Connect with us

Hukum

Dinilai Tak Perhatikan Aspek HAM, Pelibatan Bappenas di BK-P3 Dipertanyakan

Diterbitkan

Pada

Dinilai Tak Perhatikan Aspek HAM, Pelibatan Bappenas di BK-P3 Dipertanyakan
Komisioner Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Amiruddin (ist/net/tempo)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Komisioner Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Amiruddin mengkritik pembentukan Badan Khusus Percepatan Pembangunan Papua (BK-P3).

Pembentukan BK-P3 diatur dalam Rancangan Undang-Undang tentang Otonomi Khusus Papua yang telah disahkan DPR.

Amiruddin juga mempertanyakan soal masuknya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam BK-P3 yang dinilai tidak terlalu memperhatikan aspek hak asasi manusia (HAM) dalam perencanaan pembangunan.

“Di badan ini bergabung Bappenas, Mendagri, dan Menteri Keuangan. Satu catatan saya, dalam konteks HAM, Bappenas kadang-kadang tidak terlalu berpikir tentang Hak Asasi Manusia dalam perencanaan pembangunan,” kata Amiruddin, dalam diskusi virtual bertajuk Bagaimana Dampak Pengesahan RUU Otsus Papua Terhadap Penyelesaian Konflik Papua?, Rabu (21/7/2021).

Dikatakannya, dalam perencanaan pembangunan, Bappenas justru sangat teknokratik dengan mengutamakan statistik dan jumlah.

Untuk itu, dia mempertanyakan apakah badan khusus tersebut nantinya akan berjalan dengan instrumen HAM dalam mengawasi program pembangunan.

“Kenapa? Karena (HAM) itu yang menjadi soal di Papua kan? Kalau membangun jembatan, semua orang bisa. Tapi pertanyaannya apakah itu bermanfaat untuk peningkatan perlindungan dan pemenuhan HAM terutama di bidang sosial ekonomi,” jelasnya.

Selain jembatan, ia juga menganalogikan pembangunan lain, misalnya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang harus pula melihat fungsinya dalam pelayanan hak kesehatan warga negara.

Kemudian, ia juga mempertanyakan apakah badan khusus tersebut juga akan mengakselerasi kebutuhan guru di Papua.

“Nah inilah dari badan ini saya pikir yang perlu kita lihat bersama, sebagai bahan untuk kita melihat bagaimana undang-undang ini akan dipraktikkan,” tuturnya.

Di samping itu, Amiruddin juga mempertanyakan kewenangan utama dari BK-P3 dalam pelaksanaan otonomi khusus di Papua.

Menurutnya, terkait koordinasi atau sinkronisasi yang disebutkan dalam Pasal 68A RUU Otsus Papua tentang BK-P3, belum dijelaskan secara detail.

“Kalau koordinasi dan sinkronisasi, yang dia mau koordinasikan atau sinkronisasikan itu antara apa dengan apa? Ini mesti terang, supaya kewenangan pemerintahan provinsi tidak bertabrakan dengan badan yang akan di bawah Wapres ini,” kata dia. (ndi)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

LBH Jakarta: Anak-anak Masih Rentan Jadi Korban Kekerasan Seksual

Diterbitkan

Pada

Penulis

LBH Jakarta: Anak-anak Masih Rentan Jadi Korban Kekerasan Seksual
ilustrasi (ist/net)
Baca Berita

Hukum

Masa Penahanan Mantan Dirut Sarana Jaya Diperpanjang, Ini Penjelasan KPK

Diterbitkan

Pada

Penulis

Masa Penahanan Mantan Dirut Sarana Jaya Diperpanjang, Ini Penjelasan KPK
Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri (ist/net)
Baca Berita

Hukum

Terkait Tudingan terhadap Moeldoko Soal Obat Ivermectin, LBH HKTI Tempuh Jalur Hukum

Diterbitkan

Pada

Penulis

Terkait Tudingan terhadap Moeldoko Soal Obat Ivermectin, LBH HKTI Tempuh Jalur Hukum
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (ist/net)
Baca Berita
Loading...