Connect with us

Opini

Slogan Kotaku (Situbondo Kota Santri) di Pinggiran Eks Lokalisasi

Published

on

Rasyuhdi

Oleh: Rasyuhdi

SITUBONDO merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai slogan kota santri, yang saat ini sudah meninggalkan predikat sebagai kota tertinggal.
Berdasarkan keputusan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Nomor 79 Tahun 2019 yang ditetapkan pada 31 Juli 2019, Kabupaten Situbondo telah terlepas dari status daerah tertinggal.

Bumi sholawat nariyah atau biasa juga dikenal dengan Situbondo Kota Santri, saat ini tengah mengalami banyak perubahan dan tidak sedikit pula pemuda pemudi kita saat ini lebih memilih hijrah selepas mondok atau sekolah di Situbondo, lalu pergi melancong dan belajar ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapatkan perubahan yang tidak akan didapat di sana.

Apa kurang bagus identitas kita?
Bicara identitas kembali lagi ke slogan di atas, Situbondo yang terletak di timur Pulau Jawa bagian utara yang mempunyai banyak pesantren dan ribuan santri yang menetap di kota itu, secara harfiyah Kota Situbondo memang sudah layak dengan slogan tersebut melihat maraknya masyarakat yang gemar bersholawat bersama lagi banyaknya pesantren dan santri di daerah tersebut. Akan tetapi masih pantaskah saat ini menyandang slogan tersebut? Apa perlu di ganti? Atau kalian mempunyai argumentasi lain, dan tetap setuju dengan slogan tersebut? Tentunya kita semua punya sudut pandang yang berbeda.

Slogan dan identitas di suatu daerah, tentu saling berkaitan antara satu dan yang lain, kita pahami saja Situbondo secara slogan atau dikenal juga dengan istilah moto atau semboyan yang di setiap daerah biasa dikenal tagline dan identitas suatu daerah seperti Situbondo Kota Santri, yang memang di daerah tersebut dari dulu sudah banyak santri dan ulama terkemuka, sehingga tidak perlu diherankan lagi, akan tetapi bagaimana cara kita memahami identitas itu sendiri?

Kita pahami dulu makna identitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan). Identitas adalah ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Jika dipahami dari makna itu sendiri, suatu daerah itu mempunyai ciri-ciri yang khas, dan jati diri yang susah dimiliki oleh kelompok lainnya. Daerah yang mempunyai jati diri itu bangga kepada ciri khas yang dimiliki daerah tersebut.

Banyak kita temui dari kalangan generasi muda di Situbondo yang lebih memilih kota tetangga dari pada kotanya sendiri, sehingga ketika sudah melanjutkan studinya atau bekerja di daerah luar, lantas lupa untuk menggangkat tanah kelahirannya sendiri, sehingga membuat identitas kota ini semakin hilang, dengan banyaknya cendikiawan muda yang lebih senang berkarir di luar dari pada di kota sendiri.

Akan tetapi kita tidak bisa hanya memandang dari sisi satu generasi saja, masih banyak warga yang juga berkontrbusi untuk mengangkat dan mempertahakan identitas kita. Seperti kritik pedas yang sering kali di lontarkan oleh kalangan advokasi yang berada di daerah Situbondo.

Siapa sangka identitas Situbondo itu hanya bisa hilang karena masyarakatnya, pemerintah daerah pun juga bisa dibilang lebih parah mengikis identitas itu semua, dikarenakan beberapa kebijakan yang tidak ujung tuntas, sama halnya dengan Peraturan Daerah (Perda) nomor 27 tahun 2004, tentang Larangan Praktik Postitusi di Kabupaten Situbondo, bukan kali pertama, beberapa tempat eks porstitusi di daerah tersebut di razia oleh Satpol PP dan mendapati banyak pekerja yang masih aktif dan tak sedikit yang tertangkap dan terindetifikasi HIV/AIDS.

Sungguh lemahnya kebijakan itu yang sudah hampir lima belas tahun dengan kepala pemerintah dua periode tidak dapat mengentaskan pokok permasalahan di daerah yang berslogan (Situbondo Kota Santri) Islami.

Ganti Slogan dengan kota Ludruk
Pokok permasalahan yang juga menyebabkan krisis identitas kita adalah para elite politik dan pejabat publik, yang kurang antusiasnya dalam menyapa warganya yang berada di daerah terpencil, tidak perlu membawa sembako dan uang, cukup para penguasa hadir di tengah masyarakat saja itu sudah cukup untuk melihat kondisi kita yang berada di pelosok desa, jadi para elite akan lebih paham keadaan kita seperti apa, bukan hanya berdiam menjadi penonton, ketika sudah ada keributan di sosial media dan dibantu oleh teman-teman advokasi, baru dari pihak Pemkab mau hadir di tengah-tengah itu.

Hal semacam itu yang membuat masyarakat di Situbondo kehilangan teladan dan panutan dari sosok pemimpin. Jangan sampai pemimpin di Situbondo dilanda eforia korup yang tak lain untuk memperkaya diri sendiri dan tidak peduli dengan kondisi rakyat yang semakin melarat dan hidup di taraf garis kemiskinan.

Ketika rakyat sudah tidak satu pemikiran dengan pemerintah daerah tak sedikit pula pro dan kontra yang akan terjadi, karena slogan saat ini dirasa tidak selaras dengan identitas yang ada di Situbondo, dikarenakan masih banyaknya tempat eks porstitusi yang beroperasi, sehingga banyak netizen yang seringkali melontarkan kata kalau Situbondo adalah Kota Ludruk, memang tidak bisa menafikan keberadaan tempat itu yang seolah-olah pokok permasalahanya memang tidak bisa di selesaikan oleh pemerintah daerah, sehingga kepada marwah Situbondo itu sendiri bisa mengkerucut, karena banyaknya orang luar yang mengenal Situbondo hanya kepada tempat eks porstitusi tersebut.

Jika memang slogan (Situbondo Kota Santri) tersebut tetap layak di sandang oleh kota Situbondo, seharusnya pemerintah bisa menepis isu terkait beroprasinya tempat semacam itu dan melakukan kebijakan yang lebih intensive dalam menangani hal serupa, agar netizen di situbondo tidak menganggap (situbondo kota ludruk) pemerintah hanya mengikuti dalang seperti yang ada dalam pementasan ludruk.

Jangan sampai slogan kota santri berada di pinggiran tepat eks lokaliasasi atau terkontaminasi oleh hal tersebut, hanya karena pemerintah daerah kurang maksimal dalam menjaga marwah Kota Situbondo, lantas kita semua juga turut melupakan jati diri leluhur kita yang sudah bersusah payah membangun ini semua, jangan sampai mindset kita berubah kepada kota tercinta, meskipun banyak orang luar yang mengenal tempat eks lokalisasi di situbondo kita harus tetap bersinergitas dalam mengenalkan kembali marwah situbondo yang sebenarnya, dan lagi teruntuk generasi bonus demografis saat ini, jangan sampai kita mengabaikan itu semua karena perubahan situbondo ada di kita generasi penerus bangsa. **

Penulis adalah santri asal Situbondo yang sedang menempuh pendidikan di Nanjing Universty

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Pelukan Kebangsaan MSI The Bridge Builder

Published

on

Continue Reading

Opini

Merayakan Musyawarah

Published

on

Continue Reading

Opini

Warga Indonesia di Suriah

Published

on

Continue Reading




Loading…