Connect with us

Kesehatan

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Diterbitkan

Pada

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?
ilustrasi (ist/net)

Realitarakyat.com – Saat terinfeksi COVID-19, sistem kekebalan tubuh akan meresponsnya dengan membentuk antibodi. Antibodi yakni sel-sel yang secara spesifik dibentuk untuk melawan virus tertentu, dalam hal ini virus SARS-CoV-2.

Setelah sembuh dari COVID-19, antibodi ini tetap bertahan untuk mengantisipasi terjadinya infeksi ulang dari virus yang sama.

Secara teori, selama antibodi yang terbentuk dari kemenangan melawan COVID-19 ini masih berada dalam tubuh, maka orang tersebut akan kebal terhadap infeksi kedua. Pertanyaannya, berapa lama antibodi ini bertahan dalam tubuh? Apakah cukup untuk melindungi infeksi berulang sampai pandemi berakhir?

Antibodi pasien COVID-19 sembuh hanya bertahan 6 bulan?
Peneliti dari Oxford University mengatakan, pasien COVID-19 sembuh akan kebal terhadap infeksi kedua setidaknya selama enam bulan. Hasil studi ini didapatkan dari pengamatan pada fenomena infeksi berulang yang terjadi.

“Kami yakin, setidaknya dalam jangka pendek, kebanyakan orang yang sudah sembuh dari COVID-19 tidak akan tertular lagi,” kata David Eyre, profesor di Oxford University yang berperan sebagai ketua peneliti. Ia menegaskan bahwa infeksi COVID-19 kedua kali relatif jarang terjadi.

Meski belum ditinjau rekan sejawat (peer review), studi yang dipublikasi Jumat (20/11) ini disebut sebagai langkah penting dalam memahami antibodi COVID-19 pada pasien sembuh.

Peneliti juga mengklaim bahwa studi ini merupakan penelitian skala besar pertama tentang seberapa besar perlindungan yang diberikan antibodi alami terhadap COVID-19 pada orang yang pernah terinfeksi.

Bagaimana studi dilakukan?
Studi ini dilakukan 30 pekan selama periode April dan November dengan mengamati sebanyak 12.180 pekerja kesehatan yang dipekerjakan di Rumah Sakit Universitas Oxford.

Sebelum diamati, semua peserta melakukan tes untuk mendeteksi adanya antibodi COVID-19 yang menandakan dia pernah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Total ada 1.246 yang memiliki antibodi COVID-19 dan 11.052 yang tidak memiliki antibodi COVID-19.

Setelah diamati selama kurang lebih 8 bulan, di antara responden dari kelompok yang telah memiliki antibodi, tidak ada satupun yang bergejala ketika terinfeksi selama periode pengamatan tersebut. Sedangkan pada kelompok yang tidak memiliki antibodi, ada 89 orang yang dinyatakan positif COVID-19 dengan gejala.

Para peneliti menekankan bahwa studi pengamatan ini belum memberikan cukup data untuk menilai kekebalan COVID-19 lebih lama dari 6 bulan. Namun, studi tersebut meyakini bahwa mereka yang kembali terinfeksi virus SARS-Co-V-2 tidak mengulangi gejala yang sama seperti ketika terinfeksi pertama kali.

Studi sebelumnya terhadap staf di Rumah Sakit Universitas Oxford (5/11) menemukan antibodi COVID-19 turun setengahnya dalam waktu kurang dari 90 hari. Penelitian yang juga belum ditinjau rekan sejawat ini mengatakan tingkat antibodi turun lebih cepat pada orang dewasa muda.

“Dari penelitian sebelumnya, kami tahu bahwa tingkat antibodi terus menurun seiring waktu, tapi studi ini menunjukkan bahwa ada kekebalan yang didapatkan oleh pasien COVID-19 setelah sembuh,” kata Eyre. Sebelumnya diduga antibodi alami terhadap COVID-19 hanya bertahan tiga bulan, namun penelitian membuktikan bahwa sistem kekebalan yang terbentuk bisa bertahan lebih lama.

Mereka akan melanjutkan pengamatan pada peserta uji yang sama untuk mengetahui faktor penyebab daya tahan pasien sembuh COVID-19 kebal terhadap infeksi kedua, termasuk bagaimana tingkat keparahan gejala jika terjadi kasus infeksi berulang.

Laporan infeksi berulang dan antibodi COVID-19
Kasus infeksi berulang pertama dilaporkan oleh peneliti Hongkong pada Senin (24/8). Kasus ini terjadi pada seorang pria yang pertama kali terinfeksi pada akhir Maret. Setelah dinyatakan sembuh, empat bulan setengah kemudian ia kembali dinyatakan positif.

Hasil positif ini menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan perlindungan sistem kekebalan tubuh terhadap COVID-19 dari pasien yang telah sembuh. Laporan pasien tertular COVID-19 dua kali jarang terjadi dan sejauh ini tidak disertai data identitas virus sehingga tidak dapat dikonfirmasi apakah itu virus yang lama yang belum hilang atau memang infeksi ulang.

Pada kasus ini, peneliti Universitas Hongkong membeberkan data genetika virus dari dua infeksi yang terjadi. Hasilnya mereka menemukan identitas genetik keduanya tidak cocok. Hal tersebut mengkonfirmasi bahwa infeksi kedua tidak berkaitan dengan infeksi pertama sebab infeksi kedua kemungkinan disebabkan oleh strain virus yang berbeda. (*)

 

sumber: hellosehat

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesehatan

Geber Vaksinasi Lansia, Kemenkes Bakal Pakai Strategi Door to Door

Diterbitkan

Pada

Geber Vaksinasi Lansia, Kemenkes Bakal Pakai Strategi <i>Door to Door</i>
Baca Berita

Kesehatan

Satgas Klaim Varian Mutasi Covid B1617 dari India Belum Terdeteksi Penyebarannya di Indonesia

Diterbitkan

Pada

Satgas Klaim Varian Mutasi Covid B1617 dari India Belum Terdeteksi Penyebarannya di Indonesia
Baca Berita

Kesehatan

Poempida Dukung Langkah Menaker Larang PMI Mudik Lebaran Tahun Ini

Diterbitkan

Pada

Poempida Dukung Langkah Menaker Larang PMI Mudik Lebaran Tahun Ini
Baca Berita
Loading...