KKP kembangkan inovasi teknologi budidaya ikan baung dan Ikan Lokal di Sumatera

  • Bagikan
KKP kembangkan inovasi teknologi budidaya ikan baung dan Ikan Lokal di Sumatera
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan inovasi teknologi budidaya ikan baung yang kerap ada di banyak daerah di Sumatera untuk pengembangan komoditas ikan lokal dan peningkatan kesejahteraan dan gizi masyarakat.

“Tim teknis dan perekayasa kami terus mengembangkan inovasi dan teknologi dalam budidaya ikan lokal sehingga dapat menghasilkan strain dengan pertumbuhan maksimal serta memberikan keuntungan yang lebih bagi pembudidaya,” kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (26/6/2021).

Ia mengemukakan bahwa ikan baung merupakan salah satu komoditas berbasis kearifan lokal yang didorong oleh KKP melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi, untuk dapat dibudidayakan oleh masyarakat.

Tb Haeru Rahayu, yang akrab disapa Tebe, menyatakan bahwa komoditas ikan lokal seperti baung memiliki nilai potensi ekonomi yang tinggi karena populasinya yang cenderung menurun sehingga sulit untuk ditemukan di pasaran dan membuat harganya menjadi melambung.

“Harga jual yang tinggi mengakibatkan Ikan baung menjadi banyak ditangkap dan diburu oleh masyarakat, sehingga dikhawatirkan akan mengalami penurunan populasi terhadap komoditas ikan ini. Selain mendorong masyarakat untuk mulai membudidayakan Ikan Baung, KKP juga rutin melakukan penebaran benih ikan atau restocking di berbagai perairan umum habitat Ikan Baung untuk menjaga kelestarian dan stok populasinya,” papar Tebe.

Tebe juga mengajak pelaku usaha budidaya agar dapat terus melestarikan komoditas ikan lokal seperti Ikan Baung agar tetap dapat dinikmati oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi maupun peningkatan pendapatan.

Sementara itu, Kepala BPBAT Sungai Gelam, Boyun Handoyo mengungkapkan bahwa Ikan Baung menjadi salah satu komoditas lokal unggulan di Pulau Sumatera karena memiliki citarasa yang lezat dan nilai ekonomis yang tinggi.

Selain itu, menurut Boyun Handoyo, Berbagai olahan kuliner seperti pindang Ikan Baung menjadi favorit masyarakat Sumatera seperti di daerah Lampung, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi.

“KKP melalui BPBAT Sungai Gelam telah berhasil memijahkan dan mengembangbiakkan Ikan Baung dalam skala massal sejak tahun 2009, namun masih banyak pembudidaya yang belum mengetahui bahwa ikan ini sudah dapat dibudidayakan,” ungkap Boyun.

Boyun juga menilai dengan level harga yang cukup menjanjikan diantara komoditas ikan air tawar lainnya, bisnis ikan baung menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan gairah ekonomi serta pendapatan masyarakat.

Perekayasa Madya BPBAT Sungai Gelam sekaligus Penanggung Jawab Kerekayasaan Ikan Spesifik Lokal di BPBAT Jambi, Yudi Yustiran menegaskan bahwa antusiasme masyarakat dalam mengonsumsi Ikan Baung karena memiliki tekstur daging dan rasa yang nikmat dengan jenis olahan beragam seperti pade dan tempoyak sehingga memiliki harga pasar yang cukup tinggi.

Yudi menyebutkan bahwa biaya investasi untuk pembesaran di kolam dengan kapasitas kolam 5.000 ekor seperti kolam pembesaran, jaring pembesaran dan alat panen sebesar Rp63,5 juta. Sementara biaya operasional produksi pembesaran Ikan Baung antara lain seperti pakan pembesaran, benih 3 inci dan bahan lainnya dengan total sebesar Rp47,6 juta.

“Dalam satu siklus memerlukan waktu sekitar 8-9 bulan dengan panen ukuran 400-500 gram. Dengan asumsi tingkat kelangsungan hidup 80 persen dan Food Convertion Ratio (FCR) 2 maka pada kolam 1.500 m2 dengan kapasitas produksi 5.000 ekor benih bisa menghasilkan 4.000 ekor atau sekitar 1,8 ton,” tambah Yudi.

Yudi menambahkan secara analisis usaha dapat disimpulkan dengan asumsi harga jual Ikan Baung yang dapat mencapai rata rata Rp40 ribu per kg (harga di pembudidaya) dan berat total panen per siklus 1,8 ton, maka diperoleh keuntungan per siklus sekitar Rp35,9 juta. Biaya investasi dapat dikembalikan dengan usaha yang berproduksi secara berkelanjutan, sekitar kurang lebih 1,5 tahun.(MT)

  • Bagikan