Connect with us

Opini

SETIA DALAM PERKARA KECIL MEMASUKI PEMILU DEMOKRASI

Published

on

OLeh :Dr. Aksi Sinurat,SH.,M.Hum.

(Dosen Fakultas Hukum & PPs Undana)

 

 

 

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Injil Lukas, Pasal 16: 10).

Melihat fenomena politik propaganda yang akhir-akhir ini tensinya semakin meninggi dan kadang pelaku-pelakunya cenderung menempatkan kadar moral ke titik terendah sehinggaberimplikasipada persoalan yang semakin kompleks, kiranya dalam fase minggu tenang ini dapat meredupkan api kebencian dan menempatkan kejujuran dalam menyambut pesta demokrasi yang sesungguhnya. Bagi politikus yang terpasung dalam moral kerdil, yang selama inisuka memainkan intrik politik propaganda melalui modus penebaran kebencian dan hoax berbasiskan isu SARA,hendaknyalah mengalami kesadaran tinggi kembali kepangkuan ibu pertiwi atas nama cinta bangsa dan tanah air Indonesia.

Pemilihan Presiden dan pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Khususnya pemilihan Presiden dan anggota legislatif tahun ini, akan dilakukan secara serentak pada tanggal 17 April 2019 (besok).

Keberlangsungan Pemilu Presiden dan Legislatif ini merupakan bagian dan tanggung jawab bersama yang diberikan Tuhan kepada kita semua sebagai warga negara yang berdaulat. Umumnya yang berperan dan yang menjadi peserta pemilu yaitu partai-partai politik yang memberikan ‘aspirasi’ rakyat dan yang mengajukan calon-calon untuk dipilih rakyat dalam pemilihan dimaksud.

Dalam pemilu besok yang akan diselenggarakan secara serentak di seluruh nusantara, selaku warga dan umat Tuhan yang ikut mengambil bagian baik sebagai kandidat maupun sebagai peserta pemilih kiranya melalui opini ini diingatkan kembali bahwa keinginan menjadi pemenang baik sebagai Presiden/anggota legislatif maupun sebagai pengusung kemenangan semuanya menjadi sangat baik jika dapat memberikan kesejahteraan bagi kepentingan rakyat.

Stop Keserakahan

Penebaran ujaran kebencian dan hoax serta trik provokasi saling memfitnah satu dengan yang lain untuk membunuh karakter figur Pilpres dan figur Pilegyang terus berlangsung berperang melawan dan/atau memenangkan hoax baik melalui media konvensional (cetak), elektronik, maupun media sosial yang selama ini dijadikan sarana pemenangan demi memenuhi keserakahan sudah saatnya distop/diberhentikan dalam minggu tenang ini dan kembalilah ke jalan yang benar setia pada kejujuran.

“Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” (Injil Lukas, 16: 11). Tidak merupakan rahasia umum lagi bahwa saat ini orang berlomba-lomba ingin jadi pemenang yang berorientasi pada “Mamon”. “Mamon” berasal dari bahasa Aram “Mamona” yang artinya kekayaan atau keuntungan, yang secara praktis pemakaiannya mengacu ke dalam pemaknaan harta kekayaan atau uang (Lihat, Bahan Perenungan Perpulungan Jabu-Jabu, GBKP 2019).

Sebagaimana dalam topik opini ini, bahwa siapapun yang setia dalam perkara kecil, tentu ia juga akan setia dalam perkara yang besar. Menurut sumberNya, yang dimaksudkan dengan ‘setia dalam perkara kecil’ yakni berkenaan dengan harta kekayaan dunia, sedangkan makna ‘setia dalam perkara besar’ yakni berkenaan dengan kehidupan yang kekal (surgawi).

Sungguh sangat memprihatinkan dan sangat disayangkan masih tidak sedikit manusia yang hidup di alam demokrasi ini berada dalam keterkungkungan moral yang kerdil, sehingga sadar atau tidak sadar akal-budinya ditempatkan pada titik terendah demi mencapai tujuannya atau kelompoknya dalam sebuah ‘kompetisi’ yang saat ini dapat dimaknai dengan sebutan Pilpres atau Pileg.

