Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ragam

Festival Bakar Tongkang dan Fashion Carnaval Bagan Siapai api Gaet Ribuan Wisatawan

Published

on

Bagansiapai-api, Realitarakyat.com – Festival Bakar Tongkang, acara pariwisata tahunan di kota Bagan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, kembali digelar pada bulan Juni ini. Namun, waktu acara bukan lagi di akhir bulan, sebab event ini telah dimajukan acaranya.
Sebelumnya, Festival Bakar Tongkang di jadwalkan pada tanggal 28-30 Juni 2019. Namun kemudian jadwalnya dimajukan menjadi 17-19 2019.

Seperti sebelumnya, event yang sarat budaya Tionghoa peranakan ini diperkirakan akan dihadiri oleh puluhan ribu pengunjung. Kegiatannya dimulai dari Klenteng Ing Hok Kiong yang merupakan klenteng tertua di kota Bagansiapiapi.

Puluhan ribu wisatawan dipastikan hadir pada Festival Bakar Tongkang 2019. Tahun lalu, kegiatan akbar ini mampu menyerap 69 ribu pelancong. Gaungnya yang luar biasa, tak hanya membuat wisatawan lokal berdatangan. Turis mancanegara pun penasaran untuk menyaksikan langsung jalannya event tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, pemilihan lokasi kegiatan masih sama, yaitu di Bagansiapi-api, Kabupaten Rokan Hilir. Ini karena Festival Bakar Tongkang memang sarat dengan sejarah. Khususnya terkait cikal-bakal atau asal-usul penduduk daerah setempat.

“Festival Bakar Tongkang tahun ini akan berlangsung selama tiga hari, yaitu tanggal 17-19 Juni. Festival ini merupakan tradisi kuno untuk mengenang para migran Tiongkok pertama yang meninggalkan tanah air mereka dan menetap di Riau. Bakar tongkang atau kapal merupakan simbol berakhirnya pelayaran mereka,” ujarnya, Senin(17/6/2019).

Menurutnya, Bakar Tongkang telah terbukti menjadi salah satu atraksi utama pariwisata Indonesia. Event ini selalu sukses menarik perhatian masyarakat dan menyedot wisatawan. Atmosfer keseruannya bisa dirasakan saat memasuki puncak kegiatan, ketika replika kapal atau tongkang dibakar.

Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menambahkan, tahun lalu panitia memang mencatat jumlah pengunjung Festival Bakar Tongkang tembus di angka 69 ribu orang. Dari jumlah tersebut, 40 ribu merupakan wiusatawan nusantara. Sementara sisanya yakni 29 ribu adalah wisatawan mancanegara.

Baca Juga :   MPD Imbau Stakeholder Bangun Pendidikan Karakter Anak

“Data tersebut dihitung berdasarkan jumlah hunian kamar hotel dan jalur pintu masuk transportasi. Setiap tahun memang selalu ada peningkatan. Kita pun berharap tahun ini terjadi lonjakan kunjungan wisatawan. Harus di atas 70 ribu pengunjung,” jelasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, Festival Bakar Tongkang selalu digelar secara meriah dan totalitas. Replika kapal dapat berukuran hingga 8,5 meter, lebar 1,7 meter dan berat mencapai 400 kg. Kapal akan disimpan selama satu malam di Kuil Eng Hok King, diberkati, dan kemudian dibawa dalam prosesi melalui kota ke situs di mana akan dibakar.

“Prosesi Tongkang juga melibatkan atraksi Tan Ki. Sejumlah orang menunjukkan kemampuan fisik mereka dengan menusuk diri dengan pisau atau tombak tajam. Namun, aksi tersebut tidak melukai meskipun senjata yang digunakan tajam. Aksi ini agak mirip dengan tradisi Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat,” kata Menteri Terbaik Asia Pasifik ini.

Mantan Dirut Telkom tersebut berujar, Festival Bakar Tongkang sangat berpotensi menarik wisatawan mancanegara. Khususnya wisman asal Tiongkok maupun warga keturunan yang sudah bermukin di Indonesia. Dari tahun ke tahun, festival ini selalu meriah dan mendapat sambutan luar biasa dari warga setempat maupun pendatang.

Dijelaskanya, Festival Bakar Tongkang adalah event pariwisata nasional yang rutin digelar setiap tahun di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Festival ini telah masuk dalam 10 besar 100 Calendar of Events Pariwisata 2019.

“Kami pun berharap tahun 2019 ini bisa terjadi lonjakan kunjungan wisatawan. Harus di atas 70 ribu pengunjung,” pungkasnya.

Ritual Bakar Tongkang adalah acara budaya yang dilakukan untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke Bagansiapiapi pada tahun 1820 silam. Melalui ritual ini, masyarakat Tionghoa juga berjanji untuk mengembangkan diri di kota yang punya julukan Hong Kong Van Andalas.

