Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

Aktifis HAM: Belum Diperiksa Kok Sudah Buat Kesimpulan

Published

on

 

Jakarta, Realitarakyat.com – Aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) Haris Azhar menyatakan, Presiden harus membentuk tim independen atas penyerangan air keras yang dialami penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Apalagi setelah diketahui bahwa Polri tidak akan menyentuh buku merah sebagai dugaan motif atas penyerangan Novel. Karena belum ada pemeriksaan tetap sudah dibuat kesimpulan.

“Lah kok belum diperiksa sudah membuat kesimpulan?” ujar Direktur kantor hukum dan HAM Lokataru itu  saat dihubungi Realitarakyat, Sabtu (10/8/2019).

Dirinya pun meminta kepada Ombusman RI sebagai lembaga pengawas untuk berperan jika memang tim teknis tidak menyentuh buku catatan terpidana suap hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Basuki Hariman itu. “Lembaga pengawas ombudsman bisa dimintai perannya,” tuturnya.

Namun agar persoalan ini bisa lebih efektif, Haris menyarankan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membentuk tim independen. “Saya minta Presiden buat tim,” jelasnya.

Sebelumnya, Kabag Penum Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra menyatakan, persoalan buku merah sudah final dan tidak akan dibuka kembali. Ia juga menyebutkan, hal itu tidak ada hubungannya dengan penyerangan Novel.

“Persoalan itu kan sudah final. Tidak ada hal yang tersangkut dengan Novel Baswedan,” ujar Asep di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (9/8/2019).

Seperti diketahui, dalam mengusut kasus penyerangan Novel Polri membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Dan menemukan ada enam kasus korupsi dengan high profile yang diduga menjadi motif penyerangannya, Novel.

Loading...

Diantaranya, kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, kasus Mantan Sekjen MA Nurhadi, kasus korupsi mantan Bupati Buol Amran Batalipu, dan kasus korupsi Wisma Atlet.

Baca Juga :   Kemenang Bantah Anggaran Pendidikan di Kemenag Lebih Besar dari Anggaran Kemendikbud

Kemudian kasus penembakan pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004.

Menanggapi hal itu, Novel menyebutkan, temuan TGPF seakan-akan menyalahkan dirinya dalam menjalan tugas sebagai penegak hukum. Ia pun menyebutkan, ada satu kasus yang dilupakan TGPF yakni buku merah.

“Kasus ini tidak disampaikan dalam rilis. Saya hanya mengingatkan barangkali TGPF lupa,” ujar Novel saat di acara talk show “Mata Najwa” yang ditayangkan Narasi TV dan diunggah pada Kamis (25/7/219).

Tito sendiri menyebutkan, polisi pernah memeriksa dua orang yang mengetahui pembuatan buku tersebut. Ketika Polri melalui Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan kasus di Bea Cukai.

“Dia (Basuki Hariman) ditanya apa kenal dengan Tito Karnavian? Dia bilang secara personal tidak kenal, tapi sering lihat di ruang publik,” ucap Tito.

“Ditanya lagi kenapa nama Tito dicatat di situ? Dia bilang untuk meyakinkan staf-stafnya bahwa dia punya power, jaringan kenal dengan pejabat, sekaligus untuk ada pembukuan bahwa dia bisa menarik uang,” ujarnya.

Saat kasus itu terjadi, Tito menjabat sebagai Kepala Polda Metro Jaya.

Tito juga mempertanyakan kebenaran informasi dalam buku itu, sebab bukan buku bank. Di dalamnya terdapat informasi dengan tulisan tangan yang dinilai perlu dipertanyakan kebenarannya.

Dia juga membantah soal adanya rekaman kamera CCTV yang memperlihatkan adanya perusakan terhadap “buku merah”. Tito juga membantah ada penghapusan dengan tip-ex. (Bisma Rizal)

Loading...

Nasional

RUU PSDN Masih Timbulkan Pertanyaan Publik

Published

on

Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI), Arya Sandhiyudha. (Foto: Realitarakyat.com/Franc)
Continue Reading

Nasional

Hindari Konflik Horizontal, KPU Perpendek Masa Kampanye Pilkada

Published

on

Anggota Komisioner Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, Wahyu Setiawan. (foto: ist/net)
Continue Reading

Nasional

Pilkada 2020, ICW: Perhatikan Tiga Prinsip Utama Pelaporan Dana Kampanye

Published

on

Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo. (foto: ist/net)
Continue Reading




Loading…