Hal demikian mungkin dan akan serta dapat terjadi karena seseorang telah kehilangan peradaban untuk melihat dan menginginkan segala sesuatunya berorientasi pada harta kekayaan atau duit (perkara-perkara kecil), sebab banyak kalangan menganggap bahwa dalam hidup dan menjalani kehidupan ini tidak akan berarti dan tidak bermakna tanpa kepenuhanpundi-pundi, atau dengan kata lain, dalam zaman edan ini, konsepsi hidup dan kehidupan berorientasi pada harta benda atau duit yang banyak, sehingga orang-orang lebih takut kalau harta bendanya dirampas daripada tinggal di hotel pordeo. Oleh karena fanatisme yang picik, seseorang dapat menjadi pembenci, suka memfitnah, suka menaburkan ujaran kebencian dan hoax tanpa memperhitungkan perasaan dan harkat-martabat orang lain. Demi “mamon” seseorang tidak segan-segan dan tidak ragu-ragu mengingkari harkat dan martabatnya sebagai makhluk yang berakal budi dan bersusila (bermoral).

Kompetisi dalam Bingkai Moral
Naluri untuk meraih kemenangan dalam sebuah kompetisi termasuk dalam percaturan politik Pilpres dan Pileg merupakan fenomena yang sangat lazim dan manusiawi, sehingga setiap kandidat atau calon dengan berbagai upaya dan strategi berinisiatif menjadi yang terbaik di mata warga pemilih, bahkan demi menggapai terget kemenangan dimaksud para kontestan atau tim suksesnya atau para pendukung panatismenya kadang-kadang tak mampu mempertahankan peradaban kemanusiaannya sehingga segala cara dijadikan sebagai sesuatu yang halal. Demi ambisi kemenangan, manusia terkadang terkungkung dalam ahlak keburukan, sehingga tindakan-tindakan tak terpuji-pun dilakukan dalam bentuk curang, melakukan berbagai kebohongan(hoax), menyebarkan isu-isu negatif tentang SARA, saling menghujat, saling menghina, bahkan melakukan politik propaganda dengan cara-cara yang tidak beretika.

Calon pemimpin bangsa dan wakil rakyat yang baik diharapkan memiliki kemampuan untuk memenangkan sebuah kompetisi bukan karena politik propaganda atau bukan pula karena ke luar dari link kebenaran dan kejujuran, melainkan melalui suatu produk dari proses pengembangan moral dan spiritual kehidupan yang teruji dan pantas sebagai kandidat yang unggul, kredibel serta berintegritas.

Kandidat harus tiada dari rupa-rupa kecemaran, bebas dari skandal, bijaksana, jujur dan adil. Semua upaya-upaya untuk memenangkan kompetisi haruslah berada dalam bingkai moral. Moral berhubungan erat dengan ahlak kebaikan, sedangkan ahlak kebaikan berada di relung hati seseorang. Sementara itu, relung hati paling dalam sama dengan nurani, dan nurani seseorang tak terpisahkan dengan iman seseorang.

Oleh karena itu, maka setiap kandidat hendaknya bebas dari keserakahan, sehingga rakyat pemilih sebelum menentukan kandidat pilihannya hendaknya lebih dahulu jeli melihat rekam jejak dari kandidat tersebut, apa keunggulan atau keistimewaannya, serta apakah kandidat tersebut mempunyai visi-misi guna mengemban tugas mensejahterakan rakyat dan memajukan negeri? atau harus juga melihat jangan sampai si kandidat hanya berhasrat besar akan kekuasaan dan berorientasi pada “mamon”.

Sesungguhnya dalam kehidupan yang benar, baik secara moral maupun secara agama tidak ada larangan untuk mengumpulkan uang dan harta benda sebanyak-banyaknya bila dicari seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak bertentangan dengan hukum negara. Dalam peradaban yang pancasilais, kiranya masyarakat semakin sadar dan semakin dewasa untuk menyikapi keberlangsungan hidup dan kehidupan bangsa dan negara dengan arif dan bijaksana berbasiskan moral Pancasila. Masyarakat yang terdidik berlandaskan moral Pancasila akan dapat mengendalikan diri dan meredam sentimennya dengan berorientasi pada kehidupan kekal yang takut akan Tuhan. Selamat Paskah.****

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

#Trending