dakwaan,” ujarnya.

Dia menepis dugaan kalau Alex Noerdin menyadari keterlibatannya tersebut sehingga membuat yang bersangkutan beberapa kali mangkir dari panggilan tim penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.

Menurut dia, sebagai mantan gubernur, Alex Noerdin akan siap jika dihadirkan sebagai saksi untuk memberikan keterangan di persidangan.

“Sekarang tergantung jaksanya bagaimana, apakah perlu atau tidak untuk menghadirkan beliau (Alex Noerdin), karena untuk menghadirkan saksi itu perlu mekanisme dari jaksa ke persidangan,” katanya.

Dalam perkara ini, jaksa menyebut para terdakwa memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi lewat proyek pembangunan Masjid Sriwijaya. Jaksa menyebut Eddy Hermanto menerima Rp 684.419.750, Syarifudin menerima Rp 1.049.336.610, Dwi Kridayani menerima sebesar Rp 2.500.000.000, dan Yudi Arminto menerima Rp 2.368.553.390

Selain itu, Brantas Abeparaya (persero) disebut menerima duit sebesar Rp 5.000.000.000. Perbuatan para terdakwa itu disebut merugikan negara sebesar Rp 116.914.286.358.[prs]

  • Bagikan