Mutasi COVID-19 yang Perlu Diwaspadai, dari Inggris Hingga Afrika Selatan

  • Bagikan
Mutasi COVID-19 yang Perlu Diwaspadai, dari Inggris Hingga Afrika Selatan
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Setiap kali virus corona penyebab COVID-19 menular dari orang ke orang, virus mengalami sedikit perubahan kode genetik, dan semakin lama bisa membuat virus bermutasi menjadi varian baru. Para ahli mengingatkan untuk waspada terhadap beberapa mutasi yang dicurigai mampu lebih mudah menular dan menghindari respons kekebalan.

Perubahan genetik virus bisa berakibat pada pengobatan, keefektifan vaksin, dan salah satu yang saat ini menjadi perhatian yakni laju penularan yang lebih cepat.

B.1.7.7, varian mutasi COVID-19 yang menyebar di Inggris

Mutasi virus corona Inggris ini terjadi dalam banyak kombinasi mutasi dan dalam waktu yang relatif cepat. Varian yang disebut B.1.7.7 ini setidaknya memiliki 17 perubahan genetika yang mengubah atau menghapus asam amino dalam spike protein virus. Spike protetin berbentuk duri pada lapisan luar virus yang berfungsi mengikat sel ketika menginfeksi tubuh manusia.

Dalam beberapa bulan, varian mutasi B.1.7.7 telah meningkatkan kasus penularan COVID-19 di Inggris hingga 70%. Para peneliti mengatakan varian ini lebih mudah menular ketimbang versi sebelumnya.

Analisis oleh Public Health England menunjukkan 15% orang dinyatakan positif setelah berkontak erat dengan orang yang terinfeksi COVID-19 varian B.1.1.7. Padahal sebelumnya hanya 10% orang dinyatakan positif setelah berkontak pasien terinfeksi COVID-19 varian lama.

Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa varian ini menimbulkan keparahan gejala ketimbang varian lama. Namun, pada Januari 2021 para ilmuwan dari Inggris melaporkan bukti awal yang menunjukkan varian B.1.1.7 mungkin terkait dengan peningkatan risiko kematian dibandingkan dengan varian lain.

Varian mutasi B.1.1.7 ini telah menyebar ke luar Inggris, setidaknya telah terdeteksi di 45 negara yakni beberapa negara di Eropa, Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, termasuk Indonesia.

Mutasi virus corona Afrika Selatan B.1.351
Menurut sebuah penelitian pre print, mutasi virus corona B.1.351 Afrika Selatan berbagi mutasi dengan mutasi B.1.1.7.

Penelitian awal, yang belum melalui tinjauan sejawat, menunjukkan vaksin COVID-19 buatan Moderna dan Pfizer kemungkinan kurang efektif menghadapi varian mutasi ini, setidaknya 60% kurang efektif. Bahkan kemanjurannya menghalau gejala ringan hingga sedang hanya 10% efektif. Artinya orang yang telah divaksin dan tertular COVID-19 masih akan menunjukkan gejala ringan hingga sedang, namun belum dijelaskan bagaimana keefektifannya pada mereka yang berisiko gejala berat.

Professor Shabir Madhi, yang memimpin uji klinis vaksin di Afrika Selatan, mengatakan masih ada harapan pada vaksin COVID-19 lainnya, misalnya Johnson & Johnson yang terbukti mengurangi keparahan gejala hingga 89%.

“Vaksin AstraZeneca dapat bekerja sebaik Johnson & Johnson dalam kelompok usia yang berisiko tinggi mengalami keparahan gejala,” kata Madhi, Senin (8/2/2021), seperti dikutip dari The Independen.

Studi terpisah menunjukkan vaksin produksi Pfizer, Moderna, dan Novavax masih memberikan perlindungan terhadap varian Afrika Selatan kira-kira 60%, tapi memang tidak seefektif dibandingkan pada bentuk asli virus SARS-CoV-2.

Beberapa bukti awal menunjukkan varian mutasi ini terdeteksi di banyak negara yang kasusnya meningkat pesat. Setidaknya 20 negara mendeteksi penularan mutasi B.1.351, di antaranya Australia, Amerika Serikat, dan negara tetangga, Filipina.

Mutasi COVID-19 varian Brasil P.1
Varian mutasi P.1 pertama kali diidentifikasi Januari 2021 pada wisatawan asal Brasil di Jepang. Temuan ini kemudian dilanjutkan dengan investigasi yang menunjukkan varian P.1 menjadi penyebab peningkatan kasus pada gelombang pertama yang terjadi di Manaus, kota sungai Amazon, Brasil.

Sebuah survei donor darah pada Oktober 2020 menunjukkan bahwa 76% populasi memiliki antibodi sehingga dianggap kebal pada infeksi kedua untuk sementara waktu. Namun pada Januari ada peningkatan besar jumlah reinfeksi COVID-19 di antara orang-orang yang sudah pulih ini. Bukti ini membuat mutasi P.1 disebut sebagai mutasi yang mengkhawatirkan.

Beberapa peneliti mengatakan varian mutasi P.1 dapat melarikan diri dari antigenik. Artinya kemungkinan vaksin yang dirancang untuk menghalau COVID-19 tidak terlalu efektif melawan varian mutasi ini. Selain itu, kemungkinan orang yang telah terinfeksi COVID-19 tidak memiliki cukup antibodi alami untuk melawan infeksi kedua. (*)

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan | Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
sumber: hellosehat

  • Bagikan