Connect with us

Politik

Harry Poernomo Sebut Kenaikan Cukai Sangat Dilematis

Published

on

Anggota Komisi XI DPR RI, Harry Poernomo / Net

Realitarakyat.com – Rencana pemerintah untuk menaikkan cukai dan harga eceran jual rokok pada tahun 2020 mendatang sangatlah dilematis.

Demikian pandangan Anggota Komisi XI DPR RI, Harry Poernomo yang disampaikan, di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Menurutnya, bila terjadinya dinaikkan dikhawatirkan kebijakan tersebut akan mematikan industri produsen rokok skala kecil dan menengah yang juga menjadi pendapatan pemerintah.

“Dilematis memang dilain sisi rokok itu menimbulkan penyakit, tetapi bila cukai naik dikhawatirkan pengusaha kecil menengah akan tutup dan pendapatan negara bisa turun,” kata Harry.

Namun di sisi lain, poltisi Fraksi Partai Gerindra ini menilai cukai rokok masih menjadi sumber pendapatan yang dapat memberikan kesempatan kerja sangat luas.

Dengan ditekennya aturan ini oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Oktober lalu, muncul kekhawatiran akan gugurnya industri rokok berskala kecil dan menengah.

“Ada kekhawatiran saya, kalau cukai rokok naik terlalu tinggi, nantinya industri rokok yang masih menggunakan manual, atau kretek linting, akan berguguran. Akhirnya nanti akan menimbulkan pengangguran, inilah dilemanya,” kata legislator daerah pemilihan Jawa Tengah VI ini.

Setidaknya, terdapat total 5,9 juta tenaga kerja yang diserap dari Industri Hasil Tembakau (IHT). Dari jumlah tersebut, 4,28 juta diantaranya merupakan pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di berada di sektor perkebunan.

Selain dari aspek ketenagakerjaan, pada 2018 lalu, penerimaan cukai dari sektor IHT menembus angka Rp 153 triliun atau lebih tinggi dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 147 triliun. Penerimaan cukai pada tahun lalu telah berkontribusi 95,8 persen terhadap pendapatan cukai nasional.

Meski menyumbang pendapatan besar, Harry mengkhawatirkan keuntungan dari kenaikan cukai rokok yang akan diberlakukan nantinya, hanya menguntungkan industri rokok skala besar, seperti pabrik-pabrik rokok yang beroperasi dengan menggunakan mesin dan melakukan produksi secara massal.

“Saya khawatir ini akan berdampak, memang nanti pendapatan naik tapi kemudian efek sampingnya adalah terjadi pengangguran karena banyak pabrik rokok skala kecil dan menengah yang tutup, efeknya juga dirasakan petani tembakau. 35 persen itu terlalu tinggi menurut saya, harusnya bertahap. Mungkin dengan 15 persen dulu, ya sesuai inflasi lah,” kata dia. [ipg]

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Politik

Waketum Gerindra Arief Puyono Minta Luhut Dan Said Didu Berdamai

Published

on

Continue Reading

Headline

Presiden Jokowi Minta 10 Negara dengan Kasus COVID-19 Tertinggi Diumumkan

Published

on

ilustr/net
Continue Reading

Politik

Pastikan Pemudik Bebas COVID-19, Pemerintah Desa Diminta Bangun Pos Jaga

Published

on

Continue Reading
Loading…

#Trending