Baca Juga :   Hari ini CSIS Rilis hasil Survei Jokowi Ungguli Parbowo 18,1 Persen

Sementara, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan, festival Bakar Tongkang sangat berpotensi menarik wisatawan mancanegara. Khususnya wisman asal Tiongkok maupun warga keturunan yang sudah bermukim di Indonesia.

“Dari tahun ke tahun, festival ini selalu meriah dan mendapat sambutan luar biasa dari warga setempat maupun pendatang,” tutup Menpar Arief Yahya.(L Marpaung)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Ragam

Kecelakaan APV di Tol Jagorawi Tewaskan Tiga Orang

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Kecelakaan yang terjadi di Jalan Tol Jagorawi Km 36 arah Jakarta, Minggu (15/9/2019), sekitar pukul 08.30 WIB menelan korban jiwa.

Dalam peristiwa itu, tiga orang penumpang Minibus Suzuki APV tewas, dan tiga lainnya luka berat.

Kabar tersebut sebagaimana disampaikan Kasat Lantas Polres Bogor, AKP Fadli Amri saat dikonfirmasi.

Menurut dia, hasil penyelidikan sementara penyebab kecelakaan akibat kendaraan APV warna hitam itu mengalami pecah ban belakang sebelah kanan, sehingga mobil oleng kemudian terguling.

“Informasi sementara jumlah korban yang meninggal dunia ada 3 orang. 3 orang luka berat,” kata Fadli.

Ketiga jasad korban sudah dibawa ke RSUD Ciawi, sedangkan untuk 3 orang yang luka berat dievakuasi ke Rumah Sakit EMC Sentul

Saat ini, jalur tol Jagorawi KM 36 sudah aman dan dapat dilintasi kendaraan. Bangkai kendaraan pun sudah dievakuasi ke Unit Laka Lantas Ciawi.

Dari video rekaman yang tersebar di media sosial, para penumpang mobil berplat nomor F 1196 FH tersebut terpental keluar hingga bergelimpangan di badan jalan tol. [ipg]

Baca Juga :   PLN dan Menteri BUMN Dituntut Ganti Rugi Rp 40 Triliun
Continue Reading

Ragam

Anies Klaim Perluasan Ganjil Genap Berefek Positif

Published

on

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid baswedan / Realitarakyat.com

Jakarta, Realitarakyat.com – Kebijakan pembatasan kendaraan bermotor lewat plat nomor kendaraan berdasarkan angka (ganjil genap), yang sejak Senin lalu diperluas, sudah memiliki efek positif.

Demikian klaim Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang juga mengaku perluasan aturan ganjil genap berdampak pada peningkatan pengguna transportasi umum.

“Oh iya tentu efektif dampaknya. Paling sederhana lihat statistik yang menunjukan perubahan positif. Jumlah penumpang transportasi umum meningkat sampai satu juta kemarin,” kata Anies.

“Itu artinya masyarakat kita memang berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Kita ingin ini bertahan terus, kalo itu bisa bertahan terus, maka insyaAllah kondisi kemacetan di Jakarta akan menurun.”

Sementara terkait polusi udara, ia menyebut hal itu dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi. Sehingga ia tak bisa menjamin kualitas polusi udara DKI Jakarta akan membaik.

“Begini, polusi udara itu faktornya banyak. Bahkan di pagi hari (dini hari) tidak ada lalu lintas pun polusi udara bisa tinggi, padahal harusnya kosong,” kata Anies.

Menurut dia, dalam mengukur dan menilai kualitas polusi udara, termasuk di Jakarta juga, tak bisa dalam satu waktu saja.

“Mengukur polusi udara itu cukup unik. Jadi kalau mengukur itu bukan hanya satu waktu, jam sekian kemudian dikatakan baik-buruk, itu rata-ratanya,” ujarnya.

Sebelumnya, Anies mengeluarkan Instruksi Gubernur nomor 66 tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. Salah satu instruksinya ialah melakukan perluasan kawasan ganjil genap di Ibukota.

Perluasan ganjil genap dengan disertai penindakan, telah berlaku pada 9 September 2019 lalu di 25 ruas jalan.

Ganjil genap diterapkan dua sesi yakni pagi pukul 06:00-10:00 WIB dan petang pada pukul 16:00-21:00 WIB, kecuali Sabtu-Minggu serta hari libur nasional. [ipg]

Baca Juga :   Ini Trik Wanita Lumpuhkan Pria Pasangannya Saat Bertengkar
Continue Reading

Ragam

HAM Indonesia Kutuk Aksi Premanisme Oknum KPK

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Aksi protes yang digelar oleh Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I) di depan Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (13/9/2019), berjalan sesuai rencana.

Demikian disampaikan Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia, Asep Irama, dalam keterangan kepada redaksi.

