Connect with us

Kesehatan

Inilah Obat yang Berpotensi Merusak Hati (Hepatotoksik)

Diterbitkan

Pada

Inilah Obat yang Berpotensi Merusak Hati (Hepatotoksik)
ilustrasi (ist/net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Setiap obat yang Anda minum akan melewati organ hati untuk dipecah lebih dulu sebelum dapat digunakan oleh tubuh. Hati kemudian membuang sisa zat kimia dalam obat yang tidak terpakai untuk mencegah timbulnya reaksi hepatotoksik.

Reaksi hepatotoksik adalah cedera atau kerusakan pada hati akibat konsumsi obat. Kondisi yang juga disebut hepatotoksisitas ini biasanya disebabkan oleh penggunaan obat dengan jenis atau jumlah dosis yang tidak sesuai. Simak selengkapnya.

Efek obat terhadap hati
Hati mempunyai peran penting dalam proses pemecahan obat di dalam tubuh. Apabila penggunaan obat merusak hati, hal ini dapat mengganggu fungsi hati sehingga turut mengganggu berbagai sistem di dalam tubuh.

Obat-obatan sebenarnya tidak berbahaya bagi hati bila diminum sesuai anjuran. Jenis obat yang diketahui membahayakan, terutama bagi penderita penyakit hati, biasanya mencantumkan peringatan mengenai penggunaannya bagi penderita yang berisiko.

Obat bisa menyebabkan penyakit hati dalam beberapa cara. Ada obat yang bisa secara langsung merusak hati, dan ada pula obat yang berubah menjadi zat kimia tertentu. Zat kimia ini dapat menyebabkan luka pada hati secara langsung maupun tidak langsung.

Ada tiga hal yang membuat suatu obat yang tadinya bermanfaat menjadi hepatotoksik, yaitu dosis obat, kerentanan seseorang terhadap obat, dan alergi obat. Ada pula kasus langka ketika seseorang memiliki hati yang sangat rentan terhadap suatu obat.

Obat yang bisa bersifat hepatotoksik
Banyak obat bisa memengaruhi fungsi hati, merusaknya, atau menyebabkan keduanya. Beberapa obat-obatan bahkan dapat menyebabkan kerusakan langsung pada hati dan menyebabkan gejala seperti sakit kuning dan sakit perut.

Di bawah ini beberapa jenis obat yang berpotensi memiliki efek buruk bagi hati bila diminum berlebihan.

1. Acetaminophen (paracetamol)
Acetaminophen (paracetamol) sering terkandung dalam obat-obatan penurun demam, pereda flu, juga penghilang nyeri bebas resep. Sebagian besar obat nyeri yang diberi label sebagai “non-aspirin” mengandung paracetamol sebagai bahan utamanya.

Jika diminum sesuai petunjuk, obat ini sangat aman bahkan bagi penderita penyakit hati sekalipun. Namun, obat mengandung acetaminophen yang diminum terlalu banyak atau dalam dosis tinggi selama lebih dari 3 – 5 hari dapat bersifat hepatotoksik.

2. Obat antiradang non-steroid (NSAID)
NSAID merupakan obat pereda nyeri, misalnya akibat sakit kepala atau demam. Obat ini biasanya juga diresepkan untuk mengatasi radang tulang dan sendi, seperti artritis. Jenis NSAID yang umum yakni aspirin, ibuprofen, naproxen, dan diclofenac.

Ibuprofen dan NSAID lainnya jarang mempengaruhi hati, tapi komplikasi ini umum terjadi pada orang yang mengonsumsi diclofenac. Kerusakan hati akibat diclofenac bisa terjadi beberapa minggu sampai berbulan-bulan setelah Anda mulai mengonsumsinya.

3. Antibiotik
Obat antibiotik juga bisa bersifat hepatotoksik bila tidak diminum dengan benar. Contoh obat ini antara lain amoxicillin/clavulanate yang digunakan untuk infeksi bronkitis, sinus, dan tenggorokan, serta isoniazid yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis.

Kerusakan hati dari amoxicillin dan clavulanate dapat terjadi segera setelah Anda mulai memakainya, tapi gejala kerusakan hati sering terlambat dideteksi. Sementara itu, luka hati akut akibat isoniazid bisa baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian.

4. Methotrexate
Methotrexate merupakan obat untuk pengobatan jangka panjang dari psoriasis berat, rheumatoid arthritis, dan beberapa pasien penyakit Crohn. Pasien dengan penyakit hati, obesitas, atau rutin minum alkohol tidak disarankan menggunakan obat ini.

Penggunaan methotrexate jangka panjang pada kelompok tersebut bisa meningkatkan risiko sirosis hati dan penyakit perlemakan hati. Untuk mencegah efek hepatotoksik tersebut, dokter biasanya meresepkan obat ini dalam dosis rendah.

