Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Daerah

Matim Bangun Wisata Berbasis Budaya

Published

on

MANGGARAI TIMUR, Realitarakyat.com– Untuk dapat menjadi destinasi wisata unggulan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) berkomitmen membangun parawisata berbasis budaya daerah di sembilan kecamatan di daerah itu.

Itu dikatakan Wakil Bupati Matim, Jaghur Stefanus saat menggelar ‘Festival Caci’ di Toka, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong kemarin. Kegiatan ini digelar Dinas Parawisata Matim.

Diungkapkan, ada 107 daya tarik wisata yang terbagi dalam empat cluster pembangunannya yakni melingkupi kawasan strategis pariwisata Borong dan Komba dengan basis iklim perkotaan, rekreasi bahari dan geo-wisata. Obyek wisata yang ditawarkan Pantai Cepi Watu, Nanga Lanang, Liang Bala, Batu Biru, Alam Bawah Laut Mausui, dan Padang Savana Mausui.

Ada juga Situs Sambilewa yang terdiri atas batu menhirdan dohnen, Pantai Mbolata, Wisata Minat Khusus (special interest tourist) Horse Tracking ke Watu Susu Rongga, Hiking ke Puncak Poco Ndeki, dan mengamati Burung Langkah Lawe Lujang juga Watu Embu Kode Haki (Batu Kelamin laki-laki) dan Watu Embu Kode Fai (Batu Kelamin Perempuan).

Kawasan wisata Rana Mese-Poco Ranaka dan Poco Ranaka Timur yang menitikberatkan kepada eco-adventure dan eco-culture dimana wisatawan dapat menyaksikan pesona Air Terjun Cunca Rede, Danau Rana Mese, kawasan hutan wisata, Kampung Adat Compang Teber, agrowisata dengan tanaman kopi sebagai ikon unggulan.

Cluster Sambi Rampas Lamba Leda dan wilayah di sekitamya. Konsepnya berbasiskan wisata bahari, petualangan juga wildlife Rugu Pota. Obyek yang menjadi daya tarik adalah Jembatan Alam Tetes Tanah, Gua Liang Toge di Lempang Paji, Danau Rana Kulan, Gua Alam Cincoleng, atraksi budaya, tarian danding, mbata, raga sae, ritual adat Penti, dan Caci.

Cluster yang menjadi pusat pengembangan kawasan pariwisata adalah budaya yang terdapat di Kecamatan Elar Selatan, yakni Rana Kulan, Nanga Lok dan Liang Toge,” paparnya.

Baca Juga :   9 Kecamatan Terdampak Banjir Bandang Di Madina, 17 orang Meninggal dunia

Jadi, kata Jaghur, Festival Caci menjadi momen agar pariwisata tidak lagi dipandang sebelah mata. “Parawisata harus dilihat sebagai sektor yang mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat,” demikian Jaghur. (efren)

Advertisement
Loading...
Loading…