Connect with us

Opini

Nihil Sejarawan, Kabinet Majukah?

Published

on

Indra Jaya Piliang

Oleh: Indra Jaya Piliang

Usia Kabinet Indonesia Maju (@KaInMaju) tepat seminggu. Prediksi sejumlah pihak terbukti. Haluan kapal @KaInMaju sesak, persis di sebelah ruangan nahkoda dan wakil nahkoda. Situs wikipedia memuat daftar. @KaInMaju dihuni 34 menteri, 12 wakil menteri dan 8 pejabat setingkat menteri. Total, termasuk jenderal aktif dan purnawirawan: 54 orang.

Dari daftar yang sudah dilantik, tidak terdapat sejarawan. Bisa jadi ada, misalnya pernah menempuh pendidikan sejarah atau ilmu sejarah. Berhubung riwayat hidup standar anggota kabinet tidak tersebar luas, tentu saya hanya mengira-ngira. Tanpa sumber primer yang otentik, yakni pengakuan atas riwayat hidup standar itu dari nama yang mengisi, terpaksa dicari sumber sekunder yang berceceran.

Saya pernah berharap Nusron Wahid menjadi sosok itu, setelah Brigjen Purnawirawan Prof Dr Nugroho Notosusanto, senior dan sekaligus dosen di Jurusan Ilmu Sejarah UI. Seiring harapan itu memudar, saya sumringah dengan sosok Hilmar ‘Fay’ Farid, senior saya dan Nusron yang sepuluh hari sebelum pelantikan @KaInMaju terpilih sebagai Ketua ILUNI FIB UI. Nama kampus bagi saya lebih kuat, ketimbang jabatan sebagai Pejabat Tinggi Madya di Kementerian Pendidikan.

Sejumlah junior dari kampus lain melakukan konfirmasi, “Benarkah Fay yang beredar lewat meme di media sosial adalah alumnus ilmu sejarah?” Saya pikir upaya itu dilakukan, setelah melihat Fay datang berbaju putih ke Istana Negara. Saya ucapkan selamat kepada Fay, tapi tak menemukan namanya dalam media online. Kalaupun Fay tak menjadi menteri, dalam hati saya bersorak lagi saat kran wakil menteri dibuka. Saya mengenal Fay bukan hanya di kampus. Ia sedang menyiapkan ‘tabloid tandingan’ Obor Rakyat di sebuah warung di Cikini, pada pilpres 2014.

Kenapa sejarawan penting?

Tentu melihat tuah ke yang menang. Kehadiran sejarawan di Istana Raja atau Sultan dalam posisi menteri, sudah terjadi berabad-abad. Bahkan dalam serial Under World yang menyuguhkan pertarungan hidup mati Vampire versus Lycan, terdapat juga sosok sejarawan yang menjaga catatan kehidupan Vampire di daun lontar, barangkali.

Apa tugas sejarawan dalam posisi sebagai menteri? Dua hal utama: mengoreksi rencana kebijakan yang masih berupa visi-misi dan menulis kebijakan yang sudah dijalankan tanpa harus sesuai dengan kejadian nyatanya.

Sejarawan berada di sisi kanan singgasana Sultan atau Raja, dalam rapat-rapat kabinet yang digelar. Tentu demi kontinuitas atas eksistensi negara dalam mengarungi roda zaman. Sejarawan menjadi “saksi mata” menyangkut kejadian apapun di sekitar Sultan atau Raja. Kontinuitas yang tak henti mengalir dari mata air kelahiran negara. Nilai-nilai yang berakar dari filsafat, ideologi, ilmu pengetahuan, hingga apa yang disebut sebagai karakter dan identitas nasional.

Apabila kontinuitas terhenti, eksistensi hilang, identitas lenyap. Tanpa eksistensi dan identitas, negara terlunta bagai kaum gelandangan dan pengemis. Tanpa identitas, tak ada pihak yang kenal. Bahkan dilupakan rakyatnya sendiri.

Lebih parah lagi, manakala negara tak memiliki ingatan. Amnesia. Sosok dan tongkrongan tak banyak berubah. Lambang. Bendera. Upacara. Rambut terbelah. Lengkap dengan segala macam sumpah jabatan, hari-hari besar, lalu seragam. Tapi tak berjiwa. Seperti manusia yang berjalan tanpa pakaian, berbau, berambut semrawut panjang, terkadang dipasung di dalam kandang. Manusia yang direndahkan dengan sebutan orang gila. Manusia yang sering terlihat tertawa, tanpa penonton dan kamera.

Tentu kita perlu sepakat dulu. Benarkah negara berupa organisme sosial, bukan individual? Benarkah negara bisa hidup, pun juga mati? Benarkah jiwanya bisa dibangun, apalagi badannya? Indonesia Raya yang bukan benda mati. Indonesia Raya sebagai tempat persemayaman roh yang baik, bahkan religius. Teistik.

