Connect with us

Ragam

Fahri Hamzah Kembali Luncurkan Buku Berjudul ” BUKU PUTIH: KRONIK DAULAT RAKYAT VS DAULAT PARPOL”

Published

on

Realitarakyat.com – Politik Mantan Wakil Ketua DPR RI Periode 2014 – 2019 sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah kembali akan meluncurkan bukunya yang terbaru berjudul BUKU PUTIH: KRONIK DAULAT RAKYAT VS DAULAT PARPOL.

Menurut Fahri Hamzah Buku ini sebanyak 544 halaman dan 4 BAB, dan buku ini adalah pelajaran bagaimana membangun tradisi yang baik dalam partai politik sebagai pilar utama demokrasi. Ke depan, kita harus membangun partai politik yang sehat, modern dan terbuka menuju demokrasi Indonesia yang semakin dewasa.

Mandat suara rakyat pada diri seorang pejabat terpilih (elected official) tidak boleh dan tidak bisa dengan mudah dirampas dan atau dialihkan kepada nama lain atas nama dan oleh otoritas apapun.

Buku yang berbasis pada putusan Mahkamah Agung ini menjadi sejarah baru dalam relasi antara individu dan partai politik, sekaligus merupakan ucapan saya kepada PKS, kita harus memasuki arah baru perpolitikan Indonesia yang tidak boleh pernah berkawan dengan kezaliman.

Melalui buku terbarunya setebal 544 halaman ini, Fahri Hamzah mengupas tuntas bagaimana sebenarnya ruang lingkup dan batasan kedaulatan parpol dan kedaulatan rakyat.

Analisis yang ia gunakan dalam buku ini murni pendekatan hukum berdasarkan putusan pengadilan terkait konfliknya dengan PKS, yang telah memecatnya sebagai Anggota dan Pimpinan DPR RI.

Artinya kajian di dalam buku ini tidak lagi berbasiskan falsafah dan atau perspektif, akan tetapi berdasarkan pendekatan hukum yang telah menjadi peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Kita tahu, akhir akhir ini marak terjadi pemecatan dan ataupun pengalihan suara rakyat dalam pemilu kepada nama lain oleh parpol melalui mekanisme PAW.

Buku ini memberikan uraian yang sistematis berdasarakan peraturan perundangan tentang betapa tidak mudahnya merampas daulat kuasa rakyat pada diri seorang pejabat publik yang dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat, baik bagi pejabat publik di kamar legislatif maupun eksekutif.

Benar bahwa peraturan perundangan mengatur apa yang menjadi kedaulatan Partai Politik, akan tetapi kedaulatan parpol tersebut tidak bisa menabrak kedaulatan rakyat sebagai hukum tertinggi di Republik.

Satu suara rakyat yang dititipkan di dalam kotak suara sama harganya dengan seluruh total suara sah di dalam pemilu.

Buku ini juga dijadikan ajang kontestasi ide bagi Fahri Hamzah untuk menjelaskan sikap dan prinsipnya dalam berpolitik yang memerankan naratif kaum konservatif Indonesia.

Fahri memandang pembelahan ideologis dalam politik akan melahirkan lompatan kwalitatif sejarah maju bagi negara-bangsa.

Pembelahan ideologis yang ia maksud adalah realitas entitas politik kaum konservatif Vs kaum Liberal di Indonesia. Dalam hal ini Fahri secara terbuka mengakui bahwa selama ini ia mewakili narasi kaum konservatif.

Fahri kemudian menantang agar kelompok yang gandrung dengan ide ide kebebasan tak terbatas juga secara terbuka mengakui dirinya sebagai kelompok liberal.

Bagi Fahri pembelahan ideologis tersebut maju karena beberapa hal antara lain

Pertama: Refleksi sadar akan geneologi dan perkembangan pengelompokan sosial dan politik di Indonesia tak bisa dipungkiri di topang oleh dua kekuatan pemikiran, konservatif di satu sisi dan liberal di sisi yang lain.

Kedua: Pembelahan ideologis tersebut maju karena dialektika antara keduanya akan melahirkan sintesa yang baik bagi kedua kelompok.

