Connect with us

Politik

NasDem Tantang Politik Keluar dari Jebakan Elektoral

Diterbitkan

Pada

NasDem Tantang Politik Keluar dari Jebakan Elektoral
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Belum usai rancangan UU Pemilu dibahas DPR, masyarakat kembali disuguhkan wacana politik kekuasaan 5 tahunan. Dalam diskusi yang diselenggarakan Indonesia Presidential Studies bekerja sama dengan Fix Jakarta.com, wacana Calon Presiden Non-Muslim digulirkan. Keluar dari perdebatan soal 3 periode.

Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya menegaskan kejumudannya terhadap wacana politik kekuasaan yang semakin dibuat dangkal. Dia bahkan menantang think-tank, masyarakat sipil, dan politisi untuk keluar dari jebakan politik elektoral rendahan. Menurutnya politik punya tugas pendidikan kepada masyarakat yang jauh tertinggal dari tugas politik lain saat ini.

“Pendekatan-pendekatan kuantitatif itu benar-benar sudah menyesatkan. Kita harus keluar dari hal itu. Kalau kita ikuti terus, kualitas demokrasi kita menjadi pertaruhan,” tegasnya.

Willy yang juga Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR RI mengatakan soal capres berbasis agama, kesukuan, dan politik populisme sempit itu perlu direstorasi. Pendekatan ilmiah, kemampuan, rekam jejak, dan virtue kepemimpinan harus terus didesakkan dalam wacana politik masyarakat.

“Di NasDem hal demikian terus kami usung. Sikap politik ilmiah yang idealis ini memang punya konsekuensi dan kami sudah menerimanya. Pak Surya Paloh sebagai teladan pernah berucap, bahwa dia memimpikan ada Woworuntu dari Sulawesi, Siagian dari Sumatera, hitam kukitnya dan keriting rambutnya dari Papua menjadi Presiden Indonesia dan itu benar-benar dia perjuangkan lewat Partai NasDem,” ucapnya.

Dia menambahkan, pertarungan politik di Indonesia paska orde baru meninggalkan jauh dibelakang usaha-usaha untuk membangun narasi kebangsaan. Politik kebangsaan jadi dikerdilkan dengan hanya sibuk menempatkan diri pada kekuasaan.

“Narasi Kebangsaan dalam politik dan jagat sosial kita makin langka. Masyarakat Sipil, Aktivis, dan partai-partai lain saya tantang, ayo kita sama-sama mengaktifkan kembali politik kebangsaan. Ini tugas bersama, hand-in hand kita lakukan ini,” tantangnya.

Lebih jauh dia menegaskan politik perlu dikembalikan pada ranah kebangsaan yang non diskriminasi, keluhuran kemanusiaan, yang secara bernas melangkah untuk cita-cita konstitusi. Itulah menurutnya yang menjadi medan politik menjadi pilihan sadar Partai NasDem.

“Itu kenapa restorasi menjadi penting. Kalau pada satu sisi politik elektoral adalah tesis dan populisme politik adalah antitesisnya maka kita perlu bangun sintesanya, jalan keluarnya. Saya sebenarnya menghindari berteori-teori. Namun fakta yang kita lihat adalah demikian. Maka teman-teman aktivis, masyarakat sipil, politisi ayo dong dengan fakta yang ada ini kita buat solusinya, kita jalankan program restorasi” ucapnya.

Dia mengingatkan narasi kebangsaan yang sudah makin sayup di tengah masyarakat akan terus menghasilkan politik dangkal jika tidak ada upaya serius mengubahnya.

“Tidak bisa cepat memang, tapi harus dimulai. Narasi kebangsaan yang bukan lagi vis a vis agama, budaya, kesukuan, kaya-miskin. Kita perlu menghidupkan itu, restorasi itu, di jagat politik Indonesia,” pungkasnya.(ilm)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Politik

Legislator PAN: Kejadian Penginjakan Kepala Warga Papua Perlihatkan Sikap Eksesif TNI AU

Diterbitkan

Pada

Legislator PAN: Kejadian Penginjakan Kepala Warga Papua Perlihatkan Sikap Eksesif TNI AU
Baca Berita

Politik

Sindir Luhut yang Suruh SBY Ikuti Cara Habibie, Fadli Zon: Indonesia Bukan Milik Segelintir Orang

Diterbitkan

Pada

Sindir Luhut yang Suruh SBY Ikuti Cara Habibie, Fadli Zon: Indonesia Bukan Milik Segelintir Orang
Baca Berita

Politik

Soal Kritik Luhut ke SBY, Nasdem: Tak Perlu Dihebohkan

Diterbitkan

Pada

Soal Kritik Luhut ke SBY, Nasdem: Tak Perlu Dihebohkan
Baca Berita
Loading...