1

Konvensi Capres NU 2024 Jadi Gizi Demokrasi Kaum Nahdliyyin

Realitarakyat.com – Terlepas dari pro-kontra terhadap kegiatan penjaringan calon presiden/wakil presiden 2024 yang diselenggarakan oleh kalangan muda NU melalui Tim Sembilan. Pelaksanaan Konvensi ini terus menggelinding, bahkan mendapat respon masyarakat, serta membangkitkan semangat bagi kader nahdliyyin untuk berpartisipasi dalam Pemilu 2024.

“Justru kami banyak mendapatkan support dari akademisi NU dan para tokoh Nahdliyyin di berbagai daerah dan luar negeri, apalagi ini sebuah kreatifitas,” kata Anggota Tim Sembilan Konvensi Capres NU 2024, Amsar Dulmanan, kepada wartawan di Jakarta, Rabu, (9/6/2021).

Lebih lanjut Amsar menjelaskan konvensi ini adalah perwujudan dari prinsip kebebasan berpendapat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar (UUD), juga merupakan penguatan proses demokratisasi dan pemberdayaan civil society di Indonesia.

Menurut Dosen UNUSIA Jakarta itu, forum perhelatan virtual untuk menjaring aspirasi publik yang menyangkut sosok calon presiden/wakil presiden RI 2024 itu menjadi salah satu forum edukasi politik bagi masyarakat bawah, khususnya warga NU. Dengan sistem inilah, asas kepantasan dan kepatutan tokoh NU untuk ditawarkan menjadi pemimpin nasional itu benar-benar muncul dari bawah.

Kendati demikian, sambung, Amsar, pihaknya menyadari bahwa proses penjaringan yang dilakukan secara on-line itu juga rentan terhadap munculnya buzzer dari kandidat tertentu untuk memenangkan hasil akhir polling. “Ya, saya kira wajarlah, karena masing-masing capres punya tim sukses,” ujarnya.

Disisi lain, Koordinator Nasional Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FKGMNU) itu memastikan polling bukanlah satu-satunya instrumen untuk menentukan asas kepatutan & kepantasan seorang kandidat untuk maju sebagai seorang Capres/Cawapres. “Masih ada instrumen lain yang relatif independen & tak bisa diintervensi oleh buzzer,” jelas Amsar.

Yang lebih menggembirakan, menurut sesepuh Alumni PMII UI itu, justru membanjirnya dukungan moral dari berbagai kalangan, bukan hanya dari internal kaum Nahdliyin. Bahkan banyak dari akademisi dan tokoh non muslim yang memberikan apresiasi dan dukungan terhadap langkah ditempuh oleh kalangan muda itu. “Sejumlah tokoh ormas lain juga memberi support karena ini dianggap menjadi tradisi demokrasi baru yang bisa menjadi anti tesis terhadap hegemoni kaum oligarkhi politik.”

Kendati demikian, Kandidat Doktor Filsafat Politik UI itu juga mengakui adanya segelintir elit politik NU yang gerah dengan penjaringan Capres/Cawapres tersebut. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Tim Sembilan yang berdasarkan aspirasi dan kesepakatan kaum muda Nahdliyyin. “Mungkin secara formal, kita ini dianggap ‘bukan siapa-siapa’ karena bukan pengurus NU, tapi secara faktual gagasan ini menjadi jembatan emas adanya kesenjangan antara aspirasi warga dengan elit Nahdliyin, baik yang di Parpol maupun Ormas,” pungkasnya.[prs]