Connect with us

Ragam

Wali Murid Kecewa ,Tampa Alasan yang Jelas Anaknya Tidak Naik Kelas, Rektor UIN: Itu Kesalahan Guru dan Sekolah

Published

on

Jakarta,Realitarakyat.com – Wali murid merasa kaget dengan kebijakan yang tidak masuk akal yang dilakukan SDN Tanjungbarat 09 yang tidak menaikkan anaknya ke kelas 2 SD.

Dimana menurutnya, Anaknya sejak masuk TK sampai saat ini sangat lumayan pintar, bisa baca, bisa tulis dan bahkan sangat rajin belajar, namun aneh anak tersebut tidak naik ke Kelas 2 SD.

Selain itu, Menurut Wali Murid inisialnya ES , ini mengaku, dalam raport anaknya nilainya lumayan bagus.

“Siapa yang tidak bingung, dirapornya saja nilainya bagus, tapi kenapa tidak naik kelas, kan ini jadi pertanyaan besar.” Ucapnya Sambil Menunjukkan Nilai anaknya.

Ditempat Terpisah, Menanggapi hal tersebut, Rektor Universitas Islam Indonesia (UIN) Hidayatullah Prof Dr Amany Burhanudin Umar Lubis mengatakan, Anak didik nilainya bagus atau tidak itu tergantung guru.

“Hari gini, apalagi untuk anak kelas I SD, tidak naik kelas, itu murni kesalahan fatal oleh guru dan sekolah,” Ucap Rektor UIN Hidayatullah ini kepada Realitarakyat.com, Rabu (3/7/2019).

Lanjut, Amany Lubis, sekolah Bukan untuk menghukum, akan tetapi sekolah fungsinya untuk mendidik.

Untuk itu, Apalagi jika anak tersebut bisa menulis , sudah bisa membaca, lantas tidak di naikkan, maka akan berdampak kepada fisiologi anak tersebut.

“Bahkan sepertinya di jaman pak M Nuh, kebijakan tidak menaikkan kelas itu sudah dihapuskan, jadi kenapa lagi masih di lakukan.” Ucapnya.

Amany Lubis juga mengatakan, Guru seharusnya harus bijak, tidak hanya membuat PR, membuat soal, dan membuat berbagai tugas, seharusnya Guru sebagai pendidik di tingkat dasar itu harus bisa menyesuaikan dengan kondisi anak, sehingga tidak terjadi pemaksaan sistem pendidikan pada anak.

Amany Lubis mengharapkan, pemerintah harus lebih memperhatikan guru yang mengajar untuk kelas awal. Pasalnya, jika terjadi penyimpangan, tentu akan merusak sistem pendidikan nasional secara keseluruhan.

Amany Lubis menyayangkan, kebijakan guru dan sekolah yang masih memberlakukan budaya tidak naik kelas khususnya pada anak kelas 1-3.

“Jika benar ada banyak sekolah yang masih memberlakukan sistem tinggal kelas, tentu tidak konsisten dengan arah pendidikan kita. Di satu sisi, pemerintah menghapus UN agar tidak membebani siswa, tapi di sisi lain siswa tetap dibebani dengan sanksi tidak naik kelas,” kata Amany.

Menurutnya anak usia 0-9 tahun tidak dapat dipaksa untuk belajar dengan keras, dipaksa belajar pengetahuan sesuai kurikulum. Anak dengan usia yang masih muda harus diberi kebebasan sehingga kurikulumnya harus alamiah. Sistem pendidikan yang digunakan adalah pendekatan yang tidak terlalu formal. Anak harus dididik senatural mungkin sehingga tidak menjadi sebuah beban.

Untuk itu, Amany meminta Menteri Pendidikan memanggil semua kepala Dinas Pendidikan seluruh Indonesia, untuk membicarakan hal ini dengan serius agar generasi penerus bangsa ini semakin pintar dan tidak lagi ada yang putus  dampak kebijakan guru dan sekolah seperti ini.” Tutupnya.(Nanang)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Ragam

DKPP Gelar Sidang Dugaan Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu

Published

on

Ilustrasi (Net)
Continue Reading

Ragam

Gaji Guru Honorer Diupayakan Diambil dari Dana Pendidikan

Published

on

Demo guru honorer beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)
Continue Reading

Daerah

Teliti Sistem Tata Udara Hotel, Ketua IAI Sulsel Raih Gelar Doktor

Published

on

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sulawesi Selatan Nasrullah. (Foto: realitarakyat.com/M Darwis)
Continue Reading




Loading…