Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

Laode M Syarif: Pak Presiden! Dengarkan Pendapat Kami

Published

on

Agus Rahardjo bersama Laode M Syarif (foto: ist/net)

Jakarta, Realitarakyat.com – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M Syarif, menjelaskan alasan Pimpinan KPK menyerahkan tanggung jawab lembaga KPK ke Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Laode, keputusan itu diambil, agar pemimpin tertinggi negeri ini dapat memberikan penjelasan ke Pimpinan KPK perihal draf revisi UU KPK yang kini sudah diserahkan ke DPR.

“Kami meminta agar Presiden bisa mendengar pendapat kami dan kami bisa menjelaskan kepada publik,” ujarnya, saat jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Laode menilai, Presiden dan DPR seakan sembunyi-sembunyi membahas draf revisi UU KPK, khususnya terkait pasal-pasal yang dianggapnya krusial.

Meski demikian, dia tetap akan melaksanakan tugasnya sebagai pimpinan KPK setelah mendapat perintah dari Presiden Jokowi.

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Rahardjo menyebutkan bahwa pihaknya tidak mendapatkan draf resmi revisi UU KPK. Pihaknya merasa, revisi ini seperti dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Kami menyerahkan tanggung jawab penggelolaan lembaga kepada bapak Presiden, dan kami menunggu perintah bapak Presiden,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi III DPR RI, Masinton Pasaribu menilai, apa yang dilakukan Agus Rahardjo adalah merusak tata negara dan melanggar sumpah jabatan. (ndi)

Baca Juga :   Prabowo - Sandi Unggul di DKI Jakarta
Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Nasional

Berikut Harta Kekayaan Seluruh Pimpinan KPK Periode 2019-2023

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Komisi III DPR RI telah melakukan fit and propert test terhadap calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2019-2023.

Hasilnya, lima pimpinan KPK periode 2019-2023 terpilih setelah Komisi III DPR melakukan rapat antar-ketua fraksi.

Diketahui, Irjen Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK periode 2019-2023. Kemudian empat wakilnya yakni Nawawi Pamolango, Lili Pintouli Siregar, Nurul Ghufron, dan Alexander Marwata.

Lalu berapa harta masing-masing wakil ketua KPK itu. Berdasarkan hasil Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN),

Nawawi Pamolango memiliki harta kekayaan sebesar Rp 1.893.800.000. Nawawi melaporkan harta kekayaannya pada 26 Maret 2019 atas harta kekayaannya pada 2018 sebagai Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Denpasar.

Selanjutnya Lili memiliki total kekayaan Rp 70.532.899. Lili melaporkan harta kekayaannya pada 29 Maret 2018 atas kekayaannya pada 2017 sebagai Wakil Pimpinan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Kemudian Nurul memiliki total kekayaan Rp 1.832.777.249. Nurul melaporkan harta kekayaannya pada 23 April 2018 atas kekayaannya pada 2017 sebagai dekan di Universitas Jember.

Terakhir, Alexander memiliki total kekayaan Rp 3.968.145.287. Alexander melaporkan harta kekayaannya pada 27 Februari 2019 atas kekayaannya pada 2018 sebagai Wakil Ketua KPK.

Sementara Firli melaporkan harta kekayaannya pada 29 Maret 2019 atas kekayaannya pada 2018 sebagai Deputi Bidang Penindakan KPK pada saat itu.

Firli Bahuri memiliki total harta kekayaan Rp 18.226.424.386. Adapun rinciannya, dia memiliki harta berupa tanah dan bangunan senilai Rp 10.443.500.000 yang tersebar di Bekasi dan Kota Bandar Lampung.

Kemudian harta berupa tiga kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua dengan total Rp 632.500.000. Firli juga tercatat memiliki kas dan setara kas senilai Rp 7.150.424.386 miliar sehingga total keseluruhan harta kekayaan Firli adalah Rp 18.226.424.386. [ipg]

Baca Juga :   Fahri: Pemerintah Lambat Lakukan Adaptasi UU Perlindungan Pekerja Migran
Continue Reading

Hukum

Ini Tanggapan Menteri LHK Soal Tudingan Rendahnya Penegakan Hukum Kasus Karhutla

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya Bakar menegaskan, sanksi hukum diberikan kepada siapa pun yang terbukti bersalah dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai langkah law enforcement.

Sikap tegas dalam penegakan hukum selama 5 tahun ini, telah membuahkan hasil. Jika masih ada yang membandel, kata Siti, pasti ditindak.

“Melihat persoalan kebakaran hutan dan lahan atau saya lebih suka menyebutnya kebakaran bentang alam atau lansekap atau landscape fire itu tidak bisa dari jauh, me-reka-reka, harus tau betul kondisi lapangan. Mengapa? Karena landscape itu bercirikan waktu dan tempat yang selalu berubah dan sangat berpengaruh membentuknya, serta interaksi antara time and space itu dalam bentuk sosio-kultural, tidak bisa secara linier orang mengatakan apalagi menuding soal adanya kelemahan law enforcement,” ujar Siti Nurbaya, Sabtu (14/9/2019) malam.

Penegasan Menteri Siti ini merespons pandangan yang muncul di ruang publik, baik nasional maupun internasional berkenaan dengan menguatnya intensitas hotspots di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah.

Demikian pula muncul berbagai hoptesis termasuk hal-hal yang bersifat common sense dilontarkan ke ruang publik termasuk tudingan bahwa kebakaran Sumatera karena okupasi ilegal, korupsi dan rendahnya law enforcement.