5. Amiodarone
Amiodarone digunakan untuk mengobati irama jantung tidak teratur (aritmia). Sisa obat yang tersimpan mampu menyebabkan perlemakan hati dan hepatitis. Bahkan, obat ini dapat terus merusak hati bahkan lama setelah obat dihentikan.

Kerusakan hati yang serius dapat menyebabkan gagal hati akut, sirosis, dan kebutuhan transplantasi hati. Meski begitu, kerusakan hati yang serius terjadi pada kurang dari 1% pasien dan bisa dicegah dengan penggunaan obat sesuai anjuran.

6. Statin
Statin (atorvastatin, simvastatin, dan sejenisnya) merupakan obat untuk menurunkan kolesterol “jahat” dan mencegah stroke. Obat ini cenderung tidak menyebabkan cedera hati yang signifikan, tapi statin sering kali memengaruhi tes darah fungsi hati.

Statin dalam dosis wajar tidak menimbulkan kerusakan permanen. Namun, konsumsi obat ini dalam dosis tinggi dapat bersifat hepatotoksik. Dampak yang mungkin muncul yakni kerusakan hati parah, termasuk gagal hati yang mengarah ke transplantasi hati.

7. Antidepresan
Beberapa obat antidepresan juga dapat menimbulkan efek hepatotoksik. Antidepresan dalam kelompok ini meliputi obat untuk dysthymia, gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), serta gangguan makan.

Beberapa contoh antidepresan yang bisa merusak hati termasuk bupropion, fluoxetine, mirtazapine, dan antidepresan trisiklik seperti amitriptilin. Risperidone yang digunakan sebagai antipsikotik juga dapat menyebabkan penyumbatan aliran empedu dari hati.

8. Obat-obatan anti-kejang
Beberapa obat-obatan anti-kejang atau anti-epilepsi dapat menyebabkan kerusakan hati. Fenitoin dapat menyebabkan kerusakan hati segera setelah Anda mulai meminumnya, itulah sebabnya hasil tes hati Anda akan dipantau dengan ketat.

Valproate, phenobarbital, carbamazepine, dan lamotrigin juga dapat menyebabkan luka hati. Akan tetapi, jaringan luka mungkin baru muncul setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan pemakaian obat.

9. Obat-obatan lainnya
Obat-obatan lain yang berpotensi merusak hati di antaranya:

– pil KB,
– steroid anabolik,
– obat antijamur (ketoconazole, terbinafine),
– acarbose (obat diabetes),
– antiretroviral/ARV (obat infeksi HIV),
– disulfiram (obat untuk mengatasi alkoholisme),
– allopurinol (obat pencegahan serangan asam urat),
– dan obat-obatan antihipertensi (captopril, enalapril, irbesartan, lisinopril, losartan, verapamil).

Pada dosis atau jangka pemakaian tertentu, berbagai obat di atas dapat menimbulkan efek hepatotoksik. Dampaknya antara lain menyebabkan luka pada hati atau hepatitis. Guna mencegahnya, pastikan Anda selalu mengikuti anjuran dokter saat minum obat.

Selain obat medis, suplemen dan obat herbal juga dapat menyebabkan kerusakan hati. Terlebih lagi, pengujian suplemen dan obat herbal belum tentu seketat pengujian obat medis sebelum dilepas ke pasaran sehingga potensi bahaya mungkin lebih besar.

Sebaiknya jangan mengonsumsi suplemen maupun obat herbal yang belum terbukti aman melalui uji klinis. Bahkan bila obat-obatan ini terbukti aman, jangan meminumnya secara asal atau berlebihan. Selalu ikuti aturan pakai yang diberikan. (ndi

 

 

sumber: hellosehat

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesehatan

Kata Airlangga, 21 Juta Dosis Bahan Baku Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia

Diterbitkan

Pada

Kata Airlangga, 21 Juta Dosis Bahan Baku Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia
Baca Berita

Metropolitan

Pemprov DKI: Tabung Oksigen Sitaan Segera Disalurkan ke Puskesmas

Diterbitkan

Pada

Penulis

Pemprov DKI: Tabung Oksigen Sitaan Segera Disalurkan ke Puskesmas
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ist/net)
Baca Berita

Kesehatan

Orang Tua Diimbau Lakukan Protokol Kedatangan Usai Beraktivitas di Luar Rumah, Ini Tujuannya

Diterbitkan

Pada

Penulis

Orang Tua Diimbau Lakukan Protokol Kedatangan Usai Beraktivitas di Luar Rumah, Ini Tujuannya
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku Reisa Broto Asmoro (ist/net)
Baca Berita
Loading...