Viral, Biarawati Berlutut dan Memohon Aparat Myanmar Berhenti Lakukan Kekerasan dan Tembaki Demonstran

  • Bagikan
Viral, Biarawati Berlutut dan Memohon Aparat Myanmar Berhenti Lakukan Kekerasan dan Tembaki Demonstran
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Seorang biarawati di Myanmar menjadi pebincangan publik setelah berlutut dan memohon kepada aparat keamanan agar berhenti menyerang demonstran anti-kudeta. Perempuan itu membujuk aparat beberapa saat sebelum dua demonstran tewas ditembak, di Kota Myitkyina, Senin (8/3/2021).

Biarawati itu bernama Ann Roza Nu Tawng berusia 45 tahun, yang mengenakan jubah putih dan penutup kepala hitam saat berlutut dan memohon kepada polisi di kota itu pada Senin pagi. Beberapa foto yang viral menunjukkan dia berlutut di dekat Gereja Katedral.

“Saya memohon kepada polisi agar tidak memukul, tidak menangkap, tidak menindak para demonstran, karena mereka ini tidak melakukan kejahatan, mereka hanya meneriakkan slogan-slogan. Polisi mengatakan kepada saya ‘kami harus menghadang massa, harap kamu menjauh dari sini’,” ujar Ann Roza kepada Sky News, dikutip pada Selasa (9/3/2021).

“Saya menjawab, ‘tidak!, jika kamu ingin melakukan itu, kamu harus langkahi saya terlebih dahulu!,” kata perempuan itu kepada aparat.

Kemudian sekitar jam 12 siang, polisi melakukan tindakan keras, dan Ann Roza kembali berlutut dan memohon agar polisi tidak menembak dan menangkap orang-orang.

Polisi juga berlutut dan mengatakan kepada Ann bahwa mereka harus menghentikan unjuk rasa.

Pada siang itu, setidaknya dua orang dipastikan tewas usai ditembak mati di jalan. Foto-foto yang mengabadikan momen menyedihkan menunjukkan Ann Roza berdiri di tepi jalan, saat seorang demonstran terluka parah tergeletak tak berdaya.

Dalam foto lainnya, Ann Roza tampak menangis saat dia bersandar ke tubuh seorang pria yang tertembak di kepala.

Dia mengatakan, karena gas air mata dia tidak melihat dengan jelas apakah polisi atau militer yang menembaki demonstran itu.

Sebelumnya, Ann Roza juga sempat berlutut tepat di depan barisan polisi yang hendang menghadang demonstran.

Dalam kejadian itu, pada 28 Februari di ibu kota negara bagian Kachin, perempuan itu berkata ‘saya siap mati’ untuk menyelamatkan demonstran yang menentang kudeta oleh junta militer.(Din)

 

  • Bagikan