Dijelaskan Siti, law enforcement merupakan bagian penting dalam bangunan konsep penanganan landcsape fire di Indonesia, selain dari tata kelola kawasan sebagai pencegahan serta livelihood masyarakat, akses bagi masyarakat untuk sejahtera.

Selain law enforcement yang sudah berjalan selama 5 tahun terakhir ini, katanya, hal yang penting juga adalah tata kelola, termasuk oleh para pemegang ijin. “Ini merupakan aspek penting,” katanya.

Dicontohkan, misalnya pada ijin restorasi ekosistem yang diberikan kepada WWF sebagai pemegang ijin yang ternyata juga mengalani kebakaran berulang di wilayah konsesi ijin tersebut.

Baca Juga :   Beredar Info Polda Metro akan Tetapkan Dahnil Anzar Sebagai Tersangka Korupsi Dana Kemah

Disegel KLHK
Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Jumat (13/9/2019) telah mengambil sikap tegas dengan melakukan penyegelan terhadap PT Alam Bukit Tigapuluh (PT ABT), konsesi Restorasi Ekosistem (RE) WWF-Indonesia, yang berlokasi di Provinsi Jambi, karena terbukti areal konsesi tersebut mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Penyegelan tersebut dilakukan oleh KLHK akibat kegagalan perusahaan tersebut dalam menangani karhutla di areal konsesinya itu mulai Agustus 2019.

“Berdasarkan daftar perusahaan yang telah disegel hingga hari ini (14 September 2019) akibat karhutla, PT ABT merupakan salah satu dari 42 konsesi yang telah disegel oleh KLHK,” ungkap Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono dalam keterangannya, di Jakarta (14/9/2019).

“Karhutla yang terjadi di konsesi PT ABT ini merupakan pengulangan kejadian yang sama pada tahun 2015 lalu, di mana konsesi RE WWF tersebut juga terjadi Karhutla serius,” ujarnya menambahkan.

Sekjen KLHK juga menjelaskan, konsesi PT ABT merupakan areal konsesi RE yang di antaranya bertujuan untuk berperan sebagai zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh, yang merupakan bagian utama dari Ekosistem Bukit Tigapuluh seluas seluas 400.000 hektar – atau sekitar 6 kali luas DKI Jakarta – yang merupakan salah satu habitat tersisa harimau dan gajah Sumatera yang terancam punah.

“Hingga data per 14 September 2019, konsesi RE WWF tersebut merupakan satu-satunya konsesi restorasi ekosistem yang disegel oleh KLHK akibat Karhutla,” tegas Bambang.

Menurutnya, KLHK telah menyegel 28 konsesi sawit, termasuk konsesi-konsesi milik perusahaan-perusahaan Malaysia dan Singapura, serta 14 konsesi kehutanan, termasuk konsesi RE WWF di dalamnya, karena kasus Karhutla.

Sekjen KLHK menjelaskan, dari 42 konsesi yang telah disegel itu, mayoritasnya berada di Pulau Kalimantan, yakni sebanyak 34 konsesi. Tercatat 26 konsesi yang disegel di Kalimantan Barat dan 8 konsesi di Kalimantan Tengah.

Baca Juga :   Fahri Sebut Aksi Tutup Logo KPK Tindakan Menyimpang

Sementara di Pulau Sumatera, terdapat 5 konsesi yang disegel di Riau, disusul 2 konsesi di Jambi, dan 1 konsesi di Sumatera Selatan. (ndi)

Continue Reading

Nasional

ICW Tuding Presiden dan DPR Bersekongkol Lemahkan KPK

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Keputusan Presiden Joko Widodo yang menyetujui usulan DPR untuk melakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), dinilai sebagai bentuk kesepakatan dalam upaya melemahkan KPK.

Pernyataan tersebut dikemukakan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana, kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (14/9/2019).

Dia mengatakan hal itu, terkait dengan sikap Pimpinan KPK yang mengembalikan mandatnya kepada presiden, menyusul sikap presiden yang tidak melibatkan pimpinan KPK dalam membahas draf revisi UU KPK.

Menurut Kurnia, sikap presiden seperti itu, dinilai bertolak belakang dengan janjinya dalam Nawacita pada saat kampanye lalu. Dia khawatir pemerintahan Jokowi-JK justru masuk dalam catatan sejarah sebagai pemerintahan yang membidani kehancuran lembaga antikorupsi di Indonesia.

Dalam Nawacitanya, Jokowi-JK memiliki sembilan agenda prioritas yang disampaikan selama kampanye Pilpres 2014. Salah satunya terkait reformasi sistem penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

Namun dalam perjalannya, kata dia, Jokowi justru melakukan upaya pelemahan KPK dengan disetujuinya usulan DPR untuk melakukan revisi UU KPK yang pembahasannya tidak melibatka unsur pimpinan lembaga anti rasuah itu.

Sehingga dia menganggap wajar bila persoalan ini membuat Pimpinan KPK mengembalikan mandat pengelolaan KPK ke presiden, sebagaimana disampaikan Ketua KPK Agus Rahardjo, Jumat lalu.

“Penyerahan mandat pengelolaan KPK kepada Presiden, kemarin, merupakan bentuk ekspresi yang wajar jika melihat berbagai upaya pelemahan KPK saat ini,” ujar Kurnia. (ndi)

Baca Juga :   Khawatir Virus Jadi Monster, Waketum Gerindra Tolak Revisi UU KPK
Continue Reading
Loading…