Connect with us

Ragam

Polisi Cokok Tujuh Mafia Tanah yang Rugikan Korbannya Hingga Ratusan Miliar

Published

on

Realitarakyat.com – Polda Metro Jaya berhasil menangkap tujuh orang mafia tanah yang menipu setidaknya 10 orang di kawasan Jakarta. Tujuh orang ini menipu korban hingga merugi ratusan miliar.

Tujuh pelaku yang berhasil diringkus polisi adalah Raden Handi alias Adri alias Notaris Idham, Arnold Yosep, Hendry Primariady, Nadine alias Indah alias Sito Djubaedah, Bugi Martono, Dimas Okgi Saputra, dan Ir Denny Elza alias Teguh, ada juga Dedi Rusmanto yang telah ditahan lebih dulu di LP Cipinang.

Selain itu, polisi juga menetapkan dua orang pelaku lainnya sebagai DPO, mereka adalah Neneng Zakiah dan Diah alias Ayu.

“Dan sudah ada 10 korban, 10 korban yang sudah diungkap oleh kita. (Total kerugian dari 10 korban) bisa ratusan miliar,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, dalam konferensi pers ungkap kasus sindikat mafia tanah dengan menggunakan sertifikat palsu dan e-KTP ilegal, di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Dia menjelaskan, komplotan mafia tanah ini sudah beroperasi selama 2 tahun terakhir. Kasus ini berhasil terungkap ketika salah satu korban bernama, Indra Hoesein menyadari akta tanahnya dipalsukan.

Nana mengatakan, korban hendak menjual rumahnya, di Jalan Brawijaya III, Jakarta Selatan pada Januari 2019 lalu. Indra kemudian memasarkan rumahnya di spanduk dan media sosial. Tak lama, pelaku Diah (DPO) datang untuk membeli rumah Indra.

Keduanya pun bernegosiasi dan disepakati, rumah Indra akan dibeli Rp 70 miliar. Tersangka Diah pun, mengelabui korban dengan meminta dilakukan pengecekan sertifikat di Notaris Idham, di mana notaris itu adalah komplotan mereka juga, Raden Handi.

Korban yang setuju langsung ke Notaris Idham dan menyerahkan fotokopi sertifikat hak milik (SHM) ke pelaku Raden. Ketika menerima SHM itu, Raden menukarkan fotokopi SHM korban ke tersangka Dedi. Sertifikat ini, kata Nana, ditukar untuk dipalsukan ketika korban ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Beberapa hari kemudian, korban diwakili Luffi dan tersangka Dedi datang untuk melakukan pengecekan di kantor BPN. Setelah pemeriksaan SHM, Dedi berpura-pura meminjam SHM itu untuk difotokopi, dengan alasan sebagai bukti ke calon pembeli bahwa sertifikat itu asli.

“Rupanya di belakang dia sudah mempersiapkan sertifikat palsu dibalik bajunya. Kemudian dia serahkan ke saudara Luffi, dan memang mirip sekali, hampir sama. Dari warna, dan dia bisa memalsukan sertifikat itu. Setelah itu bubar,” ungkap Nana.

Nana juga mengungkapkan, Dedi yang telah mendapatkan sertifikat tanah asli, langsung menyerahkannya ke tersangka Diah dan tersangka Arnold. Pelaku Dedi, kata Nana, diberi imbalan Rp 30 juta.

SHM korban pun lalu diperjualbelikan oleh pelaku Henry Hoesein, yang berpura-pura menjadi Indra (korban). Henry sendiri, ditemani tersangka Siti yang berpura-pura menjadi istri korban. Diketahui, pembeli calon rumah ini adalah korban, Fendi.

Korban pun yakin keaslian sertifikat tanah dan e-KTP pelaku. Pelaku, kata Nana, telah membuat e-KTP palsu di Kecamatan Pamulang. Dia mengatakan, ada oknum kecamatan yang dapat memalsukan e-KTP.

Korban Fendi yang percaya, langsung mentransfer uang sekitar Rp 11 miliar. Usai menerima uang itu, pelaku Henry langsung membukukan uang itu dan memindahkannya ke rekening bank lain.

Nana menjelaskan, aksi pelaku diketahui ketika korban Indra, menyadari pemalsuan itu saat September 2019 lalu. Korban menyadari ketika melakukan pengecekan di kantor BPN.

“Ada pengecekan di BPN, ada pembeli yang asli, bukan yang palsu. Datang sama-sama ke BPN, dinyatakan BPN, dokumen atau sertifikat SHM ini palsu. Dari situ dia melaporkan ke Polda Metro,” ungkap Nana.

Total dari peristiwa penipuan ini, Indra mengalami kerugian hingga Rp 85 miliar. “Dari kasus ini, total kerugian yang dialami korban sebesar Rp 85 miliar,” jelas Nana.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 264 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan atau UU RI Nomor 8 tahun 2010 Pasal 3, 4, dan 5, dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun penjara atau denda maksimal Rp 5 miliar.(ndi)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Ragam

Jeep Wrangler Rubicon Terbaru Bakal Hadir Dalam Tiga Varian Mesin

Published

on

Jeep Wrangler Rubicon 2020 / Indianautoblog
Continue Reading

Ragam

Perhatian, Google Minta Pengguna Huawei Tak Install Aplikasinya di Smartphone

Published

on

Continue Reading

Ragam

Viral, Video Perundungan Bernada Rasisme ke Pria Berkebutuhan Khusus di Kebayoran Lama

Published

on

Continue Reading
Loading...




Loading…

#Trending