Ternyata Belum Semua Siswa Dapat Bantuan Kuota Internet

  • Bagikan
image_pdfimage_print

Realitarakyat.com – Penyaluran bantuan subsidi kuota internet kepada siswa, guru, mahasiswa dan dosen tahap kedua telah disalurkan pada 22-24 Oktober 2020 dan 28- 30 Oktober 2020.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mengklaim sebanyak 35,7 juta nomor ponsel telah mendapatkan subsidi kuota yang disalurkan pada periode Oktober tersebut. Namun faktanya di lapangan, masih ada banyak guru dan siswa yang belum mendapatkan bantuan kuota untuk tahap satu atau kuota September.
Seperti yang terjadi di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Pangkal Pinang. Seluruh guru dan siswa di Sekolah Dasar ini masih menggunakan biaya pribadi agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di tengah pandemi covid-19.
Kepala SD Negeri 15 Pangkal Pinang Sukawati mengatakan dari 691 siswa dan 27 guru yang didaftarkan untuk mendapatkan subsidi kuota internet, baru 487 siswa dan 1 guru yang sudah terverifikasi sisanya masih dalam proses perbaikan dan validasi data.
Meski demikian, menurutnya, saat ini pihak sekolah masih melaksanakan aktivitas belajar mengajar secara daring dan luring.
“Belum. Masih menunggu dananya cair dari pusat, tetapi yang sudah tervalidasi dari pusat sebanyak 487 orang dan satu orang guru, sementara sisanya masih dalam proses perbaikan data dan validasi nomor handphone. Dan untuk satu orang siswa akan menerima sebanyak 35 giga byte per bulan,” kata Sukawati.
Hal itu pun diamini oleh Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim. Menurutnya, masih banyak guru dan siswa yang belum mendapatkan bantuan kuota untuk tahap satu atau kuota September.
Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) untuk melakukan akumulasi kuota September dan Oktober bagi guru dan siswa yang telah terdaftar sebagai penerima kuota tahap satu tapi belum menerima haknya.
“Kalau menurut saya, bagi mereka yang belum dapat kuota pada September hendaknya diakumulasikan dengan kuota Oktober ini. Misal, guru berhak mendapat 42 GB (giga byte, red) per bulan. Jadi 42 GB September ditambah dengan 42 GB untuk Oktober, agar mereka menerima haknya sesuai yang sudah direncanakan,” kata Satriwan ketika dihubungi, Minggu (01/11/2020).
Bahkan, ia sendiri pun sebagai guru di SMA Labschool di Jakarta mengaku belum mendapatkan bantuan kuota internet tersebut. Oleh karena itu, Satriwan menyarankan agar Pusdatin Kemdikbud membenahi semua nomor yang sudah didaftarkan ke data pokok pendidikan (Dapodik). Pasalnya, banyak keluhan dari guru yang belum mendapat kuota ini meski sekolah sudah mengisi surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM).
“Sejak 1 Oktober sampai sekarang, masih ada guru dan siswa yang melapor ke P2G belum dapat bantuan kuota internet bulan September. Termasuk saya sendiri juga belum dapat, padahal di Jakarta,” ungkap Satriwan.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo memprediksi serapan anggaran subsidi kuota internet hingga akhir program tersebut hanya akan terserap sekitar 60 persen dari total anggaran sebsar 7,2 triliun yang dianggarkan. Oleh sebab itu, Heru menyarankan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga dapat menggunakan sisa anggaran tersebut kepada pendidik serta peserta didik yang menggunakan konsep luring dalam PJJ di masa pandemic covid-19 ini.
“Kami memprediksi kemungkinan distribusi kuota di bulan pertama, kedua, ketiga hingga bulan keempat itu nanti akhirnya di ujung mentok maksimal hanya 60 persen penyerapan anggarannya dari total 7,2 triliun yang dianggarkan Kemendikbud. Itu kemungkinan mentoknya di sekitar itu. Itu prediksi kami, dengan adanya kelebihan anggaaran tersebut, sebaiknya Kemendikbud juga melihat bagaimana siswa yang menggunakan metode luring, dimana masih banyak yang tidak memliki smartphone berbasis android, bagaimana pendekatannya, kalau memang menggunakan modul sebaiknya memang sisa anggaran tersebut dipergunakan untuk pendistribusian modul ke sejumlah daerah yang menerapkan belajar luring,” kata Heru, ketika dihubungi, Minggu (01/11/2020).
Sementara itu sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ainun Naim mengklaim pada periode pertama bulan Oktober 2020 telah diberikan sebanyak 35,7 juta bantuan kuota data internet bagi pendidik serta peserta didik di tanah air.
“Kami optimis penerima kuota data internet tahun ini akan terus bertambah seiiring dengan akurasi data ponsel dan juga penyelesaian Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) oleh Kepala Sekolah dan pimpinan satuan pendidikan,” kata Ainun dalam keterangan pers secara daring tentang ‘Capaian Kinerja Satu Tahun Kemendikbud’, Rabu (27/10/2020).
Adapun Alokasi kuota yang diberikan yakni untuk peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 20 GB/bulan, peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah 35 GB/bulan, pendidik pada PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah 42 GB/bulan, serta untuk mahasiswa dan dosen 50 GB/bulan. Seluruhnya mendapatkan kuota umum sebesar 5 GB/bulan, sisanya adalah untuk kuota belajar.
Untuk bulan pertama, tahap pertama bantuan kuota diberikan pada 22-24 September 2020, disusul tahap kedua pada 28-30 September 2020. Kuota berlaku 30 hari terhitung sejak diterima oleh nomor ponsel. Sementara di bulan kedua, bantuan kuota diberikan pada 22-24 Oktober 2020 untuk tahap I, 28-30 Oktober 2020 untuk tahap II yang berlaku selama 30 hari terhitung sejak diterima nomor ponsel. Sedangkan untuk bulan ketiga dan keempat, tahap I diberikan pada 22-24 November dan tahap II pada 28-30 November 2020 yang berlaku selama 75 hari sejak diterima nomor ponsel pendidik dan peserta didik.(Din)

  • Bagikan