Connect with us

Headline

Anggota Banggar Golkar Sebut Ekonomi Nasional Sudah di Jalur Pemulihan

Diterbitkan

Pada

Anggota Banggar Golkar Sebut Ekonomi Nasional Sudah di Jalur Pemulihan
Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI, Muhidin M. Said (ist/net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI, Muhidin M. Said, menyatakan bahwa realisasi semester I APBN Tahun 2021, bisa memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian nasional dan pencapaian APBN hingga akhir tahun 2021.

Meningkatnya indikator konsumsi, manufaktur, dan aktivitas perdagangan internasional, membuktikan bahwa perekonomian nasional sudah berada pada Jalur pemulihan, meskipun mandemi Covid-19 saat ini masih berkecamuk di Indonesia.

Membaiknya konsumsi dalam negeri serta peningkatan aktivitas perdagangan internasional, juga akan mendorong pertumbuhan penerimaan perpajakan, baik yang bersumber dari pajak maupun kepabeanan dan cukai.

“Kita patut bersyukur sudah melewati Semester I APBN 2021 dengan baik. Walau sempat diliputi kekhawatiran meningkatnya serangan Covid-19 pada awal tahun dan pelarangan mudik lebaran, trend perekonomian nasional menunjukkan arah membaik,” ujar politisi Partai Golkar ini, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/7/2021).

Perbaikan tersebut, menurut dia, tergambar dalam pertumbuhan ekonomi Semester I tahun 2021 diprediksi mencapai 3,1-3,3 persen atau lebih baik dari periode sebelumnya.

Begitupula dengan Perekonomian global berangsur pulih seiring peningkatan perdagangan dan manufaktur global serta tren kenaikan harga komoditas dunia.

“Tetapi kita tidak boleh lengah, masih tingginya penyebaran Covid 19 serta kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang dimulai pada tanggal 5-20 Juli 2021, tentu akan memberikan dampak terhadap ketidakpastian bagi perekonomian dan pelaksanaan APBN pada paruh kedua tahun 2021,” katanya mengingatkan.

Selain itu, dia mengatakan, perlu terus mewaspadai dinamika kondisi moneter di Amerika Serikat, yaitu kebijakan Tapering off dan kenaikan suku bunga acuan The Fed yang berpotensi menimbulkan dampak ikutan bagi perekonomian nasional, khususnya terhadap nilai tukar Rupiah dan suku bunga SBN.

Pada Semester I 2021-Rupiah stabil pada angka Rp. 14.299 per USD. Oleh sebab itu, Bank Indonesia perlu terus mengantisipasi kebijakan The Fed tersebut dengan cepat dan tepat untuk melindungi nilai tukar rupiah dan stabilitas moneter dalam negeri.

Muhidin mengatakan, realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) semester I tahun 2021 mencapai Rp206,9 triliun atau tumbuh 11,4 persen dibandingkan realisasi semester I tahun 2020 yang mencapai Rp185,7 triliun.

Hal ini didukung oleh peningkatan PNBP SDA nonmigas dan pendapatan BLU. sehingga mendorong peningkatan pendapatan negara.

Realisasi pendapatan negara semester I tahun 2021 mencapai Rp886,9 triliun atau 50,9 persen dari targetnya dalam APBN tahun 2021 atau meningkat 9,1 persen jika dibandingkan realisasi semester I tahun 2020. Tentunya kita berharap trend positif pendapatan negara akan terus berlanjut pada semester II tahun 2021.

Begitupula dari sisi belanja negara, kami melihat terjadi akselerasi belanja negara dalam mendukung penanganan Covid-19 dan mempercepat Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Realisasi belanja negara dalam semester I tahun 2021 mencapai Rp1.170,1 triliun atau 42,5 persen dari APBN tahun 2021.

Capaian tersebut meningkat apabila dibandingkan realisasi semester l tahun 2020 yang mencapai Rp1.069,7 triliunKinerja positif belanja negara di semester I tahun 2021.

