Connect with us

Ragam

Kondisi Sejumlah SD di Manggarai Barat Memprihatinkan, Pemerintah Jangan Diam Dong!

Published

on

Manggarai Barat, Realitarakyat.com – Kondisi sejumlah Sekolah Dasar di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sangat memprihatinkan.

Bangunan Sekolah darurat itu menyebar di tiga Kecamatan, diantaranya SDN Peri, Desa Daleng, Kecamatan Lembor Selatan, SDN Wae Mege di Desa Watu Tiri, dan juga SDN Nanga Nae, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo.

Ketiga sekolah tersebut, mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam ruangan berdinding bambu dan beralaskan tanah.

Meski pihak sekolah berulang kali mengusulkan kepada Pemerintah untuk memperbaiki ketiga sekolah tersebut, namun hal itu tidak mendapatkan respons. Dikhawatirkan ambruk, para siswa tidak lagi diperbolehkan belajar di ruangan tersebut

Kepala Sekolah SDN Peri, Tobias Mujur kepada wartawan, Sabtu lalu mengatakan bahwa SDN Peri berdiri sejak tahun 2014. Kala itu pihaknya membangun enam ruangan kelas darurat. Keenam gedung tersebut, dibangun secara swadaya oleh orangtua murid, dan masyarakat Desa Daleng.

Ia mengaku, pada tahun 2015, pihaknya mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga untuk memperbaiki sekolah tersebut. Namun hingga saat ini belum ada jawaban dari Pemkab Manggarai Barat.

Walau mengunakan ruangan darurat untuk KBM, ia tetap memotivasi para guru untuk intens melaksanakan KBM.

“Kondisi bangunan memang sangat perihatin, sebagian kayu tiang sudah lapuk dan dinding kelas rusak. Kita setiap tahun mengusulkan kepada Pemkab Manggarai Barat tetapi belum ada jawaban,” kata Tobias.

Sementara guru SDN Nanga Nae, Ikbal mengatakan sejak tahun 1999 silam gedung Tambahan Ruang Kelas(TRK) SDN Nanga Nae di Kampung Lobo Husu, Desa Macang Tanggar kecamatan Komodo, hingga kini masih dalam kondisi darurat dan hampir roboh.

“Kami sudah mengusulkan agar pemerintah membantu membangun gedung sekolah. Jawabannya, menunggu saja,” kata Ikbal.

Kondisi sekolah sejauh ini sangat tidak layak. Ketika musim hujan, siswa terpaksa diliburkan. Sejumlah ruangan kelas hanya berukuran 3×3 meter dan berlantai tanah. Ruangan digunakan untuk enam rombongan belajar.

“Musim hujan kemasukan banjir dalam kelas. Atap bocor di mana mana. Kondisi dinding pun pada berlobang. Semua ruangan kelas seperti ini,” ujar Ikbal.

Tokoh Masyarakat Lobo Husu, Amir Tahyudin mengatakan, TRK SDN Nanga Nae dibangun secara swadaya oleh warga Kampung Lobo Husu karena kampung ini kerap mengalami banjir setiap tahun.

Bila bajir anak-anak tidak bisa kemana-mana. Akhirnya warga sepakat membangun sekolah untuk anak-anak mereka. Apalagi pertumbuhan penduduk cukup besar begitupula peningkatan jumlah siswa di TRK Lobo Husu.

Namun yang menjadi kendala saat ini adalah kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan sehingga KBM tidak berjalan normal saat musim hujan.

“Ini kan usaha swadaya dari warga. Ya, lubang dimana-mana karena keterbatasan dana. Kita Butuh pemerintah menaikan status TRK ini sehingga gedung bisa lebih layak,” ujar Amir.

Amir meminta agar status sekolah dinaikan menjadi devinitif karena jelas pertimbangan ada dukungan murid dari Kampung Kandang Bembe.

Iya yakin ketika gedung sekolah semakin baik, maka banyak anak akan masuk ke sekolah tersebut.

Dari enam kelas, hanya dua kelas yang dibuat dari tembok. Dua kelas itu dibangun dengan dana dari Pemkab Mabar tahun 2013.

Guru SDN Wae Mege, Alfonsius Fonsi mengatakan empat ruangan kelas di sekolag tersebut sudah tidak layak pakai. Guru dan siswa tidak nyaman karena dinding bambu sudah sangat rapuh, banyak bagian yang sudah bolong dan rusak.

“Dulu ada satu gedung permanen yang dibangun saat pertama kali sekolah ini ada. Ruangan itu dibagi menjadi dua, satunya ruangan guru dan satunya lagi ruang kelas untuk kelas 1 dan kelas 2 yang digabung,” kata Alfonsius.

Menurutnya, karena ruang kelas terbatas, maka orangtua murid di Desa Watu Tiri akhirnya membangun dua ruang kelas darurat menggunakan bambu di satu bidang tanah persis di samping sekolah. Dua ruangan digunakan untuk murid kelas 3 sampai kelas 6.

Ia berharap ada bantuan dari pemerintah sehingga memasuki musim penghujan, KBM tetap berjalan lancar. Siswa dan guru pun nyaman.

Kepala Desa Watu Tiri, Fransiskus Galo mengatakan perhatian Pemkab Mabar untuk perbaikan sekolah sangat penting untuk mendukung para siswa dan guru.

“Hampir enam tahun siswa-siswi SDN Wae Mege mengikuti KBM pada ruagan kelas yang kondisinya sangat memperihatinkan. Pemkab Manggarai Barat tidak boleh lepas tanggungjawab dari kondisi bangunan sekolah ini,” kata Fransiskus. [fren/ipg]

Loading...
Loading...

Ragam

Jangan Sampai Kehabisan, Samsung Pangkas Harga Galaxy M30s

Published

on

Samsung Galaxy M30s / Net
Continue Reading

Ragam

GWJ Yakin Presiden Jokowi dan Kabinetnya Bawa Indonesia Lebih Baik

Published

on

Continue Reading

Ragam

Lima Orang Pembentangan Spanduk di Bundaran HI Diamankan Polisi

Published

on

Foto: Antara
Continue Reading




Loading…