Connect with us

Ragam

Wisata Ke Gedung Juang 45 Bekasi dan Mengenang sejarah Kemerdekaan

Published

on

Realitarakyat.com – Selama ini orang jika mendengar gedung juang selalu bepikir yang berada di berada di Jalan Menteng Raya No.31, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

Ternyata Gedung juang 45 juga ada di Bekasi tepatnya, di di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tambun Selatan Bekasi.

Pagi ini Tim Realitarakyat.com sengaja mendatangi tempat bersejarah bernama Gedung Juang di daerah Tambun Bekasi. Dengan menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari kantor Redaksi Realitarakyat.com, kami memasuki gedung tersebut untuk memulai eksplorasi.

Berlokasi di Jalan Sultan Hasanudin, dekat Pasar Tambun dan Stasiun kereta api Tambun, Gedung Juang 45 Tambun atau yang lebih dikenal dengan Gedung Tinggi oleh masyarakat sekitar ini adalah bangunan berarsitektur neoklasik yang dibangun oleh militer Belanda tahun 1906 lalu ketika Belanda pergi dari Indonesia Gedung ini diambil alih oleh tuan tanah Kow Tjing Kie. Gedung ini salah satu gedung bersejarah di daerah Tambun Bekasi, sebab gedung ini merupakan salah satu gedung bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bekasi saat revolusi terjadi.

Gedung Juang 45 ini setiap hari selalu ramai pengunjung dari masyarakat sekitar yang ingin mengetahui bagaimana sejarah dari gedung juang tersebut atau hanya sekedar jalan jalan bersama keluarga mereka.

Fasilitas yang tersedia di tempat wisata ini diantaranya, tempat parkir, toilet dan juga pemandu wisata, jadi tidak perlu khawatir ketika anda berkunjung kesana. Anda bebas bertanya-tanya mengenai Gedung Juang 45 ini, terutama tentang sejarah panjangnya tempat ini. Ditempat wisata Gedung Juang 45 ini tidak hanya terdapat satu gedung saja, namun terdapat bangunan-bangunan lainnya, seperti patung-patung pahlawan dan juga beberapa barang peninggalan masa penjajahan.

Selain menawarkan keindahan dan juga edukasi bagi para pengunjung, tempat ini terbilang sangat murah. Tidak ada tiket masuk untuk ketempat ini, anda hanya perlu membayar untuk biaya parkir kendaraan saja dan juga biaya operasional untuk pemandu wisata. Untuk biaya operasional pemandu wisata anda dapat membayar mulai dari Rp.5000 sampai dengan Rp.10.000.

 

Tempat wisata ini sebenarnya sudah milik pemerintah, namun pemerintah menyerahkan segala kegiatan disana kepada Komunitas Seni dan Budaya Bekasi.

Pemerintah hanya memberikan dana untuk perawatan tempat tersebut, maka para anggota Komunitas Seni dan Budaya Bekasi memberi tarif untuk kunjungan.

Wisata Gedung Juang 45 beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 sampai dengan 19.00. Pada hari sabtu beroperasi hingga pukul 20.00. Jika anda berkunjung pada sabtu malam, anda akan disuguhkan oleh penampilan beberapa komunitas seni dan budaya yang ada di Bekasi.

Mulai dari seni seni tradisional sampai dengan modern. Selain tempat wisata sejarah, Gedung Juang 45 juga menjadi tempat pusat kesenian di Bekasi yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Bekasi.

Jika anda ingin mengenal kesenian modern dan tradisional, anda bisa datang ketempat ini pada sabtu malam. Itulah wisata Gedung Juang 45 ini dapat menjadi salah satu rencana liburan anda di akhir pekan, selain untuk berlibur anda juga dapat belajar, Anda juga dapat menikmati suguhan pertunjukkan seni disini.

Kedatangan kami tersebut, disambut oleh Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Cabang Bekasi, Edi Somad. Ia pun menjelaskan tentang sejarah Gedung Juang 45 Tambun dan bercerita tentang tentang perjuangannya sewaktu melawan penjajah.

“Saya bangga terhadap pewarta yang masih ingin mempublikasikan sejarah – sejarah bangsa agar generasi milenial mengenal Sejarah,” ucapnya.

