Makin Menggila, TB Hasanuddin : Stop Bicara Pilpres Ini Saatnya Fokus tangani Lonjakan Covid

  • Bagikan
Makin Menggila, TB Hasanuddin : Stop Bicara Pilpres Ini Saatnya Fokus tangani Lonjakan Covid
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin, meminta kepada semua pihak untuk berhenti membicarakan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Menurutnya, saat ini harus fokus pada penanganan Covid-19 sebab jumlah kasus positif di Indonesia terus melonjak.

Saya berharap, dulu, Pilkada atau Pilres 2024. Lonjakan kasus covid-19 ini merupakan prioritas yang lebih penting untuk membantu rakyat,” kata TB Hasanuddin melalui pers, Rabu (23/6/2021).

Politisi PDI Perjuangan ini menyebut, selain dari Covid-19, menurut data Kementerian Kesehatan tingkat hunian tempat tidur (BOR) atau keterisian tempat tidur rumah sakit rujukan Covid-19 semakin menipis, terutama di Pulau Jawa.

“Hal ini membuat saya risau karena kasus covid-19 ini semakin meningkat. Sejumlah provinsi bahkan menyatakan darurat dan siaga satu covid karena rumah sakit tidak mampu menampung pasien,” katanya.

Hasanuddin juga mengajak seluruh elemen masyarakat baik pemimpin formal maupun non formal, tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM ataupun organisasi masyarakat (ormas) untuk bersatu dan bergotong royong menanggulangi pandemi Covid-19.

Apalagi kata Hasanuddin, masyarakat di daerah membutuhkan sembako dan juga Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga kesehatan.

“Saat ini tidak hanya TNI Polri tapi ormas, lsm, relawan dan parpol harus fokus pada fokus atasi pandemi yang kini menjadi ancaman bangsa. Masyarakat di daerah sangat membutuhkan bantuan sembako dan APD. Soal Pilkada dan Pilpres insya allah nanti ada waktunya,” tegasnya.

Sementara, kasus covid-19 ini menurut Juru Bicara Satuan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito secara nasional mengalami peningkatan sebesar 92% sejak 4 minggu terakhir.

“Secara nasional mengalami peningkatan berita tayang hari ini sebesar 92% sejak 4 minggu terakhir. Ini adalah peningkatan yang sangat tajam, dan tidak dapat ditoleransi,” tegas Wiku dalam siaran pers, Rabu (23/6).

Wiku mengungkapkan, berdasarkan data per 20 Juni 2021 ada enam provinsi di Pulau Jawa yang menilai kejadian-kejadian tertinggi yakni di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Banten.

DKI Jakarta meningkat sebesar 387%, dengan total kenaikan 20,634 kasus; Jawa Barat meningkat sebesar 115%, dengan total kenaikan 8.382 kasus; Jawa Tengah meningkat sebesar 105%, dengan total kenaikan 5.896 kasus.

Sementara Provinsi Jawa Timur meningkat 174% dengan total kenaikan 2.852 kasus; DI Yogyakarta meningkat sebesar 197%, dengan total 2.583 kasus; dan Banten meningkat sebesar 189%, dengan total 967 kasus.(Din)

  • Bagikan
Loading...