Musisi dan Komikus Curhat ke Sandiaga Soal Hambatan Pandemi Covid-19

  • Bagikan
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Para musisi dan komikus tanah air mencurahkan isi hatinya perihal hambatan atau kendala yang mereka hadapi selama pandemi COVID-19, kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam acara NGOPREK (Ngobrol Bareng Pelaku Ekonomi Kreatif) yang diselenggarakan di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (23/2/2021), Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia, Chandra Darusman mengatakan saat ini memang industri musik masih sedang dalam survival mode.

“Tabungan sudah habis, alat sudah di jual, tapi harus tetap berkarya. Kita pernah melakukan survei terkait musik di era pandemi. Ada tiga hal penting yang diperoleh dari survei tersebut,” kata Chandra.

Hal pertama, yakni mayoritas populasi musisi diisi oleh musisi cafe. Maka seiring terpuruknya dunia pariwisata, khususnya bagi pihak hotel dan restoran, musisi cafe pun juga terkena dampaknya.

Kemudian, lanjut Chandra, kedua pendapatan musisi cafe rata-rata sekitar 1 juta hingga 5 juta rupiah perbulan. Jadi, asumsinya kalau ada bantuan langsung tunai 1 juta rupiah hanya bisa untuk survive selama satu bulan saja. Ketiga, baru 14 persen musisi yang masuk ke dunia digital.

“Maka dari itu, ada dua opsi agar musisi bisa bertahan, yaitu tetap di dunia musik tapi harus cepat beradaptasi dengan kemajuan digital, atau beralih profesi. Kalau menetap di dunia musik maka kita harus mampu memberikan tools serta pendampingan bagi pelaku parekraf untuk bisa digitalisasi,” ujarnya.

Di acara yang sama Ketua Asosiasi Komik, Faza Meonk mengatakan pandemi ini tentu memberikan dampak yang luar biasa terhadap industri komik, khususnya komik cetak. Akan tetapi, industri komik saat ini telah banyak memanfaatkan komik berbasis digital.

Namun, yang menjadi permasalahannya adalah rata-rata platform komik digital ini bukan dari Indonesia, jadi Indonesia tidak memiliki kendali terhadap perkembangan komik di platform digital. Di Indonesia sendiri pernah mempunyai platform komik digital yang bernama Ciayo, tapi karena pandemi platform tersebut tutup. Hal ini sangat disayangkan mengingat perkembangan arus digital saat ini sangat pesat.

Jika dimanfaatkan dengan baik, industri komik ini juga bisa dikembangkan ke dalam IP (Intelectual Product), karakter yang ada di dalam komik bisa dijadikan sebagai merchandise, game, animasi, hingga menjadi daya tarik wisata. Dia berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan IP dan memberikan regulasi terkait IP, karena IP merupakan core industri kreatif yang dapat diturunkan ke berbagai macam subsektor.

“Semoga kita bisa bersinergi bersama terutama temen-temen di industri kreatif, karena saya selalu yakin dengan IP based ini merupakan sebuah strategi yang baik untuk menyebarkan budaya dan pariwisata Indonesia,” tutur Faza.

Sementara itu Menparekraf Sandi mengaku sangat memahami apa yang menjadi kendala para pelaku ekonomi kreatif, seperti musisi dan komikus tersebut. Oleh karenanya, melalui acara ini dia ingin mendengar kendala dan masukan, agar dapat segera merumuskan kebijakan atau strategi yang tepat.

Do whatever we can, karena sekarang kita harus beralih dari kompetisi ke kolaborasi, if you can not beat them, you join, collaborate, hal ini dilakukan untuk survive di masa pandemi ini. Sebagai pemerintah, kita perlu mendengar agar masalah yang dihadapi dapat diidentifikasi dan diselesaikan dengan cepat dan akurat,” kata Sandi.

Lebih lanjut dia pun mengungkapkan, bahwa pada tahun 2019 yang lalu sektor ekonomi kreatif dapar menyerap sekitar 17 juta tenaga kerja. Dari data tersebut, menunjukkan bawah Indonesia memiliki potensi yang besar dalam bisnis ekonomi kreatif.

“Untuk itu, kita harus gerak cepat dan gerak bersama dalam merumuskan berbagai kebijakan. Sehingga bisa menciptakan mata pencaharian bagi pelaku industri kreatif Indonesia,” tutur Sandi.

Untuk diketahui selain Sandi, Faza, dan Chandra, acara NGOPREK tersebut juga dihadiri oleh beberapa narasumber lainnya yang memaparkan berbagai macam hambatan yang dihadapinya. Antara lain Ketua Pengarah Dance Festival, Nungki Kusumastuti; Founder Artjog, Heri Pemad; Ketua Umum Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Dino Hamid; Ketua Umum Ikatan Manajer Artist Indonesia, Nanda Persada; dan Ketua Umum Forum Backstager Indonesia, Sofyan Nasution. (rsa)

  • Bagikan