Connect with us

Daerah

Bartholomeus Toto Ungkap Catatan Elektronik Pengakuan EDS Ditekan KPK

Published

on

Mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang, Bartholomeus Toto memberikan keterangan kepada awak media usai usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (20/11/2019). Bartholomeus Toto resmi ditahan 20 hari kedepan untuk mempermudah pemeriksaan. (foto: net/merdeka.com)

Realitarakyat.com – Bartholomeus Toto belum puas, setelah ngevlog di Youtube, disusul bersurat –minta perlindungan hukum ke Presiden RI Joko Widodo, kini Mantan Presdir PT Lippo Cikarang Tbk melakukan aksi lanjutan, beberkan bukti catatan elektronik yang isinya Edy Dwi Soesianto (EDS) ditekan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mentersangkakan dirinya, agar kasus izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT Meikarta), tutup buku sampai dirinya tidak menjadi bola salju.

Bukti catatan elektronik tersebut, direkam secara diam-diam oleh Bartholomeus Toto saat dirinya melakukan pertemuan dengan EDS pada Kamis 27 Juni 2019, di Restoran Sangkuriang Jl Kemang Boulevard Kav 05A, Lippo Cikarang.

Supriyadi, SH, MH. Pengacara Barthomomeus Toto mengatakan bukti catatan elektronik itu juga telah disertakan Toto saat bersurat ke Presiden Jokowi.

Isinya, EDS mengaku secara pribadi maupun terpisah, telah ditekan oleh Ardian, penyidik, untuk mengakui bahwa Toto telah menyetujui dan memberikan uang gratifikasi Rp10,5 miliar kepada mantan Bupati Bekasi, Neneng Hashanah Yasin.

“Pada catatan elektronik itu, Edy menyatakan bahwa, benar selama mengurus perizinan untuk PT Lippo Cikarang, Tbk harus selalu memberikan gratifikasi, namun tidak pernah terlibat dan/atau ambil bagian dalam gratifikasi Meikarta yang dilakukan oleh Billy Sindoro, dkk,” ujar dia dalam rilis, Senin (9/12/2019).

Bukti catatan elektronik tersebut, menjadi dasar pelaporan bahwa, EDS beserta stafnya Satriyadi pada pertemuan Juni 2019 yang mengakui bahwa, keterangan EDS di persidangan dalam kondisi keterpaksaan.

“Direkaman itu Edy dan Satriyadi mengaku bahwa Toto Tidak terlibat,” tambah dia.

Untuk menepis semua tuduhan yang sudah diaku EDS dalam persidangan, Toto melayangkan surat kepada Presiden Jokowi minta perlindungan sebagai anak bangsa untuk menyampaikan fakta, bukti dan petunjuk yang dimilikinya.

Bukti-bukti tersebut adalah :
(1) selama proses penyidikan Meikarta, ketika status saya sebagai saksi, Toto tidak pernah mengetahui akan dituduh KPK telah memberikan gratifikasi sebesar Rp 10,5 Milyar untuk IPPT,

(2) dalam penyidikan, KPK tidak melakukan klarifikasi kepada Toto, secara seksama atas dugaan pemberian uang Rp 10,5 Milyar, untuk gratifiasi IPPT tersebut.

(3) Toto baru mendengar tuduhan gratifikasi sebesar Rp 10,5 Milyar yang ditujukan kepadanya, dalam sidang Billy Sindoro/ Neneng Hashanah Yasin, dimana EDS dan staf PT Lippo Cikarang, Tbk bersaksi bahwa Toto telah menyetujui dan memberikan uang sebesar Rp 10,5 Milyar untuk penerbitan IPPT Meikarta. Lebih jauh EDS membuat Narasi bahwa uang sebesar Rp 10,5 Milyar tersebut diterima secara tunai dari Lippo Karawaci melalui Melda Peni Lestari, Sekretaris direksi PT Lippo Cikarang Tbk, dimasa itu.

(4) Melda Peni Lestari dalam sidang telah mebantah pernah memberikan uang tunai Rp 10 Milyar kepada EDS. Namun Melda Peni Lestara malah diancam telah bersaksi palsu. (ndi)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Daerah

Kata BPN Rembang, Biaya PTSL di Desa Rp350 Ribu Masih Wajar

Published

on

Continue Reading

Daerah

Dewan Minta Revitalisasi Monas Dihentikan

Published

on

Continue Reading

Daerah

Tak Kritis, Alasan Banyak Masyarakat yang Mudah Percaya Fenomena Kerajaan Baru

Published

on

Continue Reading
Loading...




Loading…

#Trending