Di bagian depan Gedung Juang 45 ini terdapat sekumpulan patung para pejuang yang sedang membawa senjata mereka berdiri kokoh dengan indah. Dibawah patung terdapat banyak ukiran wajah para pahlawan revolusi nasional.

Selain itu, banyak pohon disekitarnya patung yang memberikan kenyamanan kepada para pengujung untuk berteduh dari panasnya sinar matahari.

Siang itu pintu gedung utama tertutup rapat. Kami tidak dapat memasuki bagian dalam gedung, namun ada yang menjadi pusat perhatian kami. Sarang burung. Iya, ternyata dibagian loteng Gedung Juang 45 Tambun ini dipenuhi sarang burung yang terus berkicau satu sama lain. Kicauannya sangat nyaring terdengar hingga diluar gedung.

Jika suatu saat kalian datang ke Bekasi, sempatkan datang ke Gedung Juang 45 Tambun. Lokasi tepatnya tidak jauh dari stasiun Tambun Bekasi.

Dari arah Tol Timur Bekasi, ambil jalan yang menuju arah Bulak Kapal lalu ketika bertemu pertigaan lampu merah langsung belok kanan. Lurus terus sekitar 15 menit di sebelah kiri kalian akan menemukan Gedung Tinggi atau Gedung Juang 45 Tambun Bekasi.

Jika menjadi warga Bekasi, sayang sekali jika kalian tidak tahu sejarah perjuangan Rakyat Bekasi yang salah satu monumen dan saksi bisunya adalah Gedung kuno yang bernama Gedung Juang 45 Tambun ini.

Sejarah Singkat Gedung Juang 45 Bekasi


Gedung Juang Tambun dibangun dengan dua tahap oleh seorang baba bangsawan dan tuan tanah,Keturunan Tionghoa bernama Khouw Tjeng Kee, Luitenant der Chinezen. Ia mempunyai dua saudara laki-laki, Luitenant Khouw Tjeng Tjoan dan Luitenant Khouw Tjeng Po. Ayah mereka adalah seorang tuan tanah bernama Luitenant-titulair der Chinezen Khouw Tian Sek.

Setelah kematian Luitenant Khouw Tjeng Kee, kepengurusan baik tanah partikelir maupun Landhuis Tamboen jatuh ke tangan putra sang Luitenant, yaitu Khouw Oen Hoei. Ia adalah adik O. G. Khouw yang dimakamkan di mausoleum tersohor dan mewah di Petamburan. Sepupu mereka yang paling terkemuka pada era kolonial adalah Khouw Kim An, Majoor der Chinezen terakhir di Batavia, yang adalah putra paman mereka, Luitenant Khouw Tjeng Tjoan.

Tahap pertama pembangunan mulai pada tahun 1906, dan selesai pada tahun 1910. Kemudian tahap ke-dua pada tahun 1925. Pada awalnya, halaman depan Gedung Juang Tambun yang terlihat dari jalan Hasanudin ini banyak ditanami oleh pohon mangga yang pada masa itu tidak begitu dikenal di kalangan masyarakat wilayah Tambun dan Bekasi.

Relief perjuangan melawan penjajah di sekitar Gedung Juang Tambun
Landhuis dan tanah partikelir Tamboen disita dari keluarga Khouw van Tamboen pada tahun 1942 di tengah penjajahan Jepang. Pada saat perang kemerdekaan melawan Belanda, Gedung Juang yang pada saat itu dikenal dengan nama Gedung Tinggi dijadikan tempat pertahanan oleh para pejuang kemerdekaan yang itu berpusat di wilayah Tambun dan Cibarusah.

Gedung juang Tambun ini berlokasi hanya beberapa kilometer dari perbatasan wilayah terluar Batavia yaitu wilayah Sasak Jarang yang kini menjadi wilayah perbatasan antara kecamatan Bekasi Timur, kota Bekasi dengan kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Akibat pertahanan Belanda di wilayah Bekasi sering diserang, maka Belanda sering meninggalkan tempat pertahanannya di wilayah Bekasi dan menarik diri untuk memperkuat wilayah pertahanannya di Klender, yang kemudian menjadi batas antara kota Bekasi dengan Jakarta Timur.

