Connect with us

Ekonomi

Kepala BRIN: Tanpa Riset dan Pengembangan Produk, Swasta Sulit Bersaing

Diterbitkan

Pada

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko (ist/net)
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mendorong swasta agar lebih meningkatkan perannya dalam riset dan inovasi supaya bisa berkontribusi lebih tinggi.

“Tanpa riset dan ‘product development’ (pengembangan produk) yang berbasis teknologi, tentu swasta sulit bersaing secara global,” kata Handoko, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/5/2021).

Handoko menuturkan kontribusi swasta terkait anggaran riset saat ini masih rendah. Menurut dia, itu bukan sepenuhnya salah swasta karena sektor riset merupakan sektor yang membutuhkan biaya tinggi (high cost) dan memiliki risiko tinggi (high risk) sementara hasilnya belum tentu, bisa gagal atau berhasil.

Kepala BRIN menuturkan salah satu tantangan utama riset yang dihadapi Indonesia saat ini yakni terkait anggaran riset dan inovasi dalam negeri yang didominasi oleh pemerintah melalui anggaran dengan persentase 80 persen.

“Tantangan utama saat ini adalah riset yang didominasi pemerintah, yakni 80 persen. Padahal alokasi anggaran riset Indonesia itu sendiri masih sangat kecil, untuk itu perlu dimanfaatkan lebih lanjut, dengan meningkatkan kolaborasi dengan mitra potensial,” ujar Handoko.

Tantangan utama lain adalah masalah fundamental riset Indonesia di mana “critical mass” masih rendah, terkait dengan sumber daya manusia, infrastruktur, dan anggaran.

“Maksudnya ‘critical mass’ itu kalau ditotal banyak, tapi negara kita besar, tersebar di mana-mana, akhirnya kapasitas dan kompetensi untuk berkompetisi dari setiap grup itu jadi turun jauh,” tuturnya.

Oleh karena itu, BRIN akan segera melakukan konsolidasi sumber daya riset dan inovasi Indonesia, baik sumber daya manusia, infrakstruktur, maupun anggaran.

“Sumber daya periset dan infrastruktur telah kita miliki, sehingga swasta bisa memulai ‘product development’ berbasis riset dengan menggunakan sumber daya periset dan infrastruktur yang sudah tersedia. Dengan cara itu kami yakin swasta akan tergerak beramai-ramai untuk mengembangkan produk berbasis riset karena praktis, istilahnya tinggal bawa bahan, sehingga risikonya minimal,” ujarnya.

Di sisi lain, Handoko menuturkan Indonesia belum manfaatkan keanekaragaman hayatinya secara luas dan optimal. Dia menginginkan pengungkapan lebih banyak atau eksplorasi lebih lanjut terhadap kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

“Secara alam Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati, itu adalah anugerah yang kita miliki saat ini. Dalam konteks riset dan ekonomi, itu semua adalah modal besar. Ini adalah ‘local competitiveness’ yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Masalahnya hal ini tidak tereksplorasi selama ini, sehingga nilai tambah rendah karena tidak tersentuh dengan riset. Upaya kita adalah percepatan, ekplorasi dan peningkatan nilai tambah dari biodiversitas kita ini,” tutur Handoko. (ndi)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi

Walhi: Ketimpangan Penguasaan Lahan, Warga Jadi Kehilangan Sumber Produksi Pertanian dan Perkebunan

Diterbitkan

Pada

Penulis

Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Hairul Sobri (ist/net)
Baca Berita

Ekonomi

Wih! Pemerintah Targetkan Produksi 600 Ribu Mobil Listrik di 2023

Diterbitkan

Pada

Penulis

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasmita/Net
Baca Berita

Ekonomi

Pemerintah Klaim Potensi Ekonomi dari Gelaran World Superbike Mandalika Bisa Capai Rp500 Miliar

Diterbitkan

Pada

Penulis

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Gubernur NTB Zulkieflimansyah meninjau kesiapan sirkuit Mandalika jelang gelaran World Superbike/Net
Baca Berita
Loading...