Connect with us

Ragam

Polisi Ungkap Otak Kerusuhan 21 – 22 Mei Adalah Kivlan Zen

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com – Pada Selasa (11/6/2019) pukul 14.00 WIB, Polri mengungkap tokoh-tokoh yang diduga sebagai dalang kerusuhan 21-22 Mei 2019 di beberapa titik di Jakarta.

Konferensi pers dilakukan oleh Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal M Iqbal dan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal Sisriadi.

Dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dari Bukti pendukung, Otak Kerusuhan 21 -22 Mei tersebut semua mengarah kepada Kivlan Zen.

Dimana dari pernyataan saksi dan didukung Bukti lainnya mantan Kepala Staf Kostrad Mayor Jendral TNI (Purn) Kivlan Zen disebut-sebut sebagai salah satu dalang kerusuhan 22 Mei di sekitar gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta. Kivlan juga disebut sebagai otak di balik rencana pembunuhan empat jendral serta direktur lembaga survei Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Kivlan sejak 27 Mei sudah ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus makar dan senjata api ilegal serta ditahan di Rutan Pomdam Jaya, Guntur, Jakarta. Penetapan tersangka ini dilakukan sebelum kepolisian membongkar andil Kivlan dalam rencana pembunuhan dan kerusuhan pada 21-22 Mei.

Penetapan tersangka dan dugaan menjadi dalang ini bukan satu-satunya jejak kontroversial sang jenderal. Nyatanya, tak hanya kali ini Kivlan dianggap membuat kericuhan. Beberapa kali, pria kelahiran Pangsa, Aceh, 74 tahun silam ini, dikaitkan dengan beberapa kasus.

Meski tak disebutkan secara gamblang, Kivlan pernah dikait-kaitkan dengan kerusuhan Ambon, Maluku yang terjadi pada 1999. Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah menyebut inisial ‘Mayjen K’ sebagai dalang kerusuhan Ambon.

Alih-alih mengungkap identitas secara gamblang, Gus Dur kala itu malah menjelaskan ‘Mayjen K’ sebagai ‘Mayjen Kunyuk’.

Cerita ini juga tertuang dalam buku ‘Ge-geran bersama Gus Dur’ (2010). Gus Dur yang masih menjadi Ketua PBNU menyebut ada anggota TNI berpangkat Mayor Jendral berinisial K yang menjadi dalang kerusuhan Ambon hingga Poso.

Baca Juga :   Mahyudin Belum Terima SK Pengunduran Diri

Kala itu, Kivlan juga tersulut emosi meski Gus Dur tak pernah gamblang menyebut namanya. Kivlan langsung mendatangi Gus Dur dan meminta penjelasan soal maksud dari penyebutan ‘Mayjen K’.

Aksi 411

Kivlan juga sempat tersangkut dengan salah satu aksi untuk melengserkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yakni Aksi 411. Saat itu Ahok disangkakan dalam kasus penodaan agama lantaran ucapannya terkait surat Al Maidah ayat 51.

Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu menyampaikan beberapa pernyataan kontroversial saat menjadi pembicara di beberapa daerah setelah gelaran aksi 411. Salah satunya pernyataan terkait bahaya komunis dan PKI yang berkaitan dengan kasus Ahok dan sejumlah partai di Indonesia.

Sumpah Pocong

Tak hanya itu, Kivlan juga menuduh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto sebagai dalang di balik kerusuhan 1998 saat menjadi pembicara dalam acara ‘Tokoh Bicara 98’ di Jakarta, Februari.

Pernyataan Kivlan pun ditanggapi Wiranto. Dia menyebut Kivlan keluar dari fakta yang terjadi sesungguhnya saat 1998. Wiranto pun menantang Kivlan untuk melakukan sumpah pocong.

Bisnis Penggalangan Demonstran

Soal bisnis penggalangan massa di medio 1998 silam ini pernah diungkapkan oleh Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief. Kala itu Andi mengatakan bahwa Kivlan merupakan komandan dari Bisnis Pamswakarsa bentukan ABRI. Kivlan mendapat keuntungan ketika Pamswakarsa membunuh puluhan orang.

Makar dan Senpi Ilegal

Terakhir, Kivlan tersangkut kasus makar. Pada 10 Mei, polisi melakukan pencegahan perjalanan ke luar negeri terhadap Kivlan saat ia berada di Bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke Brunei Darussalam.

Dia pun gagal terbang dan digelandang ke polisi hingga akhirnya ditetapkan sebagai tersangka lalu ditahan.

