Connect with us

Hukum

Sidang Kasus Korupsi, Bowo Sidik Sebut Nama Tukul Arwana

Published

on

Pembawa Acara, Tukul Arwana / Net

Jakarta, Realitarakyat.com – Terdakwa dugaan suap distribusi pupuk, Bowo Sidik Pangarso menyebutkan nama pembawa acara, Tukul Arwana dalam persidangan kasusnya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Dalam sidang, jaksa penuntut dari KPK menghadirkan Lamidi Jimat yang merupakan Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera guna membuktikan adanya pemberian uang Rp 300 juta.

Uang fee dari jasa Bowo yang merupakan anggota Komisi VI DPR RI dalam kerjasama penagihan utang, serta tender pengadaan bahan bakar minyak jenis MFO (Marine Fuel Oil) di PT Djakarta Lloyd (Persero).

Awalnya, Bowo menyebutkan, pertemuannya dengan Lamidi di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, atas jasa Tukul.

“Saya dikenalkan pak Lamidi oleh pak Tukul Arwana pada saat itu pak Tukul bilang pak Lamidi tolong bantu yah pak Bowo untuk Pileg (Pemilihan Legislatif),” kata Bowo.

Bowo menambahkan, setelah perkenalan itu Lamidi pun langsung menceritakan adanya tagihan yang macet di PT Djakarta Lloyd.

Hal itu pun dibenarkan oleh Lamidi. “Memang saya ceritakan adanya tagihan yang belum dibayar oleh Djakarta Lloyd. Namun soal pesan pak Tukul saya kurang nyimak karena keramaian di lokasi,” jelasnya dihadapan Majelis Hakim.

Mendengar hal itu, Bowo pun menyebutkan, bahwa yang dia minta kepada Lamidi adalah membantu orang-orang di daerah pemilihannya. “Sebagaimana permintaan pak Tukul karena sama-sama orang Demak,” jelasnya.

Dalam dakwaan yang disusun Jaksa KPK sendiri selain menerima uang dari PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Bowo juga didakwa menerima uang dari PT Ardila Insan Sejahtera.

Diawali dari pertemuan pada Juli 2018, ketika Bowo dengan Lamidi bertemu di Hotel Mulia.

Lamidi meminta bantuan kepada Bowo atas permasalahan pembayaran utang yang belum diselesaikan oleh PT Djakarta Lloyd senilai Rp 2 miliar atas pengadaan BBM pada 2009.

“Lamidi juga memberitahukan kepada terdakwa kalau perusahaannya PT Ardila Insan Sejahtera sudah mengajukan permohonan sebagai vendor PT Djakarta Lloyd dalam penyediaan BBM jenis MFO,” tutur Jaksa KPK.

Bowo pun bersedia dan berjanji akan mempertemukan Lamidi dengan Dirut PT Djakarta Lloyd, Suyoto.

Usai pertemuan pertama di hotel Mulia, terjadilah pertemuan kedua dimana Lamidi menyerahkan dokumen tagihannya serta uang senilai Rp 50 juta kepada Bowo melalui supirnya.

Kemudian pada Agustus 2018, Bowo pun mempertemukan antara Lamidi dengan Suyoto. Dalam pertemuan itu, dibicarakan soal tagihan utang yang tidak disanggung Suyoto bila sistem pembayarannya sekaligus. Namun, akan dibayar secara menyicil sebagaimana adanya Keputusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (KPPU) bahwa utang tersebut diangsur mulai tahun 2019 per triwulan.

Masih dalam pertemuan yang sama, Bowo meminta kepada Suyoto untuk memperhatikan perusahaan Lamidi. “Suyoto pun meminta kepada Lamidi untuk memberikan dokumen-dokumen persyaratan sebagai peserta lelang.

Setelah pertemuan, tak lama kemudian Lamidi menghubungi Bowo bahwa perusahaannya mendapatkan pekerjaan dari PT Djakarta Lloyd. Sehingga akan memberikan uang terima kasih atas bantuan tersebut.

“Terdakwa pun berterimakasih dan mempersilahkannya karena uangnya untuk keperluan Dapil terdakwa,” kata jaksa KPK. [ipg]

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Hukum

Besok, KPK Bakal Panggil Bos Lippo James Riady

Published

on

James Riady / Net
Continue Reading

Hukum

KPK Tak Permasalahkan Jika Polisi Hanya Ungkap Pelaku Penyiraman Novel

Published

on

Continue Reading

Hukum

Kantongi Identitas, Polisi Buru Pelaku Persekusi Anggota Banser

Published

on

Continue Reading




Loading…