Connect with us

Kesehatan

WHO Beri Nama Setiap Varian Virus Corona (SARS-CoV-2) untuk Cegah Stigma

Diterbitkan

Pada

ilustrasi (ist/net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini memberi nama pada setiap varian virus corona penyebab COVID-19 seiring meningkatnya jumlah varian dan mutasi yang perlu diwaspadai. Sebelumnya, varian-varian baru hasil mutasi virus SARS-CoV-2 ini lebih sering dilabeli dengan nama negara tempat pertama kali dideteksi.

Nama baru ini diharapkan dapat mempermudah pemahaman masyarakat sekaligus menghapus stigma pada negara atau wilayah tertentu.

Mutasi adalah proses terjadinya kesalahan acak yang berlangsung saat virus memperbanyak diri di dalam tubuh manusia. Kumpulan mutasi ini akan mengubah beberapa bagian struktur atau kode genetik virus dari wujud aslinya, hasil perubahan inilah yang kemudian disebut dengan varian.

Pada perkembangannya, dalam satu varian sangat mungkin terdapat beberapa hasil mutasi atau perbedaan struktur dari wujud aslinya. Kumpulan mutasi genetik yang tersusun dalam varian baru bisa membuat virus memiliki sifat sedikit berbeda dari wujud aslinya dalam menginfeksi tubuh manusia.

Seiring meluasnya penyebaran COVID-19, mutasi virus terus terjadi dan menimbulkan munculnya berbagai jenis varian baru. Beberapa varian muncul dengan membawa sifat-sifat baru yang membutuhkan perhatian khusus. Di antara yang perlu diwaspadai dari kemunculan beberapa varian baru adalah sifatnya yang diduga lebih mudah menular dan kemampuannya menghindari perlawanan dari antibodi.

Kemunculan varian baru SARS-CoV-2 sebelumnya dinamai dengan kode-kode tertentu. Namun pejabat, peneliti, ataupun media lebih sering menyebutnya dengan nama wilayah, tempat pertama kali varian tersebut ditemukan. Contohnya adalah varian B.1.1.7, varian ini pertama kali dideteksi di Inggris pada September 2020 sehingga banyak yang menyebutnya UK varian atau varian mutasi Inggris.

Para ahli menilai penyebutan suatu penyakit dengan membawa nama wilayah atau negara dapat memicu rasisme ataupun xenofobia. Ed Feil, profesor di bidang evolusi mikroba di University of Bath, Inggris menilai hal ini juga berpotensi membuat negara-negara tidak tertarik memburu temuan varian baru karena menemukannya dapat merusak citra negara mereka.

“Padahal tidak ada jaminan juga bahwa nama geografis ini akurat karena varian dapat dengan mudah menyebar sebelum berhasil ditemukan,” jelas Feil dalam tulisan opininya di The Conversation.

Pemberian nama atau sebutan khusus pada setiap varian virus corona penyebab COVID-19 menjadi langkah penting untuk mengakhiri praktik stigmatisasi penyebutan varian dengan nama negara di mana ia pertama kali dideteksi.

Setiap varian yang diberi nama ini juga dimasukkan ke dalam daftar tingkatan kategori yakni variant of interest (VOI) dan varian of concern (VOC).

Varian COVID-19 dalam kategori VOI

Variant of interest (VOI) merupakan klasifikasi untuk varian yang memenuhi salah satu dari kriteria di bawah ini.

– Perubahan genetiknya diperkirakan dapat memengaruhi sifat lebih mudah penularan dan keparahan penyakit.

– Terdapat bukti varian ini menjadi penyebab penularan COVID-19 di beberapa cluster atau telah terdeteksi di beberapa negara.

Varian yang masuk daftar ini berarti memerlukan satu atau lebih analisis lebih lanjut termasuk identifikasi urutan kode genetik dan penyelidikan epidemiologis untuk menilai seberapa mudah penularannya.

