Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

Menteri Susi Pimpin Penangkapan Kapal Buruan Interpol 

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Satgas 115 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lewat KP ORCA 3 dan 2 menangkap Kapal MV NIKA, berbendera Panama, yang merupakan buruan Interpol, pada Jumat, 12 Juli 2019.

Kapal berpenumpang 18 anak buah kapal (ABK) WNA Rusia dan 10 orang Indonesia itu diduga melanggar Undang-Undang Perikanan Indonesia. Saat ini, kapal bersandar di Pangkalan PSDKP Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Menteri Kelautan dan Perikanan selaku Komandan Satgas 115 Susi Pudjiastuti mengatakan, menurut laporan awal dari Interpol yang diterima oleh Satgas 115, Kapal MV NIKA diduga melakukan sejumlah pelanggaran.

Pertama, memalsukan certificate of registration di Panama yang menyatakan sebagai General Cargo Vessel. Sementara MV NIKA diduga melakukan penangkapan dan atau pengangkutan ikan.

 

“Berdasarkan laporan dari the Convention on Antarctic Marine Living Resources (CCAMLR) dan Inspection Report UKMarine Management Organization (UK-MMO), MV NIKA menangkap ikan tanpa izin dan/atau transhipment di zona 48.3 B, yaitu di wilayah The South Georgia and The South Sandwich Islands dan The Falklands Island atau Islas Malvinas,” kata Susi dalam siaran persnya yang Diterima Realitarakyat.com,  Kamis (18/7/2019).

 

Kapal MV NIKA juga menggunakan data Automatic Identification System (AIS) milik kapal lain bernama Jewel of Nippon. Tujuannya mengaburkan identitas aslinya ketika memasuki wilayah CCAMLR untuk menangkap ikan.

 

Selain itu, berdasarkan informasi dari Interpol, Pemerintah Panama, IMO GISIS, dan UK-MMO Inspection Report, MV NIKA telah dikonfirmasi dimiliki pemilik yang sama dengan pemilik FV STS-50, yaitu Marine Fisheries Co. Ltd. Kapal itu ditangkap di Indonesia pada tahun 2018.

 

Susi menjelaskan, penghentian dan pemeriksaan kapal tersebut berawal pada 22 Juni 2019. Satgas 115 mendapatkan informasi dari Interpol bahwa MV NIKA akan menuju Port Wei Hai, Tiongkok dan diprediksi akan melewati ZEE Indonesia.

Baca Juga :   Ikuti Indonesia, Kamboja Pulangkan Sampah Impor

 

Atas dasar dugaan pelanggaran tersebut, Pemerintah Panama selaku negara bendera MV NIKA telah mengirimkan permohonan resmi kepada Pemerintah Indonesia untuk menghentikan dan memeriksa saat kapal melewati ZEE Indonesia.

 

“Pada tanggal 12 Juli 2019 pukul 08.19 WIB, unsur KP ORCA 3 dan 2 milik KKP berhasil menghentikan dan memeriksa MV NIKA di ZEE Indonesia di Selat Malaka,” kata Susi.

Berdasarkan penelusuran oleh Satgas 115 dengan dibantu oleh Interpol, MV NIKA sudah mematikan AIS sebelum memasuki ZEE Indonesia, yaitu terhitung sejak tanggal 6 Juli 2019. Saat memasuki wilayah Indonesia, MV NIKA tidak mengibarkan bendera Panama maupun Indonesia. Bendera kapal baru dipasang pada saat kapal dicegat oleh KP ORCA 3 dan 2 pada jam 07.45.

Kemudian, berdasarkan pemeriksaan atas kapal tersebut di Selat Malaka, MV NIKA ditemukan tidak menyimpan alat tangkap di dalam palka, sehingga diduga kuat melanggar UU Perikanan Indonesia. Penyelidikan akan dilakukan oleh otoritas Indonesia atas dugaan pelanggaran UU Perikanan tersebut.

Susi menjelaskan, hal-hal yang mengonfirmasi dugaan bahwa Kapal MV NIKA bukan kapal kargo melainkan kapal perikanan yakni, ditemukan umpan berupa ikan di palka kapal. Kemudian, di atas kapal terdapat unit pengolahan ikan.

Selain itu, Pemerintah Panama melalui suratnya kepada Menteri Kelautan dan Perikanan telah menyatakan kapal itu terdaftar sebagai general cargo shipsehingga tidak berhak untuk melakukan aktivitas perikanan baik penangkapan maupun pengangkutan ikan.

Kapal MV NIKA selanjutnya dibawa dan bersandar di Pangkalan PSDKP Batam pada Minggu, 14 Juli 2019 pukul 21.30 WIB dengan pengawalan oleh KP ORCA 3 dan KP ORCA 2. Selama perjalanan, kapal dikawal secara bergantian oleh KRI Patimura, KRI Parang, dan KRI Siwar. Kemudian pada Senin, 15 Juli 2019, Satgas 115 bersama-sama denga unsur TNI AL dan Polri melakukan pemeriksaan kapal MV NIKA.

Baca Juga :   Presiden Jokowi Desak Polisi Tuntaskan Teror KPK

Dalam pemeriksaan MV NIKA, Indonesia memprakarsai pembentukan Multinational Investigation Support Team (MIST) yang terdiri atas beberapa negara dan organisasi internasional terkait yaitu Indonesia, Panama, Interpol, CCAMLR, Australia, dan Amerika Serikat yang akan hadir sebagai observer. MIST akan mendukung otoritas Indonesia dalam melalukan pemeriksaan MV NIKA di Batam, sesuai dengan keahlian negara dan organisasi internasional terkait.

“Ini pertama kali Indonesia mengumpulkan dan membentuk MIST untuk menangani dugaan tindak pidana yang dapat kami golongkan sebagai kejahatan terorganisir yang bersifat lintas nasional (transnational organized fisheries crime),” kata Susi.(Nanang)

Advertisement
Loading...
Loading…