Baik, anggap saja kita sudah bersepakat. Atas dasar itu, nukilan ini bisa diteruskan. Bagi yang ragu atau tidak setuju, silakan berhenti membaca. Titik. Selesai. Biar saya merangkai kata dan kalimat buat mereka yang sudah sepakat saja.

Mari kita berdebat. Kisah Indonesia raya tidak dimulai sejak tanggal 17 Agustus 1945. Keliru besar dan salah kaprah apabila tanggal itu dijadikan patokan, apalagi lembaran awal. Tanggal itu justru waktu yang dibekukan, dimatikan, sebagai terminal terakhir. Akhir yang sedang menuju awal. Bukan awal menuju akhir. Hari pembebasan dari selimut tipis kolonialisme. Bukan hari pertama menggunakan selimut nasionalisme.

Sebagai proses akhir menuju awal, perjalanan berikut berarti tak lagi mengikuti arus sungai. Hanyut hingga muara dan samudera antah berantah. Arus sungailah yang dilawan, menuju hulu, tempat mata air pertama terbit. Bukan perjalanan pulang dari puncak gunung. Tapi pendakian telapak kaki pertama.

Sukarno memahami betul perspektif itu. Ia menugaskan sebuah tim yang dipimpin oleh Mr Muhammad Yamin. Sultan Hamid II mendapat tugas mendisain lambang negara. Sayang, pekerjaan mereka terhenti akibat penugasan-penugasan berikutnya. Menjadi menteri, misalnya. Atau terjebak dalam jaring laba-laba intrik-intrik politik jangka pendek.

Dengan kesepakatan yang sudah kita ambil, mari lupakan seluruh cara, bentuk, hingga nama-nama tokoh yang mengisi posisi menteri. Sejak Kabinet Sutan Syahrir pascaproklamasi hingga @KaInMaju yang baru seminggu. Bukalah halaman buku sejarah yang sudah menguning dan dimakan rayap di gudang.

Makin kecil angka tahun nama-nama yang bisa distabilo, makin jauh kita berenang ke hulu. Dalam film-film science fiction, termasuk Avengers End Game yang paling banyak ditonton penduduk planet bumi, kapsul atau lorong waktu sering menjadi jawaban. Metodologi ahistoris, tentu. Walau bisa saja ditemukan dalam teori-teori ilmu sejarah atau arkeologi tentang lapisan-lapisan peristiwa dalam sejarah. Teori yang mirip dengan lapisan-lapisan awan.

Saya langsung mematok satu nama, Ibnu Khaldun. Angka tahun saya lingkari, pertengahan abad ke-14. Nama yang mentereng. Ibnu Khaldun bagai sosok Zeus dalam mitologi Yunani. Zeus dalam artian sumber dari sumber ilmu. Termasuk kesaktian, hingga juga kejahatan yang bersisian dengan kebaikan.

Tentu Ibnu Khaldun bukan bagian dari kisah-kisah para dewa dan dewi Yunani itu. Dewa dan dewi yang menghindar dari teologi agama-agama dari langit. Dewa dan dewi yang justru mendapatkan pancaran (emanasi) dari sifat-sifat manusia. Yang Absolut sudah dicerai-beraikan dalam rahim reproduksi dewi-dewi – dan manusia perempuan – yang bergumul dengan Zeus atau yang menyerupai Zeus.

Ibnu Khaldun sejak kecil adalah peziarah. Beralas sajadah, membolak-balik buku dalam perjalanan jauh, berbilang hari, minggu, bulan, dan tahun. Sosok yang beratap langit. Tak ingin segera tiba di tujuan, sambil menggerutu kemacetan atau tiket mahal, sebagaimana manusia bumi dewasa ini. Ia dipuji lewat tulisan demi tulisan yang dibaca para petinggi negara-negara Islam yang saling berkompetisi. Tapi resiko juga mengintai dengan kejam.

Kakaknya, Yahya Khaldun, dibunuh pesaing yang takut kehilangan posisi. Ilmu pengetahuan yang dimiliki Yahya lebih tinggi dan berisi. Tak mungkin dihadapi dalam majelis buku. Kematian menjadi jalan keluar tercepat untuk menyingkirkan perebutan jabatan.

Karya-karya Ibnu Khaldun sudah banyak diketahui. Kisah hidupnya ditulis sendiri dalam bentuk otobiografi. Selama lebih dari enam abad, pamor Ibnu Khaldun bukan makin lenyap, tapi terus tersingkap. Kini, ada kecurigaan besar betapa ilmuwan-ilmuwan yang terlanjur didapuk sebagai penemu ilmu ini dan ilmu itu, hanyalah penerjemah karya-karya Ibnu Khaldun ke dalam bahasa negara atau kampusnya masing-masing.