Daftar varian yang masuk dalam kategori VOI, update 31 Mei 2021

1. Epsilon atau B.427/B.1.429, pertama kali dideteksi di Amerika Serikat pada Maret 2020.
2. Zeta atau P.2, pertama kali dideteksi di Brasil pada April 2020.
3. Eta atau B.1.525, pertama kali dideteksi di beberapa negara diantaranya Inggris dan Nigeria pada Desember 2020.
4. Theta atau P.3, dideteksi pertama kali di Filipina pada Januari 2021.
5. Lota atau B.1.526, dideteksi pertama kali di Amerika Serikat pada November 2020.
6. Kappa atau B.1.617 dideteksi pertama kali di India pada Oktober 2020.

Varian COVID-19 dalam kategori VOC

Varian of concern (VOC) yang berarti jenis varian virus penyebab COVID-19 yang perlu diwaspadai dengan ketat. Varian yang masuk dalam daftar VOC ini adalah varian yang sebelumnya telah memenuhi kriteria VOI lalu terbukti memiliki sifat yang berpengaruh terhadap salah satu atau lebih dari poin berikut:

– Varian lebih mudah menular atau memiliki perubahan yang merugikan dalam epidemiologi COVID-19.
– Menyebabkan peningkatan virulensi atau terdapat perubahan yang mempengaruhi tingkat keparahan penyakit.
– Menyebabkan penurunan efektivitas dalam penanganan yang saat ini tersedia, baik dalam tindakan diagnosa, terapi, maupun vaksinasi.

Varian of concern (VOC) mungkin memerlukan satu atau lebih tindakan aktif demi kesehatan masyarakat. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberitahuan kepada WHO, upaya lokal atau regional untuk mengendalikan penyebaran, penelitian efektivitas vaksin yang tersedia terhadap varian ini, serta perawatan terhadap pasien yang tertular varian ini.

Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Amerika (CDC) menyebut kemungkinan perlu pengembangan teknik diagnosa baru jika varian ini memiliki karakteristik tertentu.

Daftar varian yang masuk dalam kategori VOC

1. Alpha atau B.1.1.7, varian ini pertama kali dideteksi menyebar secara luas di Inggris pada September 2020.
2. Beta atau B.1.31, varian ini pertama kali dideteksi di Afrika Selatan pada Mei 2020.
3. Gamma atau P.1, varian ini pertama kali dideteksi di Brasil pada November 2020.
4. Delta atau B.1.617.2, varian ini pertama kali dideteksi di India pada Oktober 2020.

Sejauh ini, sejumlah varian virus corona penyebab COVID-19 telah terdeteksi di Indonesia salah satunya adalah varian Alpha, Beta, dan Delta. Berdasarkan hasil pemeriksaan genome sequencing di DKI Jakarta per 6 Juni 2021, setidaknya terdeteksi 15 kasus akibat infeksi 3 varian dalam kategori VOI tersebut.

Oleh karena itu, kita tetap perlu menjalankan protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) dengan penuh disiplin. Selain itu, sebisa mungkin hindari kerumunan serta area tertutup dengan sirkulasi udara kurang baik. Jangan lupa untuk segera mendapatkan vaksin untuk mencegah timbulnya gejala berat jika terinfeksi di kemudian hari. (ndi)

 

 

sumber: hellosehat

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesehatan

India Izinkan Uji Coba Vaksin Novavax untuk Anak Usia 7-11 Tahun

Diterbitkan

Pada

Penulis

ilustrasi (ist/net)
Baca Berita

Kesehatan

Dinilai Berisiko Tulari Anak-anak, Menko PMK Khawatirkan Tingginya Kasus TBC di Indonesia

Diterbitkan

Pada

Penulis

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy (ist/net)
Baca Berita

Kesehatan

Kepatuhan Masyarakat Terhadap Prokes Diapresiasi

Diterbitkan

Pada

Penulis

Baca Berita
Loading...