Mayoritas Gen Z Tak Percaya Kemanjuran Vaksin Covid

  • Bagikan
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Hasil survei yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyatakan mayoritas Generasi Z berusia 17-22 tahun tak percaya kemanjuran vaksin virus corona (Covid-19).

Total sampel sebanyak 800 responden dari dua provinsi yakni DKI Jakarta dan Yogyakarta. Satu provinsi mencatat 400 responden.

“Jika kita lihat berdasarkan usia, Gen Z baik di Jakarta maupun di Yogyakarta banyak tidak percaya pada kemanjuran vaksin Covid-19,” ucap Peneliti CSIS Edbert Gani, dalam konferensi pers ‘Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi’ secara virtual, Kamis (18/2/2021).

Secara umum, ada 55,8 persen responden di Jakarta percaya terhadap kemanjuran vaksin Covid-19. Ada 42,5 persen yang tidak percaya.

Sementara di Yogyakarta, sebanyak 68 persen responden percaya kemanjuran vaksin Covid-19. Ada 29,5 persen yang tidak percaya.

Mayoritas responden yang tidak percaya vaksin Covid-19 di DKI dan Yogyakarta itu berasal dari Generasi Z. Sebanyak 63,6 persen Generasi Z di Jakarta tidak percaya kemanjuran vaksin Covid-19, sementara di Yogyakarta sebesar 55,6 persen.

Kemudian generasi Millenial (23-28 tahun) juga menunjukkan ketidakpercayaan terhadap vaksin Covid-19. Ada sebanyak 53,1 persen responden di Jakarta dan 45,7 persen di Yogyakarta.

Baru disusul penolakan pada Generasi X (39-54 tahun) sebesar 43,2 persen di Jakarta dan 38,4 persen di Yogyakarta.

Hasil survei CSIS menunjukkan, rata-rata orang yang percaya pada vaksin Covid-19 adalah generasi Boomers (55-73 tahun). Sebanyak 73,2 persen Boomers DKI dan 75,7 persen di Yogyakarta percaya kemanjuran vaksin Covid-19.

“Kita juga melihat di Yogyakarta ada gen Silent (di atas 73 tahun) yang percaya kemanjuran vaksin Covid-19 sebesar 75 persen,” kata Gani

Survei tersebut juga menunjukkan persentase responden yang mempercayai Covid-19 dan mau mengikuti program vaksinasi.

Di Jakarta, dari 89,5 persen responden percaya virus corona ada, ada 59,5 persen yang mau divaksin dan 37,2 persen tak mau divaksin. Kemudian dari 10,3 persen responden tak percaya Covid-19, sebanyak 29,3 persennya mau divaksin dan 63,4 persen tak mau divaksin.

Sementara untuk Yogyakarta, dari 93,8 persen responden percaya virus corona, 72 persen mau divaksin, dan 25,6 persen tak mau divaksin. Lalu dari 6,3 persen responden tidak percaya Covid-19, 40 persennya mau divaksin, dan 56 persen tidak mau divaksin.

“Penduduk memang sudah mayoritas percaya pada Covid-19, namun tidak percaya pada vaksin juga tinggi,” kata

Selanjutnya, hasil survei CSIS juga melihat kesediaan warga yang ingin divaksin Covid-19. Sebanyak 56,3 persen responden warga DKI dan 70,8 persen responden Yogyakarta bersedia untuk divaksin.

Namun masih ada 39,8 persen responden DKI dan 27,5 persen responden Yogyakarta yang tidak bersedia untuk di vaksin Covid-19.

Menurut Gani, ada beberapa alasan mengapa warga tak bersedia mengikuti program vaksinasi Covid-19.

Alasan pertama adalah karena warga belum yakin dengan kualitasnya. Sebanyak 43,4 persen responden warga DKI dan 30,9 persen responden warga Yogyakarta memilih alasan ini.

Kedua, warga masih menilai vaksin Covid-19 belum teruji secara klinis. Sebanyak 14 persen responden DKI dan 15 persen responden Yogyakarta memilih alasan ini.

Lalu, sebanyak 15,1 persen responden DKI dan 20,9 persen responden Yogyakarta enggan mengikuti program vaksinasi Covid-19 karena takut ada efek samping.

“Korelasi antara kepercayaan dengan Covid-19 dan vaksin Covid-19 sangat tinggi, sehingga temuan ini dengan sendirinya membuat sosialisasi tentang vaksin mutlak dilakukan,” tuturnya.

Survei ini menyasar populasi berusia di atas 17 tahun. Survei dilakukan 13-18 Januari. Sampel sepenuhnya dipilih menggunakan metode acak (random sampling) di dua lokasi, yaitu DKI Jakarta dan Yogyakarta.

Survei ini juga memiliki margin of error kurang lebih 3,46 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.[prs]

  • Bagikan