Bahasa yang dipakai Ibnu Khaldun telanjur sulit masuk sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Atau, bahasa ilmiah. Banyak aplikasi di internet atau gadget juga melakukan cara sama. Menerjemahkan bahasa manapun ke dalam bahasa sendiri dengan mudah.

Ibnu Khaldun adalah menteri dari pemerintahan yang saling menelikung kawan seiring. Kedudukan sebagai menteri itu menjadi bahan sorak-sorai buzzer-buzzer zaman itu, hingga kini. Karena Khaldun adalah menteri, Khaldun tentu politisi. Politisi? Mana bisa objektif, ilmiah, apalagi humanistik.

Khaldun terlalu dekat dengan pusat-pusat kekuasaan. Khaldun tak hidup dalam isolasi bernama pusat-pusat laboratorium ilmu, kampus, hingga organisasi ilmuwan dengan modal selembar ijazah. Apapun, Khaldun adalah sejarawan yang sudah menjadi menteri lebih dari 600 tahun lalu.

Pada saat Khaldun berjibaku dengan keahliannya dalam menulis di Andalusia, belahan utara bumi ini, seseorang yang bernama Prapanca mendapat kedudukan sebagai menteri dengan tambahan sebutan Mpu. Mpu Prapanca melayani Kerajaan Majapahit yang mayoritas beragama Budha, dalam puncak-puncak kejayaannya. Pada tahun-tahun yang berdekatan.

Mpu Prapanca selalu berada di sisi Raja Hayam Wuruk, Maharaja yang mendapatkan popularitas akibat kerja-kerja orang lain. Ekspedisi Mahapatih Gajah Mada-lah yang telah menyatukan kerajaan-kerajaan besar dan kecil dari jejaring Sumpah Palapa. Lebih sedikit darah yang tumpah, dalam upaya menyatukan nusantara yang tentu berbeda dengan kesatuan yang kaku.

Karya Mpu Prapanca menguasai jagat ilmu pengetahuan di nusantara selama lebih enam abad. Kisah-kisahnya dijadikan pegangan sebagai peristiwa sejarah. Buku-buku mpu yang lain digunakan untuk menentang apa yang ditulis Prapanca.

Rakyat jelata yang telanjur mendengar dari orang lain tentang isi buku Prapanca, malah bersedia bertaruh nyawa demi memegang “peristiwa yang sesungguhnya” dalam buku itu. Pendengar cerita orang lain lewat bacaan yang berbeda, lantas “memalsu-malsukan” hingga “menghoax-hoaxkan” peristiwa yang tidak pernah ia dengar, atau tak ingin ia dengar. Sobekan-sobekan buku, dijadikan sebagai tongkat komando perseteruan, konflik, hingga saling merendahkan.

Apapun, kisah Gajah Mada atau Hayam Wuruk jauh lebih menarik bagi siapapun. Ketimbang, kisah Prapanca yang menulisnya. Ada dan tiadanya Hayam Wuruk, sangat tergantung dari ditulis atau tidak oleh para empu. Beberapa tak ingin menulis. Yang lain menulis dengan warisan sakit hati. Hayam Buruk tetap menjadi nama yang buruk, ketimbang dipuja sebagai sosok bijaksana. Begitu juga Gajah Mada, masih ikut disalahkan atas sejumlah peristiwa, terutama Bubat.

Enam abad dari sekarang? Apakah masih ada perulangan pola? Isi dari kisah lebih penting dari pengisah? Sekalipun tak ada sejarawan yang masuk @KaInMaju, upaya bergerak ke hulu adalah perjalanan menuju penguatan peradaban bangsa nusantara di belahan selatan ini.

Biarlah mahasiswa-mahasiswa ataupun alumnus-alumnus pendidikan sejarah dan ilmu sejarah menggores ujung penanya sendiri, tanpa perlu bubar-bubaran sebagai peminat bacaaan-bacaan berdebu.

Toh, dari ujung pena sejarawan inilah generasi masa kini hingga masa depan tahu: siapa yang layak jadi pecundang. Atau, tak ditulis sama sekali, karena tak bernilai historis.

Tertumpang sikap tunduh kepada Mpu Khaldun dan Mpu Prapanca.

Semoga, tidak ada nama jalan Ibnu Khaldun di negeri selatan ini…[***]

*Penulis adalah Anggota Ikatan Alumni Sejarah UI serta Ketua Umum Perhimpunan Sangga Nusantara

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Pelukan Kebangsaan MSI The Bridge Builder

Published

on

Continue Reading

Opini

Merayakan Musyawarah

Published

on

Continue Reading

Opini

Warga Indonesia di Suriah

Published

on

Continue Reading




Loading…