Connect with us

Nasional

ICJR: Ancaman Pembubaran Kerumunan Massa, Perburuk Kondisi Penanganan Covid-19

Published

on

foto: ist/net

Realitarakyat.com – Indonesia Criminal Justice Reform (ICJR) memandang, ancaman penggunaan Pasal 212 KUHP untuk menakut-nakuti masyarakat yang tidak menuruti perintah ‘social distancing’, merupakan tindakan berlebihan.

Hal ini, dinilai sebagai bentuk overkriminalisasi yang akan memberi beban lanjutan kepada negara.

“Dalam penanganan penyebaran Covid-19 yang harus digalakkan kepada masyarakat, adalah pentingnya pencegahan, dengan memberikan informasi komprehensif, berbasis bukti dan berdasar yang mengedepankan aspek kesehatan masyarakat atau publik untuk membangun kesadaran masyarakat, bukan ketakutan dengan ancaman pidana,” ujar Direktur Eksekutif ICJR, Erasmus Napitupulu, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Realitarakyat.com, Rabu (25/3/2020).

Sebelumnya, Pemerintah menghimbau masyarakat untuk sebisa mungkin melakukan aktivitas dari rumah dan menerapkan ‘social distancing’ agar penyebaran Covid-19 yang saat ini semakin merebak di tengah masyarakat, dapat segera terkendali.

Sayangnya, perintah tersebut masih saja tidak diindahkan oleh sebagian orang yang ditemukan sedang berkumpul dan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu di luar rumah.

Atas hal itu, Divisi Humas Polri, kemudian menyebarkan infografis di media sosial yang berisi peringatan bahwa apabila masyarakat tidak mengindahkan perintah petugas, maka dapat dipidana segaimana diatur dalam Pasal 212 KUHP.

Namun, ICJR menilai, bunyi ketentuan Pasal 212 KUHP yang tercantum dalam infografis tersebut, hanya dikutip secara sepenggal-sepenggal. Bahkan unsur esensial dalam pasal tersebut, yakni ‘dengan kekerasan atau ancaman kekerasan’ juga luput dicantumkan. Adapun bunyi Pasal 212 KUHP secara lengkap sebagai berikut:

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan kepada seseorang pegawai negeri yang melakukan pekerjaannya yang sah, atau melawan kepada orang yang waktu ‘membantu pegawai negeri itu karena kewajibannya menurut undang-undang atau karena permintaan pegawai negeri ‘itu, dihukum karena perlawanan, dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,00.”

Penghilangan unsur itu, dinilai merupakan penyesatan informasi yang dilakukan oleh Kepolisian. Selain itu, apabila dikaji lebih dalam, menurut R. Soesilo, Pasal 212 KUHP merupakan ketentuan yang diterapkan, misalnya ketika seseorang hendak ditangkap oleh petugas kepolisian kemudian melakukan perlawanan dengan memukul dan menendang petugas.

Sehingga dalam konteks, apabila masyarakat tidak mengindahkan himbauan Pemerintah untuk melakukan ‘social distancing’ direspon oleh ancaman penggunaan pidana penjara lewat Pasal 212, maka akan terjadi penggunaan hukum pidana yang berlebihan atau overkrimininalisasi.

“Tindakan overkriminalisasi ini, menurut pandangan kami, menunjukkan bahwa Pemerintah seperti tidak mampu untuk berinisiatif dan menggunakan cara yang lebih efektif untuk mengendalikan wabah Covid-19, dan terlihat bahwa Pemerintah tidak bersinergi dan tidak memandang pencegahan penyebaran Covid-19 secara komprehensif,” katanya.

Mahkamah Agung pada 23 Maret 2020 lalu menerbitkan Surat Edaran (SEMA) Nomor 1 tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Selama Masa Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Lingkungan Mahkamah Agung dan Peradilan di bawahnya.

SEMA ini intinya menekankan bahwa persidangan dan administrasi peradilan hanya dilakukan untuk hal yang sangat urgent.

Lewat SE ini, terlihat bahwa banyaknya perkara yang harus ditangani memberikan beban tersendiri bagi peradilan untuk pelakukan pencegahan penyebaran Covid-19.
“Jika Pemerintah serta merta mempromosikan ancaman kriminalisasi, dengan konsekuensi akan ada tindakan hukum yang diberlakukan kepada pelanggar ‘social distancing’, maka Pemerintah tidak sejalan dengan upaya MA mencegah penyebaran Covid-19 dalam lingkup peradilan,” ujar Erasmus.

Ancaman ini, katanya, juga jelas bertentangan dengan semangat ‘social distancing’ itu sendiri. Ancaman pidana yang digemborkan pemerintah mengenai penggunaan pidana penjara, padahal Lapas pun sekarang telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran terjadi di Lapas sebagai tempat yang rentan penyebaran virus. “Harusnya pemerintah juga mempertimbangkan hal ini,” ujar dia menambahkan.

Dikatakannya, Pemerintah seolah gagal memaksimalkan cara lain mengedukasi masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Pemerintah harusnya menjelaskan informasi komprehensif tentang Covid-19 dan dampaknya kepada masyarakat berbagai tingkatan sesuai dengan peran-peran masing-masing aparatur negara,” ujar Erasmus lagi.

Ketidakmampuan pemerintah untuk menjelaskan secara komprehensif pentingnya pencegahan penyebaran Covid-19 dan malah mengancam dengan pidana akan semakin menimbulkan ketidakpercayaan publik pada kinerja pemerintah.

“Di tengah kondisi ketidakpastian seperti ini, harusnya Pemerintah punya cara yang lebih baik dan berdasar dalam mengedukasi masyarakatnya,” ujar dia. (ndi)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Headline

Token Listrik Gratis Sudah Bisa Di Nikmati , Begini caranya

Published

on

Continue Reading

Nasional

Bantu Penanganan Covid-19, Gugus Tugas Kemenag Serahkan APD ke RS Haji Jakarta

Published

on

foto: ist/net
Continue Reading

Nasional

Kapolri Ucapkan Belasungkawa atas Wafatnya Wakil Jaksa Agung Akibat Kecelakaan Tunggal

Published

on

foto: ist/net
Continue Reading
Loading...
Loading…

#Trending