Connect with us

Daerah

Saksi Mengaku Tanah Dibeli Pemilik Hotel Ayana Rp. 25 Miliar

Diterbitkan

Pada

Saksi Mengaku Tanah Dibeli Pemilik Hotel Ayana Rp. 25 Miliar
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Sidang kasus dugaan korupsi jual beli aset Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Barat senilai Rp. 1, 3 Triliun, kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang, Rabu (05/05/2021).

Sidang beragendakan pemeriksaan saksi untuk terdakwa

Agustinus CH Dulla, Veronika Syukur, Theresia Dewi Koroh Dimu, Drs. Abrosius Sukur, Abdullah Nur, Marthen Ndeo, Muhamad Achyar, Afrisal dan Caitano Soares, dipimpin majelis hakim Wari Juniati didampingi hakim anggota Ari Prabowo dan Ibnu Kholiq yang digelar secara virtual.

Jaksa Penuntut Umum Herry C. Franklin, Hendrik Tiip dan Emerensiana Jehamat menghadirkan saksi dua orang saksi atas nama Burhanudin (mantan anggota Polri) dan Antonius Hani.

Burhanudin dalam keterangannya secara virtual menjelaskan bahwa sekitar bulan Agustus 2016, terdakwa Veronika Syukur menyampaikan kepada saksi bahwa ada tiga bidang tanah yang berlokasi di Keranga dan sat itu ditunjukan kepada saksi foto copy SHM atas nama Sukri, Suaib Tahiya dan Supardi Tahiya.

“Saat  itu ibu Vero minta saya untuk mencari pembeli dan juga saat itu saya tanya berapa yang mau dijual, saat itu disampaikan harganya Rp. 19 Miliar , kemudian saya tanya komisi fee saya bagaimana ? saat itu disampaikan oleh ibu Vero kalau ada yang mau beli diatas harga Rp. 19 M maka itu adalah bagian kamu,” jelas saksi.

Dilanjutkan saksi, beberapa waktu kemudian disaat sholat berjamaah, dirinya bertemu dengan H. Armansyah  dan menyampaikan bahwa ada yang mau jual tanah namun saat itu H. Armansyah tidak merespon namun beberapa minggu kemudian H. Armansyah datang menemui dirinya dan mengatakan bahwa pemilik Hotel Ayana ingin membeli tiga bidang tanah di Keranga.

“saya tidak menyangka bahwa saat itu tanah yang saya tawarkan mau dibeli dengan harga Rp. 25 Miliar dan saat pertemuan itu ada H. Armansyah, saya , Saniatma Adinoto orangnya Hotel Ayana, kemudian  bebrapa waktu kami ke Notaris Theresia Dewi Koroh Dimu dan saat itu ada Ibu Veronika Syukur, Masimiliano, Fabio, H Sukri, Supardi Tahiya, sedangkan Suaib Tahiya tidak ada karena ada di  luar kota kalau tidak salah di Jambi untuk membuat AJB antara Supardi, Suaib dan H. Sukri dan saya baru tahu kalau 3 bidang tanah di AJB hanya Rp. 8 Miliar lebih makanya saya kaget kok ibu Vero yang jual tanah harga awal 19 Miliar, tapi yang di AJB hanya Rp. 8 Miliar lebih untuk 3 bidang  tanah,” kata saksi.

Dijelaskan saksi, saat itu dirinya mendapatkan dua (2) lembar cek di Kantor Notaris, Theresi Dewi Koroh Dimu masing – masing senilai Rp. 500 Juta dan Rp. 4, 8 Miliar, selain itu dari Veronika Sukur juga dirinya mendapatkan Rp. 600 Juta sebagai komitmen fee, sedangkan Rp. 19 Miliar diurus oleh Veronika Sukur, Masimiliano dan Fabio.

“Beberapa hari kemudian saya diajak bersama – sama dengan Masimiliano dan Fabio ke denpasar untuk buka rekening di Bank Permata Bali dan saya simpan uang saya, begitu juga Masimiliano dan Fabio. Uang yang saya dapat, saya kirim ke istri saya Rp. 1. Miliar, untuk ayah saya Rp. 1. Miliar, untuk Armansyah kalau tidak salah Rp. 1. 5 Miliar dan sisanya saya pakai untuk kebutuhan sehari – hari dan sudah habis dipakai,” jujur saksi.

Sedangkan saksi Antonius Hani dalam persidangan menjelaskan bahwa tahun 2013, H. Ente Puasa meminta kepada saksi untuk membuat alas hak atas tanahnya dan saat itu tahun 2013, dirinya membeli kertas segel sebanyak 1 (satu) buah  kemudian mengetik dengan mesin ketik yang menerangkan bahwa H. Ente Puasa mendapat  bidang tanah dari H. Dalu Ishaka tahun 1980.

Saksi juga mengakui bahwa dirinya mendapatkan uang senilai Rp. 150 juta, sebagai jasa dalam membuat alas hak dari H. Ente Puasa. Namun, dirinya tidak bisa memastikan bahwa apakah alas hak yang dibuat itu benar atau tidak.

“saya buat itu berdasarkan apa yang diceritakan oleh H. Ente Puasa yang kemudian blangko kosongan itu di copykan oleh H. Ente Puasa dan diserahkan kepada saya untuk kemudian saya ketik 12 alas hak untuk 12 (dua) belas orang anggota keluarga dengan H. Ente Puasa dan mengenai tanda tangan saya tidak tau siapa yang mengurus tanda tangan itu karena saat saya ketik masih dalam bentuk blangko kosong, sehingga saya menyadari bahwa Alas Hak Ente Puasa dan mengenai alas Hak H. Sukri itu juga saya buatkan di tahun 2013 dengan membeli kertas segel bermeterai tahun 1997 dan mengetik alas hak bahwa orang tua dari H. Sukri yang bernama Ketang ada memberikan hibah tanah kepada H. Sukri sesuai dengan yang diceritakan oleh  H. Sukri dan saya sama sekali tidak mengetahui apakah benar atau tidak keterangan H Sukri dan juga tidak pernah turun ke Lapangan dan dari membantu membuat alas hak saya mendapat Rp. 150 Juta dari H. Ente Puasa.(rey)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daerah

Kini Giliran PDIP Kaltara Laporkan Hersubeno Terkait Penyebar Konten Hoaks Megawati Meninggal Dunia

Diterbitkan

Pada

Penulis

Kini Giliran PDIP Kaltara Laporkan Hersubeno Terkait Penyebar Konten Hoaks Megawati Meninggal Dunia
Baca Berita

Daerah

Kebijakan Ganjil Genap di DIY akan Diberlakukan Menuju Objek Wisata

Diterbitkan

Pada

Penulis

Kebijakan Ganjil Genap di DIY akan Diberlakukan Menuju Objek Wisata
Baca Berita

Daerah

Sebanyak 2 Ribu Benih Lobster akan Diselundupkan, Beruntung Berhasil Digagalkan

Diterbitkan

Pada

Penulis

Sebanyak 2 Ribu Benih Lobster akan Diselundupkan, Beruntung Berhasil Digagalkan
Baca Berita
Loading...