Baca Juga :   Facebook Tutup 2,19 Miliar Akun Fiktif seluruh Dunia

Fakta Dari BAP Kepolisian

Di konpers itu, kepolisian juga menampilkan video testimoni dari empat tersangka eksekutor.

Keempat tersangka itu mengaku diperintahkan oleh mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen, untuk membunuh empat tokoh nasional dan Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya.

Adapun keempat tokoh nasional yang jadi target pembunuhan adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere.

Selain itu, terungkap juga bahwa keempat eksekutor itu menerima sejumlah uang dari Kivlan Zen.

Uang itu untuk pengadaan senjata api dan operasional melakukan survei terhadap para target pembunuhan.

Terstimoni pertama diucapkan oleh HK alias Iwan, yang berperan sebagai leader dalam rencana pembunuhan empat tokoh nasional tersebut.

HK dikabarkan merupakan mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

“Senior saya yang saya hormati, komandan saya, senior saya, Bapak Kivlan Zen. Pada Maret saya diberi uang Rp 150 juta untuk beli senjata,” ucap HK alias Iwan.

Pada video kedua, giliran Tajudin yang memberikan testimoni terkait rencana pembunuhan empat tokoh tersebut.

Tajudin merupakan mantan prajurit TNI Angkatan Laut. Ia mengakui diberi uang sebanyak Rp 55 juta oleh Kivlan Zen untuk membunuh tokoh nasional.

“Saya mendapat perintah dari Bapak purnawirawan Kivlan Zen untuk membunuh empat orang. Saya diberikan uang total Rp 55 juta,” ucap Tajudin.

Setelah itu, giliran Irfansyah yang membuat pengakuan. Irfansyah mengaku pernah bertugas di Linud 100 Medan, Sumatera Utara.

Irfansyah mengaku diajak bertemu oleh Kivlan Zen di kawasan Pondok Indah.

“Kami bertemu di Pondok Indah sambil makan dan minum kopi. Kemudian datang Pak Kivlan Zen. Saya masuk ke dalam mobil Kivlan,” kata Irfansyah.

Baca Juga :   Gereja Katedral Gelar Misa Jumat Agung Dengan Tema "bangsa hitmat bangsa bermartabat,”

Di dalam mobil itu, Irfansyah mendapat perintah untuk melakukan survei ke rumah Yunarto, bos lembaga survei yang masuk dalam target pembunuhan.

“Coba kamu cek alamat ini, nanti kamu foto dan videokan. Nanti saya kasih uang operasional Rp 5 juta, cukuplah untuk makan dan kopi,” ucap Irfansyah menirukan perkataan Kivlan Zen.

Menurut Irfansyah, Kivlan Zen juga menjanjikan untuk tanggungan biaya hidup anak dan istri Irfansyah jika misi pembunuhan itu berhasil dilaksanakan.

“Siapa yang bisa eksekusi nanti saya jamin anak dan istrinya,” kata Kivlan Zen ditirukan Irfansyah.

Setelah mendapat perintah itu, Irfansyah kemudian keluar dari dalam mobil Kivlan.

Selanjutnya, Kivlan menyuruh ajudannya memberikan uang operasional sebesar Rp 5 juta kepada Irfansyah.

“Saya dan Yusuf kemudian survei ke rumah yang dituju, alamat Pak Yunarto. Pada 21 Maret, saya ditangkap kepolisian berpakaian preman,” ujar Irfansyah.

Ade mengungkapkan, Kivlan Zen juga memberi perintah terhadap HK alias Iwan untuk mencari eksekutor. Kemudian menyerahkan Rp 150 juta untuk membeli senjata api.

Setelah mendapatkan senpi, Kivlan masih menyuruh HK untuk mencari 1 senpi lagi.

“Alasannya, senpi yang dibeli HK alias Iwan dianggap belum memenuhi syarat,” kata Ade.

Kemudian Kivlan Zen memberikan foto dan alamat target untuk dibunuh, yakni 4 tokoh nasional dan bos lembaga survei.

“Kivlan juga memberi Rp 5 juta kepada Irfansyah untuk survei lokasi rumah target,” imbuh Ade.

Selain itu, polisi juga menangkap HM di rumahnya.

Menurut Ade, tersangka HM memberikan uang Rp 60 juta kepada Iwan alias HK.

Sebesar Rp 10 juta untuk operasional, dan sisanya untuk melaksanakan unjuk rasa.

“Uang itu diterima langsung oleh HK alias Iwan,” kata Ade.(Iwan K/Willi)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
Loading...

#Trending