Connect with us

Nasional

Di Oslo, Romo Magnis Usulkan NU dan Muhammadiyah Terima Nobel

Published

on

Norwegia, Realitarakyat.com. – Dalam acara seminar di Oslo, Norwegia, pastor dari Ordo Katolik Serikat Yesus, Romo Magnis Suseno mengusulkan kedua organisasi keagamaan Islam terbesar Nahdalatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mendapatkan nobel perdamaian dunia.

Hal itu, karena kedua ormas Islam tersebut memiliki andil besar dalam merekatkan bangsa Indonesia yang sangat majemuk, bahkan jauh sebelum kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Sehingga, kiprah NU dan Muhamadiyah tidak hanya dirasakan oleh mayoritas kelompok muslim tapi juga oleh minoritas non-muslim.

“Saya sudah sejak lama sangat mengenal kedua organisasi ini. Kita tahu, Indonesia telah lama punya sejarah gerakan radikal. Seperti gerakan DI-TII tahun 1950-1966 yang mengancam wilayah Jawa Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan,” tegas Romo Magnis, pada Kamis (20/06) lalu, dalam seminar yang dihadiri cendikiawan dan tokoh pemikir dari berbagai kalangan di dunia itu.

Dimana pada sekitar tahun tujuh puluhan beberapa ideologi Islam dari Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan Wahabi, merambah Indonesia. Demikian pula pengaruh mujahidin dari Afghanistan. Tapi, tokoh NU dan Muhamadiyah saat itu berjuang keras agar pengaruh-pengaruh tersebut berhenti berkembang.

Menurut Romo, tiga prinsip fundamental dari kiprah NU dan Muhammadiyah untuk perdamaian dan memajukan toleransi di masyarakat seperti menjunjung tinggi keberagaman, kebebasan beragama, keterbukaan demokrasi dan menolak diskriminasi dan intoleransi. Sehingga kedua organisasi tersebut menanamkan dan mengembangkan warisan nilai budaya Indonesia yang mengutamakan kerukunan, kebersamaan, serta menghargai hak-hak asasi orang lain.

Pada prinsipnya menurut Romo, sebagai pendeta Katolik dan bagian dari kelompok minoritas di Indoensia dirinya mengakui NU dan Muhammadiyah meskipun jadi mayoritas tidak pernah menjadi ancaman bagi diri dan kelompok minoritas.

Baca Juga :   DPR Minta BMKG Tak Meresahkan Masyarakat

Sebaliknya, kehadiran kedua organisasi ini di tengah masyarakat Indonesia memberikan rasa aman dan jaminan bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi akan tetap terjaga dan tumbuh dengan baik di Indonesia.

Seminar yang digagas bersama oleh Peace Research Institute Oslo (PRIO) dan KBRI Oslo ini bertujuan untuk mengenalkan dan memublikasikan kepada publik Oslo tentang NU dan Muhammadiyah serta perannya dalam menangkal radikalisme di Indonesia. Sebelumnya, pada Januari 2019 lalu dua organisasi Islam terbesar Indonesia ini telah dinominasikan sebagai penerima penghargaan Nobel Perdamaian.

 

Organisasi pemersatu

Hadir Prof. Dr. Azyumardi Azra, Direktur Wahid Institut Zanuba Arifah Hafsoh atau Yenny Wahid. Azyumardi Azra dalam kesempatan itu menyontohkan pengaruh besar NU dan Muhammadiyah terlihat pada saat Indonesia dilanda krisis pasca runtuhnya Orde Baru tahun 1998. Saat itu Gus Dur yang merupakan tokoh NU terpilih sebagai Presiden Indonesia.

“Meski banyak yang mengkhawatirkan Indonesia akan pecah tapi saya tetap optimis selama kita bisa menjaga Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan yang telah diwariskan pendiri bangsa, Indonesia akan tetap utuh. Dan kita yakin NU dan Muhammadiyah adalah guardian nilai-nilai tersebut untuk tetap tumbuh di masyarakat,” kata Prof Azra.

Sementara Yenny Wahid dalam paparannya menyampaikan bahwa untuk bisa melawan radikalisme maka perlu diteliti kelompok mana saja yang rentan dan menjadi target dari kelompok radikalis.

“Kalau kita amati setidaknya ada beberapa sebab. Di antaranya ketakutan yang berlebih dan selalu merasa kekurangan materi, memahami literatur agama secara tekstual saja, gampang terpengaruh oleh informasi keliru dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama yang cenderung menyebar kebencian. Sebab lainnya adalah mereka yang memiliki kecenderungan terhadap intoleransi dan menafikan hak kelompok yang berbeda paham,” kata putri kedua Gus Dur itu.

Baca Juga :   Ribuan Warga hadiri Acara Open house Di Istana Negara, Wagra Sampai Histeris Saat Ketemu Jokowi

Yenny juga menekankan perlunya NU dan Muhammadiyah untuk menjadi aktor utama dalam melakukan konter narasi dan konter identitas terkait maraknya hoaks dan fake news di media sosial (medsos) akhir-akhir ini.(mm)

 

 

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Loading…

#Trending