Massa aksi yang berjumlah sekira 500 orang dengan satu mobil komando tertib tiba di lokasi sekira pukul 01.45 WIB. Sebagaimana lazimnya unjuk rasa, kata Asep, koordinator lapangan dan koordinator nasional HAM-I melakukan orasi bergiliran. Orasi yang disampaikan memuat sejumlah poin tuntutan. Semuanya berjalan normal dan kondusif.

Dalam orasi, HAM-I mendukung dan mengapresiasi DPR untuk merumuskan Revisi Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam kajian komprehensif, Revisi UU KPK samasekali tidak ada tendensi mengamputasi dan melemahkan lembaga antirasuah, tetapi justru menguatkan.

“Kemudian, HAM-I juga mengucapkan selamat atas dipilihnya Firli Bahuri sebagai Ketua beserta empat komisioner KPK 2019-2023,” kata dia.

Dalam poin tuntutan lain yang kemudian menjadi musabab aksi berjalan ricuh adalah meminta KPK mencopot kain hitam yang menutupi logo KPK. HAM-I, kata dia, meminta secara baik-baik kepada pihak KPK untuk menurunkan kain hitam yang menutupi logo KPK tersebut.

“Pasalnya, dalam hemat kami, sebagai lembaga pemerintah yang dibiayai oleh rakyat, Wadah Pegawai KPK tidak berhak ‘mensabotase’ KPK dengan menutupi atribut lembaga rakyat tersebut,” kata dia.

Menutupi logo KPK dengan kain hitam yang dilakukan WP KPK justru kelihatan tidak etik. Setelah polemik UU KPK dan seleksi Capim KPK, usaha untuk menutupi logo KPK dengan kain hitam oleh WP KPK sendiri hanya bertendensi politis.

“Biarkan logo KPK dilihat publik. KPK tidak pernah mati hanya karena polemik; KPK akan tetap menjadi kawahcandradimuka pemberantasan tindak rasuah di Indonesia. Kenapa harus ditutupi?” kata Asep.

Baca Juga :   Akibat Tiket Dalam Negri Mahal, Masyarakat Milih Weekend ke Luar Negri

Perwakilan KPK, lanjutnya, mestinya menemui massa protes di luar gedung yang dijaga ketat aparat kepolisian. Protes ini mesti tersalurkan secara baik-baik melalui komunikasi antar muka. Namun, permintaan dan tuntatan HAM-I beserta sejumlah massa aksi tidak ‘diindahkan’ oleh WP KPK. Karena itu, massa mulai merengsek ke depan, terjadi aksi hadang-hadangan dengan pihak kepolisian.

Suasana aksi, lanjutnya, terpantau makin memanas. HAM-I lalu mengutus 10 orang perwakilan dari massa untuk masuk ke ruang lobi gedung KPK untuk mencopot kain hitam yang menutupi logo KPK tersebut. Keputusan ini diambil mengingat tidak ada respons baik atas permintaan dan tuntutan massa aksi kepada KPK.

“Karena itu, 10 orang tersebut bukan samasekali massa penyusup sebagaimana diberitakan di beberapa media.”

Namun demikian, HAM-I sangat menyesalkan praktik premanisme yang dilakukan oleh beberapa oknum KPK kepada massa aksi, terutama 10 orang yang hendak mencopot kain hitam tersebut. Dalam pantauan HAM-I yang memang terlibat dan ada di lapangan, oknum KPK sengaja memprovokasi, menyulut amarah, bahkan melakukan tindakan kekerasan dengan memukuli massa aksi. Suasana pun menjadi chaos, rusuh tak bisa dikendali.

“Aparat kepolisian kemudian mengamankan beberapa dari massa aksi yang tersulut emosi. Gas air mata ditembaki berkali-kali. Kemelut tersulut dan sempat terjadi aksi saling lempar antar massa dan polisi. Semua kejadian ini susah dikendali,” kata Asep.

Atas kejadian itu, HAM-I mengambil sikap dengan mengutuk keras aksi premanisme yang dilakukan oleh oknum KPK. Kemudian, meminta KPK bertanggungjawab atas kejadian ricuh tersebut, dan HAM-I akan menempuh jalur hukum dan meminta polisi menangkap oknum KPK yang merusuh, memprovokasi, melakukan aksi kekerasan.

“Meminta pihak kepolisian untuk menyita rekaman kamera CCTV di gedung KPK sebagai bukti premanisme oknum KPK. Meminta media massa tidak menuliskan kronologi dan fakta yang keliru. Mendesak KPK segera menurunkan kain hitam yang menutupi logo KPK sebagai simbol negara,” kata dia.

Baca Juga :   Kompor Meleduk! Warteg, Warkop, Pabrik Hingga Tujuh Kendaraan Terbakar

Bila tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi, HAM-I akan kembali melakukan aksi di depan gedung KPK dengan jumlah massa lebih banyak. [ipg]

Continue Reading
Loading…