Connect with us

Opini

Usai Pelantikan Dewan Kota Bekasi Asyik Swafoto

Published

on

Swafoto Anggota DPRD Bekasi Kota / Realitarakyat.com

Bekasi, Realitarakyat.com – Pelantikan 50 anggota DPRD Bekasi Kota, yang dilakukan hari ini, dipimpin Ketua Pengadilan Negeri Bekasi, Wayan Karya, juga disaksikan Walikota Bekasi, Rahmat Effendi.

Pengamatan Realitarakyat.com di lokasi, sebelum mereka resmi dilantik, terlebih dahulu pembawa acara membacakan susunan acara atau agenda pelantikan yang dimulai pukul 10.30 WIB, di Ruang Utama Gedung DPRD Kota Bekasi, Jalan Chairil Anwar, Margahayu, Bekasi Timur.

Agenda pelantikan berisi pembacaan keputusan Gubernur Jawa Barat mengenai peresmian pengangkatan anggota DPRD Kota Bekasi masa jabatan 2019-2024, oleh Sekretaris DPRD Kota Bekasi.

Selanjutnya, pengucapan sumpah dan janji DPRD masa jabatan 2019-2024, dipandu oleh Ketua Pengadilan Negeri Kota Bekasi.

Ditutup dengan sejumlah sambutan-sambutan, baik oleh Pimpinan DPRD Sementara, Wali Kota Bekasi, maupun Gubernur Jawa Barat yang dibacakan oleh Wali Kota Bekasi, yang kemudian ditutup menyanyikan “Bagimu Negeri”.

Acara pelantikan selesai, satu persatu ormas atau keluarga masing-masing anggota dewan tepilih pun mulai memasuki ruang sidang. Mereka menghampiri dan melakukan swafoto.

Gedung dewan itu pun akhirnya dipenuhi keluarga maupun ormas. Tak jarang, anggota dewan itu melakukan swafoto bersama dengan keluarga dan pendukung.

Namun demikian, kegembiraan mereka tak sesuai dengan kinerjanya. Terlebih, mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UNISMA 45 Bekasi, Universitas Mitra Karya, Tri Bhakti, STIE Mulia Pratama dan Universitas Bhayangkara menggelar demo.

Mereka tampak membawa replika keranda dari bambu bertulisan ‘DPRD Mati’. Aksi demo ini mempertanyakan kinerja DPRD Kota Bekasi yang dianggap menurun.

“Haknya dia fungsinya dia apa, ‘kan dia punya hak, hak untuk mengawas ini itu semua. kita sama-sama tahu Kota Bekasi defisit anggaran, kita punya 16 retribusi, baik dari kesehatan juga masih bobrok, contoh pas memang sakit, kita ada KS (kartu sehat), tapi masih ditolak, alasan ruang penuh, dari pendidikan, sistem zonasi sudah bagus, tapi masih ada yang putus sekolah, lalu bagusnya Kota Bekasi seperti apa?” kata Habib Akbar. [yus/ipg]

Loading...
Loading...

Opini

Pelukan Kebangsaan MSI The Bridge Builder

Published

on

Continue Reading

Opini

Merayakan Musyawarah

Published

on

Continue Reading

Opini

Warga Indonesia di Suriah

Published

on

Continue Reading




Loading…