Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

Tunggu Vonis Hakim, Karen Pasrah pada Tuhan

Published

on

Jakarta,Realitarakyat.com. – Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan akan menjalani sidang vonis hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (10/6/2019).

Menjelang pembacaan putusan tersebut, Karen mengatakan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. “I don’t know what I need to hope for. Saya hanya bergantung sama yang di atas saja,” tegas Karen di Pengadilan Tipikor, Senin.

Namun, Karen tetap membantah dakwaan jaksa yang dituduhkan kepadanya. Dia yakin, dirinya adalah korban kriminalisasi atas suatu kebijakan korporasi.

Karena itu Karen khawatir kasusnya itu akan menjadi preseden buruk ke depan, khususnya bagi direksi yang menjabat di Pertamina. Juga akan berdampak buruk pada kemajuan PT Pertamina sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Jangan sampai direksi Pertamina meski tidak ada aliran dana, tidak ada niat jahat, semua untuk kebaikan Pertamina, tapi ujungnya dikriminalisasi seperti ini,” pungkas Karen.

Sebelumnya, Karen dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum. Juga dituntut membayar denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Selain itu, Karen juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp 284 miliar.

Menurut jaksa, uang pengganti harus dibayar dalam waktu satu bulan setelah putusan hakim berkekuatan hukum tetap. Apabila tidak dibayar, maka harta benda milik Karen akan disita dan dilelang.

Jika jumlah harta tidak mencukupi, maka akan diganti dengan pidana penjara selama 5 tahun. Dalam pertimbangan, jaksa menilai perbuatan Karen tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi. Perbuatan Karen dianggap menciderai tata kelola perusahaan yang benar.

Karen didakwa telah mengabaikan prosedur investasi yang berlaku di PT Pertamina dan ketentuan atau pedoman investasi lainnya dalam Participating Interest (PI) atas Lapangan atau Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.

Baca Juga :   DPR Apresiasi Polri Atasi Napi Teroris, Harus Ekstra Ketat

Karen dianggap memutuskan melakukan investasi PI di Blok BMG Australia tanpa melakukan pembahasan dan kajian terlebih dulu. Karen dinilai menyetujui PI tanpa adanya due diligence serta tanpa adanya analisa risiko yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan Sale Purchase Agreement (SPA).

Selain itu, menurut jaksa, penandatanganan itu tanpa persetujuan dari bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina. Menurut jaksa, perbuatan Karen itu telah memperkaya Roc Oil Company Ltd Australia. Kemudian, sesuai laporan perhitungan dari Kantor Akuntan Publik Drs Soewarno, perbuatan Karen telah merugikan negara Rp 568 miliar.(mm)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Hukum

Basaria Panjaitan Hormati Keputusan DPR Sahkan Revisi UU KPK

Published

on

Komisioner KPK, Basaria Panjaitan. (foto: ist)
Continue Reading

Nasional

Pimpinan KPK Terpilih Ingatkan Pegawainya Taat Aturan

Published

on

Continue Reading

Nasional

Optimalkan Pilkada Serentak 2020, Bawaslu Siapkan Perbawaslu

Published

on

Anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar
Continue Reading
Loading...




Loading…