Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

ICW Duga Revisi UU KPK Sarat Konflik Kepentingan

Published

on

Kantor Sekretariat ICW di Jl. Kalibata Timur IV/D No. 6. Jakarta Selatan 12740. (foto: ist/net)

Jakarta, Realitarakyat.com – DPR bersama pemerintah baru saja menyepakati pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Usulan perubahan ini merupakan inisiatif dari DPR. Diyakini, poin-poin perubahan tersebut akan melumpuhkan KPK dan melemahkan pemberantasan korupsi.

Demikian siaran pers Indonesia Corruption Watch (ICW) yang diterima Realitarakyat.com, Senin (16/9/2019).

“Jika dilihat lebih jauh, DPR seakan mempercepat pengesahan UU ini dalam sidang paripurna beberapa waktu lalu. Setidaknya, ICW mencatat adanya dugaan konflik kepentingan dalam pembahasan dan pengesahan dalam sidang paripurna DPR,” demikian siaran pers ICW.

Catatan tersebut, menurut ICW, pertama; Niat lama melemahkan KPK. Dalam catatan ICW, isu revisi UU KPK mulai bergulir sejak tahun 2010 silam.

Dalam naskah perubahan yang selama ini beredar, praktis tidak banyak perubahan, narasi penguatan KPK seakan hanya omong kosong. Mulai dari penyadapan atas izin Ketua Pengadilan, pembatasan usia KPK, kewenangan SP3, sampai pembentukan Dewan Pengawas;

Kedua; Mayoritas perkara yang ditangani KPK melibatkan aktor politik. Dalam catatan KPK, dari rentang waktu 2003-2018 setidaknya 885 orang yang telah diproses hukum. Dari jumlah itu, 60 persen lebih atau 539 orang berasal dari dimensi politik.

Ketiga; Anggota DPR masa periode 2014-2019 banyak terlibat Kkasus Kkorupsi. Dalam catatan ICW, sepanjang lima tahun terakhir setidaknya 23 anggota DPR RI masa bakti 2014-2019 telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Bahkan Ketua DPR RI, Setya Novanto, bersama Wakil Ketua DPR RI, Taufik Kurniwan, pun tak luput dari jerat hukum KPK.

Keempat; Hampir seluruh partai politik di DPR periode 2014-2019 sudah pernah terjaring KPK. Dalam catatan ICW, 23 anggota DPR RI masa bakti 2014-2019 telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Keseluruhan anggota DPR tersebut pun berasal dari ragam partai politik.

Baca Juga :   Revisi UU KPK, Wapres: yang Disetujui Pemerintah Setengahnya

Berikut rinciannya: Anggota DPR dari Fraksi Golkar sebanyak 8 orang, PDIP (3 orang), PAN (3 orang), Demokrat (3 orang), Hanura (2 orang), PKB (1 orang), PPP (1 orang), Nasdem (1 orang), dan PKS (1 orang).

Kelima; Perkara yang sedang ditangani oleh KPK banyak melibatkan anggota DPR. Publik tentu masih mengingat salah satu kasus korupsi yang secara dimensi kerugian negara besar, serta diduga melibatkan banyak pihak – eksekutif, legislatif, maupun swasta – yakni kasus KTP-Elektronik.

Dalam dakwaan Jaksa untuk dua terdakwa, Irman dan Sugiharto, menyebutkan puluhan politisi DPR yang diduga turut serta menerima aliran dana dari proyek yang telah merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun.

Atas narasi di atas maka wajar jika publik sampai pada kesimpulan bahwa DPR terlihat serampangan, tergesa-gesa, dan kental nuansa dugaan konflik kepentingan. Selain dari waktu pembahasan yang tidak tepat, substansi nya pun menyisakan banyak perdebatan, dan secara kelembagaan KPK memang tidak membutuhkan perubahan UU.

Untuk itu ICW menuntut agar DPR segera menghentikan pembahasan revisi UU KPK. Akan jauh lebih bijaksana jika DPR memfokuskan kerja pada regulasi penguatan pemberantasan korupsi. Seperti revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, rancangan UU Perampasan Aset, dan rancangan UU Pembatasan Transaksi Uang Tunai.

Selain itu, ICW juga menuntut agar seluruh masyarakat Indonesia untuk mengawal isu revisi UU KPK dan melawan berbagai pelemahan pemberantasan korupsi. (ndi)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Nasional

Moeldoko: Tak Boleh Demo Agar Pelantikan Presiden Bisa Khidmat

Published

on

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko / Net
Continue Reading

Nasional

Rentan Konflik dan Berbiaya Tinggi, Pengamat ini Sarankan Pilkada Dikembalikan ke DPRD

Published

on

Pengamat politik, Munandi Saleh (foto:ist/net)
Continue Reading

Nasional

NPHD Cair, Anggaran Harus Dibagi Proporsional

Published

on

Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Racmat Bagja. (Foto: Ist/Net)
Continue Reading




Loading…