Persentuhan kaum konservatif dan liberal hanya akan mengakibatkan terjadinya progresi pada kedua kelompok untuk sama sama bergeser ke tengah.

Persentuhan kaum konservatif dengan kelompok liberal akan membuat kaum konservatif meninggalkan ortodoksi konservatifisme, dan persentuhan kaum liberal dengan kaum konservatif akan membuat kaum liberal memiliki kompas jati diri kebangsaannya di tengah ide ide kebebasan dunia.

Bab I dari buku ini total dijadikan arena oleh Fahri untuk menjelaskan pembelahan ideologis tersebut sekalgus menjelaskan akar historis narasi kaum konservatif dalam sosio politik-ekonomi Asia.

Di bab II Fahri Hamzah mulai mengurai konfliknya dengan PKS secara kronik dan tematik.

Mulai dari permintaan mundurnya sebagai Wakil Ketua DPR RI, persidangan internal partai di mana Fahri merasa tidak mendapatkan hak haknya sebagai warga negara dan individu yang merdeka untuk membela diri, hingga pada pemecatannya dari seluruh jenjang keanggotan di dalam Partai, pemecatannya sebagai Anggota DPR dan pemberhentiannya sebagai Pimpinan DPR.

Di Bab ini, meski sebagai kaum konservatif, terlihat jelas Fahri bisa mengambil jarak dan melemparkan kritik yang tajam atas praktek konservatiisme politik di dalam partainya.

Di Bab III Fahri menjelaskan perjuangannya dalam mencari keadilan di pengadilan negara. Bab III ini sangat recomended untuk dibaca oleh tidak hanya anggota DPR/DPRD, tapi juga kepada para lawyer sebagai pembelajaran.

Karena di Bab III ini Fahri utuh menghadirkan materi gugatannya di Peradilan Perdata mulai dari gugatan Perbuatan Melawan Hukumnya di Pengadilan Negeri, Kontra Memori Bandingnya di Pengadilan Tinggi, hingga pada kontra memori kasasinya di Mahkamah Agung, dan sekaligus menghadirkan putusan pengadilan yang memenangkan dirinya mulai dari pengadilan tingkat pertama hingga keluarnya putusan Inkracht.

Di Bab IV Fahri mengajak pembaca untuk mengeksplore lebih jauh akar daei masalah politik di Indonesia.

Fahri mengupas secara dalam problem mendasar di dalam sistem politik Indonesia akibat tidak berjodohnya antara presidensialisme dengan sistem multi partai.

Untuk mengakhiri sistem politik yang tidak sehat dalam sistem presidensialisme multi partai, yang berpotensi melemahkan baik kamar eksekutif maupun kamar legislatif, Fahri menawarkan satu konstruksi teori baru yang ia sebut dengan Kongresionalisme.

Teori Kongresionalisme dari Fahri ini dipandangnya sebagai satu satunya cara untuk memperkuat sistem presidensialisme di satu sisi dan san sekaligus independensi Anggota Parlemen di saat yang bersamaan.

Bagaimana sistem kerja dari teori kongresionalisme tersebut, ini hal yang menarik, dan cara untuk mengetahuinya adalah dengan miliki segera buku terbaru Fahri Hamzah.

Pre order bisa menghubungi nomor kontak saudari Dwi di 081284442004

Di penutup buku ini, pembaca juga akan dimanjakan dengan coretan di dinding Fahri Hamzah selama menghadapi konflik dengan PKS.

Coretan di dinding tersebut begitu hidup karena bisa menarik pembaca masuk langsung ke dalam peristiwa yang dialami hari hari oleh Fahri Hamzah selama konflik dan memimimpin DPR.(ilm)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Ragam

Dari Vatikan, Paus Fransiskus Berdoa bagi Pekerja Media yang Bertugas Meliput Covid-19

Published

on

Foto :Paus Fransiskus saat merayakan misa harian di Casa Santa Martha, Vatican-Roma-Italia. Foto : Vatican News
Continue Reading

Ragam

Fauzi Amro Soroti Peran Kontroversi Luhut Ditengah Wabah Corona

Published

on

Continue Reading

Ragam

Resep Ikan Teri yang Sehat dan Mudah Dibuat

Published

on

Continue Reading
Loading...
Loading…

#Trending