Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

Soal Papua, Pengamat: Perlu Ada Mutasi dari Manajemen ke Resolusi Konflik

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Konflik sekelompok orang di Papua yang terjadi belakangan ini membuktikan bahwa penanganan konflik sosial selama ini jauh dari kata tuntas dan efektif.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Emrus Corner, Emrus Sihombing kepada Realitarakyat.com, Kamis (22/8/2019).

“Lihat saja pilihan diksi yang digunakan oleh orang tertentu, yang dapat memantik konflik horizontal,” kata Emrus.

Ia menjelaskan adanya konflik personal di salah satu kota di Pulau Jawa, misalnya, tidak lama berselang muncul gesekan sosial di salah satu kota di Papua. Dari segi wacana yang muncul (termasuk dari para elit), sulit dipercaya tidak ada relasi konflik komunikasi personal yang terjadi di salah satu kota di Jawa dengan gesekan komunikasi antar personal yang terjadi di Papua.

“Bahkan persoalan personal yang terjadi seolah ditarik ke rana identitas (kelompok) yang sempit serta seolah mengusik rasa kesatuan berbangsa dan negara. Bahkan berpontensi terjadinya konflik karena pesan komunikasi yang boleh jadi telah dihiperbola. Akibatnya, dari persoalan personal, berevolusi seolah mengusik kebersamaan mereka dalam suatu kelompok dari kelompok lain atas dasar indentitas sempit,” kata dia.

Menurutnya, perluasan pesan komunikasi semacam ini bukan tanpa maksud. Tidak ada pesan komunikasi masuk ke teritorial publik berada di ruang hampa.

“Ada agenda di situ. Tak terhindarkan juga ada framing di dalam tautan pesan yang dilontarkan para pihak ke ruang publik. Karena itu, bila konflik tidak dituntaskan, setiap ada indikasi kemungkinan muncul konflik, bahkan ketika terjadi konflik pun acapkali penumpang gelap memanfaatkanya secara lihai dengan berbagai modus,” kata Emrus.

“Untuk itu, perlu kewaspadaan seluruh anggota masyarakat, terutama yang berada di sekitar lokasi konflik untuk memahami dengan berpikir dan bertindak kritis terhadap setiap fenomena konflik.”

Baca Juga :   Mau Tambah Pasukan, Wiranto Dianggap Nggak Paham Psikologis Masyarakat Timur Indonesia

Untuk menyelesaikan konflik Papua, Emrus pun menyarankan harus adanya perubahan pendekatan dari manajemen konflik ke komunikasi resolusi konflik.

“Pendekatan resolusi konflik antara lain mencari hakekat permasalahan, latar belakang masalah, temuan dan tawaran solusi strategis penyelesaian masalah, pendekatan dengan memanusiakan manusia – seperti menghormati orang lain (harga diri) dan martabat kelompok atau daerah, dan tuntas,” kata dia.

Dirinya meminta kepada Presiden untuk membetuk Tim Komunikasi Resolusi Konflik di Papua. “Tim ini sebaiknya sama sekali tidak melibatkan politisi, tetapi dari berbagai kalangan yang tidak punya agenda politik pribadi atau kelompok. Mereka semua harus orang yang sangat dipercaya oleh Presiden,” kata dia. [frn/ipg]

Loading...
Loading...

Nasional

Kontras Curiga Penundaan RKUHP Cuma Akal-akalan

Published

on

Continue Reading

Nasional

Ditanya Hewan Kesukaan, Jawaban Cucu Presiden Jokowi Bikin Ngakak

Published

on

Presiden RI Joko Widodo bersama cucunya Jan Ethes Sri Narendra / Net
Continue Reading

Nasional

Keterpilihan Hanif Dhakiri Tak Mengejutkan

Published

on

Plt. Menpora Hanif Dakhiri. (Foto: Ist/Net)
Continue Reading




Loading…