Connect with us

Daerah

Ketua RT Dipungli, Pemuda akan Laporkan Kades ke Polisi

Published

on

Ilustrasi (Foto: Ist/Net)

Realitarakyat.com – Pemuda Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, akan melaporkan
kepala desanya ke polisi. Kades akan dilaporkan atas dugaan melakukan pungutan liar terhadap warganya, Imanuel Faot, yang juga Ketua RT 27 di desa tersebut.

“Perbuatan kades tidak mencerminkan bahwa dia adalah pemimpin wilayah. Apalagi, Ketua RT sudah tua,” kata salah seorang pemuda Desa Tetaf, Doni Tanoen kepada realitarakyat.com, Jumat (11/10).

Seperti diberitakan sebelumnya, Kades Tetaf Yulius Talan diduga melakukan pungli terhadap Imanuel Faot. Hal itu bermula ketika sapi milik Imanuel, masuk ke kebun milik Abner Sesfaot yang juga Ketua RT 30 Desa Tetaf pada 29 September lalu.

Keesokan harinya, kades mendatangi lokasi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Imanuel diharuskan membayar ganti rugi kepada pemilik kebun. Selain itu, Imanuel juga disuruh membayar denda kepada kades sebesar Rp 1,5 juta, yang belakangan dikembalikan Rp 750 ribu oleh Yulius Talan.

Menurut Doni Tanoen, saat pemaparan visi misi dalam pemilihan kepala desa yang lalu, kades berjanji akan menyelenggarakan pemerintahan yang bersih. “Namun setelah terpilih justru dianggap sebaliknya,” kecamnya.

Sementara, Ketua Badan Permusyawaratan Desa Tetaf Samgar Neonane juga mengaku tidak tahu ada kesepakatan soal denda. Terutama jika ada hewan masuk area pertanian.

“Perlu dipertanyakan, kemana uang denda tersebut? Dan untuk apa? Karena seharusnya tidak ada pungutan apapun dalam mengurus administrasi.
Mungkin mereka sepakat sendiri. Saya tidak tahu,” tukasnya geram.

Adapun Imanuel Faot menuturkan, uang yang dikembalikan sebagian, diterimanya saat acara adat ‘Okomama’ di rumah kades. Namun, Imanuel merasa tidak puas dan mempertanyakan ke mana uang tersebut. “Untuk kades atau masuk kas desa,” ucapnya mempertanyakan.

 

Kasihan

Kades Yulius Talan membenarkan, dirinya menerima uang sebanyak Rp 1,5 juta dari Imanuel. Namun dia mengembalikan separuhnya karena kasihan. “Uang yang diterima tersebut masuk ke kas desa atas kesepakatan bersama beberapa waktu lalu. Dimana jika ada hewan yang masuk area pertanian, maka akan dikenai denda,” tandasnya.

Ketika ditanya apakah itu termasuk pungli atau tidak karna belum ada Peraturan Desa, Yulius mengaku itu hanya kesepakatan saja. Dan dia berjanji, untuk ke depan, akan dibuatkan perdesnya.

“Ini kesepakatan bersama waktu lalu dan yang bersangkutan juga setuju. Jadi, tidak ada masalah,” tegasnya. Sementara, Kepala Urusan Umum Ande Taniu juga menjelaskan, dirinya hadir di kebun dan saat perhitungan tanaman yang dimakan pemilik sapi.

“Yaitu berjumlah 160 pohon ubi dan pepaya sebanyak 30 pohon.  Hal itu menimbulkan kerugian bagi Abner Sesfaot sebesar
Rp 8,3 juta. Namun, Imanuel Faot hanya sanggup membayar Rp 5 juta, yang langsung dibayar saat itu juga,” jelasnya. Adapun denda Rp 1,5 juta, lanjutnya, adalah  kesepakatan bersama.[sim/sas]

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Daerah

Pantai Pasir Putih Wates Rembang, Kondisinya Memprihatinkan

Published

on

Kondisi Pantai Pasir Putih Wates di Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Rembang, yang makin memprihatinkan. (Foto: realitarakyat.com/Pantja Putra Agung)
Continue Reading

Daerah

Habiskan Miliaran Rupiah, Pembangunan Drainase Tanpa Arah?

Published

on

Kegiatan pembangunan saluran draenase di Jalan Mesjid Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai. (Foto: realitarakyat.com/Ignatius S)
Continue Reading

Daerah

Ada Pembangunan Putaran Layang di Lenteng Agung, Rekayasa Lalin Diberlakukan

Published

on

Continue Reading




Loading…