Relief perundingan pertukaran tawanan perang antara pejuang kemerdekaan Indonesia dengan tentara Belanda
Gedung ini juga menjadi tempat perundingan pertukaran tawanan antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Pejuang kemerdekaan Indonesia dipulangkan oleh Belanda ke wilayah Bekasi dan tentara Belanda dipulangkan ke Batavia melalui Stasiun Tambun yang lintasan relnya tepat berada di belakang gedung ini.

Masa penjajahan Jepang

Relief perjuangan pejuang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Jepang Pada tahun 1943 tentara Jepang mengambil alih gedung ini dan dijadikannya sebagai salah satu pusat kekuatan dalam menjajah Indonesia.

Pada akhir masa penjajahan Jepang, terjadi sebuah peristiwa besar pembantaian tentara Jepang oleh pejuang kemerdekaan Indonesia, di mana tentara Jepang yang pada saat itu menggunakan kereta api melintasi wilayah Bekasi hendak meninggalkan Indonesia melalui Bandar Udara Kalijati, Subang relnya dibelokan ke rel buntu yang membuat kereta terperosok, kemudian tentara Jepang yang sebagian besar tidak bersenjata dikarenakan mereka menyimpan senjatanya di gerbong barang, dibantai oleh pejuangan kemerdekaan Indonesia dan mayatnya dibuang di kali Bekasi.

Masa mempertahankan kemerdekaan

Setelah Jepang menarik diri dari Indonesia pada tahun 1945, KNI (Komite Nasonal Indonesia) menjadikan Gedung Juang Bekasi sebagai kantor Kabupaten Jatinegara. Tidak hanya menjadi kantor kabupaten, gedung ini juga dijadikan sebagai menjadi tempat pertahanan dan pusat komando dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari tentara sekutu yang hendak menjajah Indonesia kembali.

Pada akhir tahun 1947, Belanda melanggar Perjanjian Linggar Jati dan melakukan agresi militer pertama, Gedung Juang Bekasi pun dapat dikuasai oleh Belanda setelah melakukan serangan bertubi-tubi hingga tahun 1949 Namun tahun 1950 pejuang Indonesia dapat merebut kembali gedung ini. Setelah gedung ini berhasil di kuasai dan wilayah Tambun berhasil diamankan, maka aktivitas pemerintahan kembali dilakukan di gedung ini. Tercatat pada tahun 1950 Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi menempati gedung ini kali pertama, disusul oleh kantor-kantor dan jawatan lainnya hingga akhir 1982.

Pada tahun 1951 gedung ini diisi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, Batalyon Kian Santang. Lembaga wakil rakyat pun pernah berkantor di gedung ini hingga tahun 1960 diantaranya DPRD Sementara, DPRD Tk. II Bekasi dan DPRD-GR hingga tahun 1960. Pada tahun 1962 dijadikan tempat tahanan politik Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada tahun 1982, Bupati Bekasi yang juga seorang budayawan, Abdul Fatah yang menjabat dari tahun 1973 – 1983 membentuk Akademi Pembangunan Desa (APD) di wilayah Tambun dengan menggunakan Gedung juang Tambun sebagai kampusnya.

Akademi Pembangunan Desa (APD) ini pada masa sekarang telah menjadi Universitas Islam 45 Bekasi dan telah memiliki kampus sendiri di dekat saluran Irigasi Tarum Barat (Kali Malang) di Jalan Cut Meutia, kota Bekasi.(Es)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Ragam

Berikut 18 Negara Yang Belum Tersentuh Virus Corona Hingga Hari ini

Published

on

Continue Reading

Ragam

Dari Vatikan, Paus Fransiskus Berdoa bagi Pekerja Media yang Bertugas Meliput Covid-19

Published

on

Foto :Paus Fransiskus saat merayakan misa harian di Casa Santa Martha, Vatican-Roma-Italia. Foto : Vatican News
Continue Reading

Ragam

Fauzi Amro Soroti Peran Kontroversi Luhut Ditengah Wabah Corona

Published

on

Continue Reading
Loading...
Loading…

#Trending