Kinerja belanja Pemerintah masih perlu ditingkatkan untuk mendukung berbagai program terutama penanganan kesehatan dampak pandemi, pelaksanaan vaksinasi, bantuan usaha mikro, dan bantuan sosial.

Kinerja belanja pemerintah pusat pada semester II tahun 2021 sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pelaksanaan Program Ekonomi Nasional dan kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur.

Strategi fiskal yang bersifat ekspansif konsolidatif dalam menjalankan kebijakan countercyclical dalam APBN 2021 membuat realisasi pertumbuhan belanja negara lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara, sehingga menyebabkan realisasi defisit pada Semester I tahun 2021 meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.

Defisit anggaran semester I tahun 2021 berada pada kisaran 1,72 persen terhadap PDB, lebih tinggi daripada defisit dalam semester l tahun 2020 sebesar 1,67 persen terhadap PDB.

Strategi ini harus didukung dengan kebijakan pembiayaan anggaran yang fleksibel, prudent, dan efisien untuk menjaga kesinambungan makro fiskal dan komposisi portofolio utang secara optimal.

Pemerintah perlu mengoptimalkan sumber pembiayaan yang efisien dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan defisit dan investasi Pemerintah termasuk pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk mengurangi penerbitan utang baru di tahun 2021.

Adapun pencapaian dan realisasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sudah berjalan baik, realisasi PEN Semseter I tahun 2021 sudah menunjukkan kinerja yang cepat yaitu Rp252,3 triliun atau 36,1 persen dari pagunya sebesar Rp699,4 triliun.

Beberapa kluster yang perlu didorong untuk lebih bekerja lebih optimal adalah Klaster kesehatan yang baru mencapai serapan sebesar Rp47,7 triliun (24,6 persen) dan Klaster dukungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan korporasi dengan serapan sebesar Rp51,3 triliun (29,8 persen). Dengan kinerja lebih baik, pencapaian PEN hingga akhir tahun 2021 akan bisa lebih optimal dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pemulihan kehidupan masyarakat akan sangat tergantung dari disiplin dan konsistensi seluruh komponen Bangsa.

Akselerasi pemulihan ekonomi nasional akan sangat tergantung dari keberhasilan kebijakan antisipatif penanganan pandemi Covid-19 dalam menjaga momentum pemulihan.

Langkah-langkah tersebut antara lain adalah, optimalisasi pelaksanaan vaksinasi yang lebih masif dan mencapai terget yang sudah ditentukan, implementasi kebijakan PPKM Darurat yang efektif dalam menghambat penyebaran Virus, penguatan tes, lacak dan isolasi serta peningkatan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol Kesehatan 5M.

Selain itu, untuk mengantisipasi lonjakan pasien sedang berat, Pemerintah harus memastikan ketersediaan tempat tidur di ruang perawatan (Bed occupancy rate) terpenuhi dan juga tabung oksigen. Semoga kita bisa keluar dari krisis ini dan kehidupan kita bisa segera pulih. (ndi)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Headline

Ini Alasan Versi Wamenkeu Soal Penerapan PPKM Ketimbang “Lockdown”

Diterbitkan

Pada

Penulis

Ini Alasan Versi Wamenkeu Soal Penerapan PPKM Ketimbang "Lockdown"
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (ist/net)
Baca Berita

DPR

Tak Bergantung Impor, DPR Dorong Industri Farmasi Dalam Negeri Produksi Obat Sendiri

Diterbitkan

Pada

Penulis

Tak Bergantung Impor, DPR Dorong Industri Farmasi Dalam Negeri Produksi Obat Sendiri
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher (ist/net)
Baca Berita

Nasional

Waduh! Lion Air Group Rumahkan 8 Ribu Karyawannya

Diterbitkan

Pada

Waduh! Lion Air Group Rumahkan 8 Ribu Karyawannya
Baca Berita
Loading...